Loading...
SAINS
Penulis: Sabar Subekti 06:41 WIB | Rabu, 02 September 2020

WMO: Suhu di Kutub Utara Naik Dua Kali Lebih Cepat dari Rata-rata Global

Foto yang menunjukkan suhu pada kaswasan Arktik mencapai 38 derajat Celcius pada 20 Juni lalu. (Foto: WMO)

JENEWA, SATUHARAPAN.COM-Badan meteorologi Perserikatan Bangsa-bangsa mengatakan musim panas tahun ini akan meninggalkan "luka yang dalam" di cryosphere, bagian-bagian planet yang ditutupi es (membeku), di tengah gelombang panas di Arktik, menyusutnya es laut dan runtuhnya lapisan es Kanada yang terpenting.

Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) mengatakan pada hari Selasa (1/9) bahwa suhu di Kutub Utara naik dua kali lebih cepat dari rata-rata global. Hal itu memprovokasi apa yang disebut juru bicara, Clare Nullis, sebagai "lingkaran setan."

“Penurunan cepat es laut pada gilirannya berkontribusi pada lebih banyak pemanasan, dan lingkaran terus berlanjut dan konsekuensinya tidak tetap di Kutub Utara,” kata Nullis dalam briefing reguler PBB di Jenewa.

Badan cuaca itu mengatakan dalam sebuah pernyataan bahwa banyak rekor suhu baru telah dicatat dalam beberapa bulan terakhir, termasuk di kota Verkhoyansk, Rusia. Kota yang terletak di Siberia di atas garis Lingkaran Arktik ini mencapai suhu 38 derajat Celcius (100 F) pada 20 Juni.

“Apa yang kami lihat di Siberia tahun ini sangat buruk, sangat parah,” kata Nullis. Dia mencatat gelombang panas di seluruh Kutub Utara, kebakaran hutan yang memecahkan rekor di Siberia, batas es laut yang hampir mencapai rekor terendah, dan runtuhnya salah satu lapisan es Kanada yang masih utuh.

"Musim panas tahun 2020 akan meninggalkan luka yang dalam di cryospher," kata pernyataan WMO, yang menunjuk pada "tren yang mengkhawatirkan" dari banjir akibat semburan danau gletser yang menjadi "faktor peningkatan risiko tinggi di banyak bagian dunia. "

Pada akhir Juli, bagian es Milne Kanada seluas 81 kilometer persegi (30 mil persegi) terputus, mengurangi total luas lapisan es sebesar 43%, kata badan cuaca tersebut.

Konsekuensinya termasuk hilangnya ekosistem langka, kemungkinan percepatan gletser yang meluncur ke laut dan berkontribusi pada kenaikan permukaan laut, dan penciptaan "pulau es yang mengapung," katanya.

WMO sedang bersiap untuk merilis pada 9 September sebuah laporan tentang dampak perubahan iklim pada cryosphere.

Editor : Sabar Subekti

Kampus Maranatha
BPK Penabur
Zuri Hotel
Back to Home