Loading...
MEDIA
Penulis: Melki Pangaribuan 12:45 WIB | Minggu, 01 Maret 2020

Eks Agen CIA: Hoax Berita Paus Fransiskus Terinfeksi Corona

Akun Twitter milik mantan agen Central Intelligence Agency (CIA), @CindyOtis menyatakan berita Paus Fransiskus terjangkit virus corona merupakan berita palsu alias hoax. (Foto: Twitter @CindyOtis)

JAKARTA, SATUHARAPAN.COM -  Sejak hari Minggu (1/3/2020) pagi, beredar kabar bahwa Paus Fransiskus terjangkit wabah virus corona (COVID-19) yang diberitakan sejumlah kantor media daring nasional. Namun dipastikan berita tersebut palsu atau hoaks.

Berita yang beredar itu mengutip sebuah laman MCM News yang pertama kali mengabarkan berita Paus Fransiskus terinfeksi virus corona, dengan judul berita "Vatican confirms Pope Francis and aides test positive for Coronavirus", yang muncul kali pertama pada Minggu dini hari (1/3).

Dalam situs tersebut dikatakan Vatikan telah mengonfirmasi kondisi kesehatan Paus yang terjangkit corona. Situs tersebut juga menjelaskan, Paus Fransiskus (83 tahun) terjangkit corona sehingga membatalkan misa malam di Roma. Bukan hanya Paus, dua pejabat pembantunya juga dikabarkan terjangkit virus yang sama.

Akun Twitter milik mantan agen Central Intelligence Agency (CIA), @CindyOtis menyatakan berita tersebut adalah berita palsu alias hoax. Akun Twitter yang memiliki 28.000 pengikut itu membeberkan alasan situs MCM News mengabarkan berita palsu.

Menurut mantan agen CIA itu, domain laman MCM News diregistrasi pada 2016 oleh seorang domain squatter atau pembuat domain tidak jelas asal China, tapi tiga hari kemudian, pada 26 Februari registrasinya mengalami perubahan.

 

 

Penulis TRUE OR FALSE: Panduan Analis CIA untuk Menemukan Berita Palsu itu mengatakan, pertama, artikel tersebut ditulis dengan buruk, seolah-olah ditulis dengan Google Translate.

Kedua, jika mengeklik tautan di bagian atas situs laman pada akun media sosial yang seharusnya terlampir di situs itu adalah tautan mati. Mereka hanya menampilkan beranda saja.

Ketiga, tidak ada kolom "Tentang Kami" atau jenis halaman serupa di situs itu yang menjelaskan siapa mereka yang menjalankan laman tersebut dan tidak ada penulis yang terdaftar di artikel itu. Artikel-artikel itu hanya mengatakan "mcmpublisher".

Keempat, hanya ada total 30 artikel yang dipublikasi pada laman tersebut.

Kelima, tidak ada media resmi yang melaporkan klaim kabar tersebut. Sebaliknya, akun Twitter acak, di mana sebagian besar tanpa foto profil manusia dan terutama tweet dalam bahasa China, mulai men-tweet tautan tersebut.

“Satu akun yang saya amati dibuat pada tahun 2015 hanya men-tweet 32 kali, hampir semuanya baru-baru ini,” kata mantan agen CIA itu.

Cindy Otis mengatakan, krisis kesehatan seperti #coronavirus adalah target besar bagi pelaku disinfo (untuk mencari untung atau termotivasi secara ideologis).

“Terakhir, saya perhatikan bahwa artikel tersebut ditandai di beranda sebagai "Showbiz." … Mereka mengambil keuntungan dari orang yang mencari informasi dan memperkuat emosional. Waspada!”

 

 

Dalam beberapa tahun terakhir, Paus Fransiskus telah menjadi sasaran penghinaan dari situs Katolik ultra-konservatif dan sebagian besar cuitan anti-paus dari akun-akun anonim di Twitter.

Twitter juga telah menjadi media untuk pertarungan verbal, terkadang antara pendukung dan penentangnya.

Paus Fransiskus memang diakui kehilangan satu paru-parunya akibat menderita TBC saat berusia 20 tahun di Buenos Aires, Argentina seperti diungkapkan penulis biografi Paus Fransiskus, Austen Ivereigh. Paus juga menderita beberapa sakit seperti pada kaki dan linu pinggul sehingga menjalani beberapa kali terapi fisik.

Beberapa hari lalu, Paus ke-266 ini dikabarkan sedang kurang sehat saat merayakan misa di Roma. Ia membatalkan sebuah acara di basilika Roma setelah memberikan dukungan kepada penderita virus corona.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) telah menyatakan keadaan darurat global akibat wabah virus yang diberi nama COVID-19 itu. Seperti dilansir dari Reuters, jumlah korban tewas akibat virus yang pertama kali muncul di Wuhan, China, itu telah mencapai lebih dari 2.900 orang dan menginfeksi lebih dari 85.000 orang yang sebagian adalah warga China daratan.

Dampak yang ditimbulkan meluas mulai dari penghentian sementara berbagai maskapai penerbangan antar negara, terutama yang menuju dan dari China daratan, pelarangan berkumpul oleh massa dalam jumlah besar hingga merosotnya aktivitas perdagangan dan pasar saham global.

 


BPK Penabur
Gaia Cosmo Hotel
Kampus Maranatha
Edu Fair
Back to Home