Loading...
BUDAYA
Penulis: Sotyati 12:00 WIB | Senin, 09 Mei 2016

Yogie Pratama Olah Tenun Baduy untuk Busana Modern

Yogie Pratama Olah Tenun Baduy untuk Busana Modern
Desainer Yogie Pratama memamerkan koleksi barunya, "Indigo", 4 Mei 2016, di ajang Fashion Festival, Jakarta Fashion and Food Festival 2016, mengangkat tenun Baduy, melalui kerja sama dengan Dekranasda Lebak. (Foto: Dok JFFF 2016)
Yogie Pratama Olah Tenun Baduy untuk Busana Modern
"Indigo", koleksi gaun pendek Yogie Pratama.
Yogie Pratama Olah Tenun Baduy untuk Busana Modern
"Indigo", koleksi gaun panjang Yogie Pratama.

SATUHARAPAN.COM –  Sama-sama kain kekayaan Nusantara, tenun Baduy tidak seberuntung tenun Troso Jepara, apalagi tenun Lagosi Makassar. Menyebut tenun Baduy, ingatan yang melekat hanya pada warna putih dan biru, seperti pakaian sehari-hari yang dikenakan warga Baduy, “urang Kanekes”, yang mendiami wilayah Pegunungan Kendeng di Desa Kanekes, Kecamatan Leuwidamar, Kabupaten Lebak, Jawa Barat.  

Bekerja sama dengan Dekranasda Lebak, desainer Yogie Pratama menghadirkan koleksi baru “Indigo”, dengan mengangkat kain Baduy. Peragaan busana “Indigo” menjadi penutup pergelaran hari pertama pesta mode Fashion Festival dari rangkaian Jakarta Fashion and Food Festival (JFFF) 2016, pada 4 Mei malam lalu.     

“Indigo”, nama yang merujuk pada warna yang dipilih dalam proses pembuatan kain tenun itu, di tangan Yogie hadir dalam wujud koleksi elegan. Desainer lulusan Esmod Paris itu mengemas kain tradisional Baduy dalam rangkaian elemen fashion yang glamour dan stylish, dalam bingkai gaya gaun malam dan busana koktail yang berdaya pakai tinggi.

Desainer yang dikenal dengan karya koleksinya bergaris tailored yang bersih dan tegas itu, menginspirasi pencinta fashion bahwa kain Baduy pun dapat "tampil beda" melalui koleksi barunya yang ia hadirkan dalam siluet-siluet klasik khasnya, dengan detail mengikuti tren masa kini, mulai dari H-line, Bell and Long Sleeve, Semi Mermaid, Teknik Tekuk, Big Bow, Big Ruffle, Detail Ruffle Bertumpuk, dalam gaya feminin dan maskulin.

Yogie juga mengawinkan kain Baduy dengan material pendukung seperti renda, lace, net, dan sifon. “Saya ingin mengangkat tenun Baduy ke panggung mode hingga ke gaya hidup modern yang glamour. Ini akan membuat warisan bangsa ini akan lebih dikenal dan membalut wanita dengan bercita rasa global,” kata desainer fashion yang bergabung dengan Ikatan Perancang Mode Indonesia itu dalam siaran pers yang dibagikan.

Deputy Chairman Jakarta Fashion and Food Festival, Cut Meutia, kepada satuharapan.com mengatakan pemilihan untuk mengangkat kain negeri itu tidak lepas dari komitmen JFFF menjadi event yang tidak hanya ditujukan bagi pencinta fashion dan penikmat kuliner di Inodnesia, namun juga mampu mengangkat industri usaha kecil dan menengah serta perajin lokal yang menghasilkan produk berkualitas dari kedua usaha kreatif tersebut agar mampu diterima secara global.

Tenun Baduy

Berbeda dengan wastra tradisional lain, tidak banyak desainer yang melirik untuk mengangkat kain Baduy dalam karya desainnya. Kain Baduy mulai mendapat perhatian luas ketika Cita Tenun Indonesia, perkumpulan pencinta tenun, menggagas program pelestarian, pengembangan dan pembinaan, serta pemasaran tenun Indonesia.

Cita Tenun Indonesia mengutus desainer Era Soekamto dan tim untuk mengangkatnya dalam karya desain. Desainer Priyo Oktaviano, dalam pergelaran JFFF 2015, juga menggunakan kain tenun buatan suku Baduy ketika mempersembahkan “Gamematic of Baduy”, dengan memperlihatkan garis geometris yang terinspirasi dari ragam hias lingkungan alam yang ditemukan di Baduy.

Desainer lain yang pernah mengangkat tenun Baduy adalah Eddy Betty, ketika memamerkan koleksinya dalam Bazaar Fashion Festival 2014. 

Kain tenun adalah karya seni budaya yang menjadi ciri khas tradisional masyarakatnya. Suku Baduy memiliki kain tenun dengan warna putih dan biru tua sebagai ciri khasnya. Teksturnya yang kasar dan motif sederhana menjadi ciri khas lain kain yang dibuat dengan cara tradisional ini oleh kaum wanitanya ini.

Kain tradisional ini digunakan dalam pembuatan baju adat, terutama suku Baduy Dalam yang masih memegang teguh aturan adat. Pakaian harus dibuat dari kapas dan pembuatannya tidak boleh menggunakan mesin jahit.

Pakaian suku Baduy Dalam didominasi warna putih, yang dimaknakan dengan kesucian dan aturan yang belum terpengaruh budaya luar. Sementara itu, pakaian warga Baduy Luar didominasi warna hitam dan biru tua.

Seiring dengan majunya usaha pariwisata, kain tenun Baduy, juga kain ikat kepala, pun belakangan diperjualbelikan sebagai salah satu cenderamata khas Lebak. 

Editor : Sotyati


BPK Penabur
Gaia Cosmo Hotel
Kampus Maranatha
Back to Home