Loading...
EKONOMI
Penulis: Sabar Subekti 11:51 WIB | Sabtu, 15 Juli 2023

ASEAN dan Eropa Harus Bangun Kerja Sama Yang Inklusif

Pertemuan ASEAN - Uni Eropa Post Ministerial Conference (PMC), hari Kamis (13/7) di Jakarta. (Foto: Kemlu)

JAKARTA, SATUHARAPAN.COM-Menteri Luar Negeri, Retno Marsudi, menyerukan ASEAN dan Uni Eropa untuk terus membangun kerja sama yang inklusif di berbagai bidang. Pernyataan itu disampaikan dalam pertemuan ASEAN - Uni Eropa Post Ministerial Conference (PMC), hari Kamis (13/7) di Jakarta.

Menlu Retno menyampaikan, kerja sama ASEAN – Uni Eropa sedang diuji oleh situasi dunia yang dihadapkan pada tantangan yang sangat besar. Untuk menavigasi dinamika tersebut, ASEAN dan UE harus terus meningkatkan kerja sama yang inklusif.

Retno menyampaikan dua aspek penting. Pertama, menjaga arsitektur regional yang inklusif. ASEAN telah berinvestasi besar untuk membangun arsitektur kawasan yang inklusif, dan dia berharap Uni Eropa memiliki pandangan yang selaras mengenai paradigma kolaborasi inklusif.

“Kami berharap Uni Eropa dapat menerapkan paradigma kolaborasi inklusif. Ini adalah satu-satunya cara untuk mempertahankan perdamaian, stabilitas, dan kemakmuran," kata Retno.

Kerja Sama Saling Menguntungkan

Isu kedua yang dibahas adalah peningkatan kerja sama yang saling menguntungkan. Retno menyampaikan bahwa ASEAN dan Uni Eropa memiliki banyak potensi besar. Kedua organisasi sama-sama menjadi mitra perdagangan terbesar ketiga. Keduanya juga memiliki ekonomi yang terintegrasi dengan 450 juta konsumen di Uni Eropa dan 650 juta konsumen di ASEAN.

Ia menekankan bahwa potensi tersebut tidak boleh dibatasi oleh kebijakan hambatan perdagangan.  “Potensi-potensi tersebut tidak boleh dibatasi dengan adanya kebijakan hambatan perdagangan seperti European Union Deforestation Regulation (EUDR) dan European Union Enforcement Regulation (EUER)," kata Retno.

Untuk itu, kedua pihak harus mencari solusi bersama melalui mekanisme ASEAN - UE seperti Joint Working Group on Palm Oil. Di samping itu, ASEAN dan Uni Eropa juga harus memperkuat kemitraan strategis yang berbasis pada prinsip saling menghormati dan saling menguntungkan.

“Indonesia berharap kerja sama strategis ASEAN - UE dapat diperkuat dengan berlandaskan pada prinsip saling menghormati dan saling menguntungkan," kata Retno.

Pertemuan membahas kemitraan ASEAN – UE yang terjalin selama 45 tahun. Negara ASEAN apresiasi sejumlah capaian di antaranya suksesnya KTT ASEAN – UE di Brussel, kerja sama maritim dalam kerangka Indo-Pasifik, peningkatan perdagangan dan investasi, kerja sama transisi energi, sosial budaya, dan kesehatan.

Pertemuan juga menggarisbawahi pentingnya penyelesaian isu Laut China Selatan, keprihatinan atas situasi di Ukraina, dan Semenanjung Korea.

Meski demikian, sejumlah negara ASEAN menyampaikan keprihatinan atas pemberlakuan EU Deforestation Regulation yang dianggap menghambat masuknya produk negara ASEAN ke pasar UE. Pertemuan juga mendorong penyelesaian ASEAN – EU Free Trade Agreement.

Sementara itu, High Representative for Foreign Affairs and Security Policy/Vice-President of the Commission (HRVP) Joseph Borell mengakui peran ASEAN sebagai pemain kunci global di abad ini, terutama di tengah rivalitas dan krisis global yang berlangsung.

Uni Eropa juga mendukung pentingnya penghormatan terhadap hukum internasional, terutama terkait isu Ukraina dan Laut China Selatan. Lebih lanjut, HRVP Borell juga menegaskan dukungan atas pendekatan ASEAN untuk penyelesaian isu Myanmar.

Editor : Sabar Subekti


BPK Penabur
Gaia Cosmo Hotel
Kampus Maranatha
Back to Home