Loading...
Penulis: Yan Chrisna Dwi Atmaja 22:30 WIB | Kamis, 14 Agustus 2014

Australia Kirim Bantuan bagi Warga Yazidi Irak

Warga Irak yang kehilangan tempat tinggal dari komunitas Yazidi duduk di sekitar kamp pengungsian di dekat perbatasan Turki-Irak di Silopi, Simak pada 14 Agustus 2014. (Foto: AFP)

SYDNEY, SATUHARAPAN.COM - Australia mengirimkan bantuan lewat udara, yang pertama, bagi pengungsi di utara Irak, kata Perdana Menteri Tony Abbott, Kamis (14/8), bergabung bersama bantuan kemanusiaan negara lain, yang terus meningkat.

"Tugas itu dijalankan dengan pesawat RAAF jenis Hercules C-130J, yang mengirimkan 10 paket bahan sangat dibutuhkan bagi warga Yazidi, yang terjebak kepungan tentara ISIS di Gunung Sinjar," katanya merujuk pada pejuang Negara Islam (IS), yang sebelumnya dikenal sebagai ISIS atau ISIL.

Kargo tersebut termasuk 150 kotak biskuit berenergi tinggi dan 340 kotak air dalam kemasan -cukup untuk memenuhi kebutuhan 3.700 orang selama 24 jam.

"Berdasar laporan awal, pengedropan telah berhasil dilakukan dan pesawat kembali ke pangkalan," ujarnya, seperti dilaporkan AFP.

"Pengedropan bantuan itu akan terus dilakukan sampai keamanan warga Yazidi terjamin dan mereka bisa pergi dari Gunung Sinjar dengan aman," ujar Abbot.

Perserikatan Bangsa Bangsa mengatakan puluhan ribu anggota kelompok-kelompok minoritas, termasuk Yazidi dan umat Kristen terjebak di Gunung Sinjar dan menghadapi "kekejaman massal dan potensi pembantaian dalam beberapa hari atau beberapa jam".

Meski demikian Pentagon mengatakan pada Rabu bahwa -berdasar penilaian dari tangan pertama oleh kelompok kecil pasukan AS- keadaan warga yang terjebak itu masih lebih baik dari yang dikhawatirkan dan misi evakuasi kemungkinan tidak akan dilakukan.

AS pada Rabu melakukan pengedropan ketujuh bantuan berupa makanan dan air, sementara Perdana Menteri Inggris David Cameron mengatakan rencana internasional tengah disusun untuk menyelamatkan warga yang terjebak. (AFP/Ant)

 


BPK Penabur
Gaia Cosmo Hotel
Kampus Maranatha
Edu Fair
Back to Home