Loading...
HAM
Penulis: Sabar Subekti 11:09 WIB | Minggu, 14 November 2021

WHO: Blokade Sistematis di Tigray, Ethiopia, Membunuh Manusia

Direktur Jenderal WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus. (Foto: dok. Ist)

JENEWA, SATUHARAPAN.COM-Wilayah Tigray yang dilanda konflik di Ethiopia berada di bawah "blokade efektif", kata kepala Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), hari Jumat (12/11), memperingatkan bahwa orang-orang dapat mati kelaparan dan sekarat karena kurangnya akses ke obat-obatan.

"Orang-orang sekarat karena kekurangan pasokan (obat dan makanan)," kata Tedros Adhanom Ghebreyesus, yang juga berasal dari wilayah Tigray di Ethiopia, kepada wartawan dari kantor pusat badan kesehatan PBB di Jenewa.

WHO, katanya, "tidak dapat mengirim pasokan dan obat-obatan ke Tigray karena berada di bawah blokade, dan blokade itu sistematis".

Pemerintah Perdana Menteri Abiy Ahmed telah terkunci dalam perang selama setahun dengan Front Pembebasan Rakyat Tigray (TPLF), yang bergerak ke wilayah selatan dalam beberapa bulan terakhir dan tidak mengesampingkan kemungkinan mencapai di ibu kota, Addis Ababa.

TPLF menuntut diakhirinya apa yang digambarkan PBB sebagai blokade kemanusiaan de facto di Tigray, di mana ratusan ribu orang diyakini hidup dalam kondisi seperti kelaparan.

Tidak ada bantuan yang masuk ke wilayah itu melalui jalan darat sejak 18 Oktober, dan 364 truk terjebak di kota Afar "menunggu izin dari pihak berwenang untuk melanjutkan", kata PBB, hari Kamis (11/11) dalam laporan mingguan tentang situasi kemanusiaan.

Dalam situasi saat ini, kata Tedros, bantuan dari WHO dan organisasi bantuan lainnya ke wilayah tersebut telah menyusut menjadi "hampir tidak ada".

"Jadi tidak ada obat-obatan. Orang-orang sekarat. Tidak ada makanan. Orang-orang kelaparan. Tidak ada telekomunikasi. Mereka terisolasi dari belahan dunia lainnya. Tidak ada bahan bakar. Tidak ada uang tunai."

Kepala WHO itu juga menyesalkan bagaimana orang Tigrayan di seluruh negeri "diprofilkan dan ditangkap secara massal, ribuan (jumlahnya). Ini terang-terangan dan terbuka."

Pekan lalu pemerintah memberlakukan keadaan darurat nasional, memicu gelombang penangkapan massal baru yang semakin melumpuhkan respons bantuan.

Sekitar 22 staf PBB telah ditahan dalam penggerebekan yang menurut kelompok hak asasi manusia menargetkan etnis Tigrayan, dan PBB juga telah membunyikan alarm tentang 72 pengemudi yang dikontrak oleh Program Pangan Dunia (WFP) yang telah ditahan di Afar.

Pemerintah menggambarkan penangkapan tersebut sebagai bagian dari upaya yang sah untuk membasmi TPLF. (AFP)

Editor : Sabar Subekti


Kampus Maranatha
Gaia Cosmo Hotel
BPK Penabur
Zuri Hotel
Back to Home