Loading...
SAINS
Penulis: Dewasasri M Wardani 09:37 WIB | Rabu, 23 November 2016

WWF Imbau Penduduk Urban Kurangi Jejak Ekologi

Ilustrasi: Contoh produk ramah lingkungan dengan melihat kemasannya. (Foto: twitter.com/EHSurabaya)

JAKARTA, SATUHARAPAN.COM -  World Wide Fund for Nature (WWF) dalam "Living Planet Report" (LPR) 2016, menyebutkan konsumsi pangan dan energi terkonsentrasi di wilayah perkotaan, karena itu WWF mengimbau penduduk urban mengurangi jejak ekologinya.

"Hal yang sering terlupakan oleh kita sebagai konsumen yang hidup di perkotaan dengan segala kemudahannya adalah besarnya ketergantungan kita terhadap alam. Satu hal yang perlu selalu kita ingat bahwa kita hanya memiliki satu planet Bumi dengan kekayaan alamnya yang terbatas," kata Plt CEO WWF-Indonesia, Benja Mambai, dalam keterangan tertulisnya yang diterima di Jakarta, Selasa (22/11).

Secara khusus, ia mengatakan LPR 2016, memberikan perhatian pada sistem pangan dan energi sebagai dua sistem yang paling mempengaruhi kondisi Bumi saat ini. Konsumsi pangan dan energi terkonsentrasi di wilayah perkotaan yang diindikasikan dari tingginya emisi gas rumah kaca yang berasal dari aktivitas perkotaan, yaitu sebesar 70 persen.

“Tidak mengherankan, jika mengingat 54 persen populasi dunia saat ini hidup di kota dan 80 persen daya beli di tingkat global terkonsentrasi di perkotaan,“ kata dia.

Menurut dia, perubahan gaya konsumsi dapat dimulai dengan berhemat dan menjadi konsumen yang lebih kritis terhadap berbagai produk yang dikonsumsi sehari-hari. Konsumen perlu proaktif mencari tahu asal-usul produk sebelum mengkonsumsinya, untuk menghindari produk-produk yang diproduksi dengan cara-cara yang merusak lingkungan, seperti pembakaran hutan, penebangan ilegal, penangkapan ikan dengan bom atau sianida serta penggunaan bahan-bahan kimia, yang berbahaya untuk lingkungan dan kesehatan manusia.

"Sistem pangan dunia yang berlaku saat ini, memungkinkan para pelaku industri dengan penguasaan besar terhadap sumber daya alam dan kapital, mengabaikan faktor lingkungan dan sosial dalam pola produksi dan distribusi pangan, sehingga mengakibatkan peningkatan jejak ekologi yang hampir tidak terkendali serta terjadinya ketimpangan ekonomi,” kata Social Development Strategy Leader WWF-Indonesia Cristina Eghenter.

Dia menambahkan, memilih produk berekolabel merupakan salah satu cara yang paling efektif dan efisien untuk menjamin produk yang dikonsumsi memiliki dampak minimum terhadap kelestarian lingkungan. Konsumen juga perlu menggunakan kekuatannya (consumer power) untuk meminta produsen dan pedagang (ritel) untuk menyediakan produk berekolabel, produk-produk yang tidak berkontribusi pada perusakan lingkungan, termasuk menyediakan informasi yang jelas dan dapat diandalkan mengenai asal usul produk dan gaya konsumsi yang ramah lingkungan.  

Sedangkan di sektor transportasi, ia mengatakan jejak ekologi penduduk urban sangat signifikan seiring dengan peningkatan jumlah penggunaan kendaraan pribadi. Data Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral tahun 2012 mencatat penggunaan energi di sektor transportasi sebesar 20 persen dari konsumsi energi nasional, yang 97 persennya merupakan transportasi menggunakan bahan bakar fosil.

Pada tahun yang sama sektor transportasi menduduki peringkat ketiga penghasil gas rumah kaca (GRK) dari keseluruhan emisi sektor energi nasional, yaitu sebesar 28 persen. Ia mengatakan dia antara seluruh moda transportasi, moda transportasi darat mendominasi pangsa penghasil emisi gas rumah kaca (GRK), yaitu sebesar 91 persen dari total emisi di sektor transportasi.

“Kehidupan urban yang sarat dengan teknologi dan informasi, menghadirkan situasi yang amat kondusif bagi konsumen, untuk membuat perubahan gaya hidup ini. Terlebih dominasi kelas menengah yang kuat di kawasan urban pada umumnya menjadikan tantangan mengubah gaya konsumsi ini bukan sesuatu yang mustahil,“ kata dia.

Living Planet Report 2016 (LPR 2016), juga memaparkan status terbaru mengenai keanekaragaman hayati di atas bumi. Dalam laporan ini, Living Planet Index (LPI) masih menunjukkan tren penurunan tingkat keanekaragaman hayati dunia, seperti menurunnya jumlah populasi sejumlah spesies vertebrata sebesar 58 persen dalam kurun waktu kurang lebih 40 tahun sejak tahun 1970 hingga 2012. (Ant)


BPK Penabur
Gaia Cosmo Hotel
Kampus Maranatha
Edu Fair
Back to Home