Loading...
HAM
Penulis: Sabar Subekti 17:56 WIB | Minggu, 13 Maret 2022

Dalam Dua Bulan, 47 Anak Jadi Korban perang di Yaman

Anak-anak berjalan di sebuah kamp untuk orang-orang yang terlantar akibat pertempuran antara pasukan pemerintah Yaman dan Houthi, di Marib, Yaman pada 8 Maret 2020. (Foto: dok. Reuters)

SATUHARAPAN.COM- Sebanyak 47 anak "tewas atau cacat" dalam perang saudara Yaman pada Januari dan Februari menyusul lonjakan kekerasan, kata dana anak-anak PBB, UNICEF, pada hari Sabtu (12/3).

Anak-anak adalah "yang pertama dan paling menderita," kata UNICEF, menambahkan bahwa total setidaknya lebih dari 10.000 anak di bawah umur telah tewas atau terluka dalam perang yang berkecamuk sejak 2015.

“Hanya dalam dua bulan pertama tahun ini, 47 anak dilaporkan tewas atau cacat di beberapa lokasi di Yaman,” kata Philippe Duamelle, perwakilan UNICEF untuk Yaman, dalam sebuah pernyataan.

“Sejak konflik meningkat di Yaman hampir tujuh tahun lalu, PBB memverifikasi bahwa lebih dari 10.200 anak telah tewas atau terluka. Jumlah sebenarnya kemungkinan jauh lebih tinggi.”

Dalam perang Ukraina, sedikitnya 71 anak tewas dan lebih dari 100 terluka dalam dua pekan sejak invasi Rusia pada 24 Februari, kata seorang pejabat parlemen Ukraina, Kamis.

Ratusan ribu orang telah tewas sebagai akibat langsung atau tidak langsung dari perang Yaman antara milisi Houthi yang didukung Iran dan pasukan pemerintah.

Pada bulan November, Program Pembangunan PBB (WFP) mengatakan 377.000 nyawa akan hilang melalui pertempuran, kelaparan, air yang tidak bersih dan penyakit pada akhir tahun 2021.

“Kekerasan, kesengsaraan, dan kesedihan telah menjadi hal biasa di Yaman dengan konsekuensi parah pada jutaan anak dan keluarga,” kata Duamelle.

“Sudah saatnya solusi politik berkelanjutan dicapai bagi orang-orang dan anak-anak mereka untuk akhirnya hidup dalam kedamaian yang layak mereka dapatkan.”

Konflik telah menyebabkan runtuhnya layanan dasar seperti perawatan kesehatan dan pendidikan, dengan jutaan orang mengungsi dan 80 persen populasi bergantung pada bantuan.

Lebih dari 2.500 sekolah tidak dapat digunakan, menurut UNICEF, karena telah dihancurkan, diubah untuk tujuan militer, atau digunakan untuk melindungi para pengungsi.

Sebuah laporan yang dirilis oleh Dewan Keamanan PBB pada Januari mengatakan hampir 2.000 anak yang direkrut oleh Houthi telah tewas di medan perang antara Januari 2020 dan Mei 2021. (AFP)

Editor : Sabar Subekti


BPK Penabur
Gaia Cosmo Hotel
Kampus Maranatha
Edu Fair
Back to Home