Loading...
SAINS
Penulis: Sabar Subekti 18:43 WIB | Jumat, 19 April 2024

11.000 Orang Dievakuasi, Hindari Bahaya Erupsi Gunung Ruang

11.000 Orang Dievakuasi, Hindari Bahaya Erupsi Gunung Ruang
Gunung berapi Gunung Ruang terlihat saat letusan dari pulau Tagulandang, Indonesia, Kamis, 18 April 2024. Pihak berwenang Indonesia menutup bandara dan penduduk meninggalkan rumah di dekat gunung berapi yang meletus pada hari Kamis karena bahaya penyebaran abu, jatuhnya batu, awan vulkanik panas dan kemungkinan terjadinya tsunami. (Foto: AP/ Hendra Ambalao)
11.000 Orang Dievakuasi, Hindari Bahaya Erupsi Gunung Ruang
Gunung berapi Gunung Ruang terlihat saat letusan dari pulau Tagulandang, Indonesia, Kamis, 18 April 2024. (Foto: AP/ Hendra Ambalao)
11.000 Orang Dievakuasi, Hindari Bahaya Erupsi Gunung Ruang
Lava cair panas bersinar di kawah Gunung Ruang saat meletus di Kepulauan Sanguine, Indonesia, Rabu, 17 April 2024. Pihak berwenang Indonesia mengeluarkan peringatan tsunami pada Rabu setelah letusan di gunung Ruang mengeluarkan abu setinggi ribuan kaki. Para pejabat memerintahkan lebih dari 11.000 orang meninggalkan daerah tersebut. (Foto: Kabupaten BPBD Sitaro)

MANADO, SATUHARAPAN.COM-Pihak berwenang Indonesia menutup bandara dan penduduk meninggalkan rumah di dekat gunung berapi yang sedang meletus pada hari Kamis (18/4) karena bahaya penyebaran abu, jatuhnya batu, awan vulkanik panas, dan kemungkinan tsunami.

Gunung Ruang di Kabupaten Sintaro, Sulawesi Utara, mengalami setidaknya lima letusan besar pada hari Rabu (17/4), menyebabkan Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi  (PVMBG) mengeluarkan peringatan tingkat tertinggi, yang mengindikasikan adanya letusan aktif.

Kawah tersebut mengeluarkan asap putih keabu-abuan terus menerus pada siang hari Kamis (18/4), mencapai lebih dari 500 meter (1.600 kaki) di atas puncak.

Warga Masyarakat telah diperintahkan untuk tinggal setidaknya enam kilometer (3,7 mil) dari gunung setinggi 725 meter (2.378 kaki) tersebut. Lebih dari 11.000 orang tinggal di daerah yang terkena dampak dan diminta untuk mengungsi. Setidaknya 800 orang telah melakukannya.

Bandara internasional di kota Manado ditutup sementara pada hari Kamis karena abu vulkanik beterbangan ke udara.

“Operasi penerbangan di Bandara Sam Ratulangi terpaksa kami tutup karena penyebaran abu vulkanik yang dapat membahayakan keselamatan penerbangan,” kata Ambar Suryoko, Kepala Otoritas Bandara Daerah.

Letusan pada hari Rabu malam memuntahkan abu vulkanik sekitar 70.000 kaki ke atmosfer, menurut Pusat Penasihat Abu Vulkanik Biro Meteorologi Australia. Biro tersebut mengatakan dalam sebuah pernyataan pada hari Kamis bahwa mereka sedang melacak dan memperkirakan penyebaran abu.

Pusat Vulkanologi Indonesia mencatat risiko letusan gunung berapi tersebut antara lain kemungkinan runtuhnya sebagian gunung berapi ke laut dan menimbulkan tsunami.

Pada bulan Desember 2018, pulau gunung berapi Anak Krakatau di Indonesia meletus dan runtuh, kehilangan sekitar 3/4 volumenya dan memicu tsunami dahsyat yang menewaskan lebih dari 400 orang. Letusan Gunung Ruang pada tahun 1871 juga memicu tsunami.

Pulau Tagulandang, sebelah timur gunung berapi Ruang, bisa terancam jika terjadi keruntuhan. Penduduknya termasuk di antara mereka yang diminta untuk mengungsi.

“Masyarakat yang berdomisili di kawasan Pulau Tagulandang dan berada dalam radius enam kilometer harus segera dievakuasi ke tempat aman di luar radius enam kilometer,” kata Abdul Muhari, Juru Bicara Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), hari Kamis (18/4). “Dan khususnya bagi mereka yang tinggal di dekat pantai harus mewaspadai potensi erupsi batuan pijar, awan panas, dan gelombang tsunami yang dapat dipicu oleh runtuhnya benda vulkanik ke laut.”

Badan tersebut mengatakan penduduk akan direlokasi ke Manado, kota terdekat, enam jam perjalanan dengan perahu.

Indonesia, negara kepulauan berpenduduk 270 juta jiwa, memiliki 120 gunung berapi aktif. Pulau ini rentan terhadap aktivitas vulkanik karena berada di sepanjang “Cincin Api”, rangkaian garis patahan seismik berbentuk tapal kuda di sekitar Samudera Pasifik. (dengan AP)

Editor : Sabar Subekti


BPK Penabur
Gaia Cosmo Hotel
Kampus Maranatha
Back to Home