Loading...
SAINS
Penulis: Sabar Subekti 08:29 WIB | Rabu, 31 Maret 2021

WHO Minta Penyelidikan Lebih Dalam Asal-usul COVID-19

Petugas keamanan berjaga-jaga di luar Institut Virologi Wuhan, selama kunjungan tim Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) yang bertugas menyelidiki asal-usul penyakit virus corona (COVID-19), di Wuhan, Provinsi Hubei, China pada 3 Februari 2021. (Foto: dok. Reuters) )

JENEWA, SATUHARAPAN.COM-Direktur Jenderal Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pada Selasa (30/3) meminta penyelidikan asal-usul pandemi COVID-19 untuk lebih dalam teori tentang kemungkinan insiden kebocoran laboratorium.

Dirjen WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus, menyambut baik laporan yang telah lama tertunda dari misi internasional yang ditugaskan untuk menyelidiki bagaimana virus yang menyebabkan COVID-19 pertama kali melompat ke manusia, dengan mengatakan hasil itu "meningkatkan pemahaman kita dengan cara yang penting".

Namun dalam sebuah pengarahan kepada negara-negara anggota, dia menekankan hal itu juga “menimbulkan pertanyaan lebih lanjut yang perlu ditangani dengan studi lebih lanjut.”

Laporan tersebut, yang disusun oleh para ahli internasional yang ditunjuk WHO dan mitranya dari China, tidak membuat kesimpulan yang pasti, tetapi membuat peringkat atas berbagai hipotesis menurut seberapa besar kemungkinan itu terjadi, menurut perkiraan demikian.

Laporan tersebut, yang dilihat oleh AFP menjelang publikasi hari Selasa (30/3), telah menilai hipotesis kebocoran laboratorium sebagai "sangat tidak mungkin", mengatakan virus COVID-19 kemungkinan besar dari virus telah berpindah dari kelelawar ke manusia melalui hewan perantara.

Tapi Tedros mendesak mereka untuk melihat lebih dalam tentang teori kebocoran laboratorium. “Meskipun tim telah menyimpulkan bahwa kebocoran laboratorium adalah hipotesis yang paling kecil kemungkinannya, hal ini memerlukan penyelidikan lebih lanjut, berpotensi dengan misi tambahan yang melibatkan ahli spesialis, yang siap saya gunakan,” katanya.

Kepala WHO juga menyuarakan keprihatinan bahwa tim ahli internasional telah “mengungkapkan kesulitan yang mereka hadapi dalam mengakses data asli” selama berada di China.

“Saya berharap studi kolaboratif di masa depan mencakup berbagi data yang lebih tepat waktu dan komprehensif,” katanya. (AFP)

Editor : Sabar Subekti


BPK Penabur
Gaia Cosmo Hotel
Kampus Maranatha
Back to Home