Loading...
INDONESIA
Penulis: Eti Artayatini 08:24 WIB | Selasa, 02 Agustus 2022

HOME: Sebuah Harapan Bagi Mereka Yang Tersisih

HOME: Sebuah Harapan Bagi Mereka Yang Tersisih
Anak- anak yang ada di Home (Foto-foto: dok, Bunda Yudith)
HOME: Sebuah Harapan Bagi Mereka Yang Tersisih
Bunda Yudith mengajar dengan penuh kasih sayang.
HOME: Sebuah Harapan Bagi Mereka Yang Tersisih
Beberapa kegiatan Home.

JAKARTA, SATUHARAPAN.COM-Memasuki sebuah bangunan di daerah Cilincing, Jakarta Utara penulis diperlihatkan pada sebuah ruangan yang berisi beberapa alat rumah tangga, alat bermain, kursi dan meja sederhana.

Yudith Arendha Arselan atau biasa di panggil anak-anak dengan sebutan Bunda Yudith, pendiri HOME (House of Mercy) mempersilahkan penulis dan beberapa rekan masuk dan duduk di kursi sederhana yang disiapkan dengan mendadak. Di dinding terpampang tulisan yang sangat menyentuh hati, dan beberapa foto anak-anak dalam berbagai kegiatan yang mereka lakukan. Di sudut ruangan, terlibat beberapa anak dengan beberapa pendamping yang sedang mengajar dan bermain dengan anak-anak.

HOME adalah rumah sosial yang bertindak sebagai rumah dan keluarga kedua untuk ratusan anak di area Cilincing, Jakarta Utara, demikian Bunda Yudith memulai ceritanya.

Bagaimana saya bisa membangun HOME? Tentu ada ceritanya, kata Bunda Yudith

Suatu hari, Bunda Yudith mendengarkan cerita Pendeta Tumpal Tobing tentang kehidupan anak-anak di kawasan Cilincing. Itulah pertama kalinya ia mendengar dan mengetahui nama daerah tersebut. Setelah mendengar cerita Pak Pendeta, ia merasa ada sebuah panggilan yang kuat dalam hatinya. Ia merasa sangat tersentuh dan tergerak untuk membantu anak-anak itu. Anak-anak tidak seharusnya mendapatkan kekerasan dan mereka berhak mendapatkan kehidupan yang layak, begitu kata hatinya.

Setelah menemukan lokasinya, ia segera ke sana. Di hari pertama, ia datang dan bermain dengan anak-anak, serta bertemu dengan komunitas yang ada. Tentunya mereka tidak langsung bisa dekat dengannya, ada jarak yang mereka buat karena mereka belum mengenalnya. Namun ia terus berusaha dekat, bermain dan menyapa mereka .

Hari kedua, ia  kembali datang  dan mengajak anak-anak untuk pergi dan jalan-jalan bersamanya. Mulailah mereka membuka diri, dan mau bermain dan berbincang. “Setelah dua hari bersama mereka panggilan Itu semakin kuat, untuk membantu merawat dan mendidik anak-anak ini,” kata Bunda Yudith.  Di hari berikutnya, ia datang dengan niat yang lebih besar yaitu untuk tinggal dan hidup bersama mereka dan warga Cilincing.  Ia pun menyewa bangunan ini sebagai tempat mereka singgah.

“Pada awalnya, bangunan ini hanya beralaskan tanah, dan hanya ada satu ruangan untuk kami bersama-sama tidur. Kadang ada tikus yang masuk dan melewati kami yang sedang tidur. Rasanya hampir putus ada, tetapi panggilan dan komitmen saya harus menjadi Ibu untuk anak- anak ini,” kata Bunda Yudith.

Pendidikan Karakter

Mula-mula, ia hanya memfokuskan pada pendidikan akademik. Namun, setelah mengenal mereka lebih dalam, ia seperti disadarkan bahwa ada hal lain yang harus dilakukan. Anak-anak ini tidak hanya membutuhkan pendidikan akademik, tetapi juga pendidikan karakter. Ia menyaksikan sendiri anak-anak asuhnya menjadi korban kekerasan dan bullying, hingga menggunakan obat-obatan terlarang. Ketika melihat kondisi itu, ia bersama HOME berusaha untuk mengubah perilaku mereka dan mengajarkan bagaimana mereka harus menjalani hidup  dengan baik melalui kasih sayang yang tulus.

14 tahun sudah ia berjalan bersama HOME, ada 1.000 anak yang kurang mampu dan terlantar di Cilincing yang ia dan rekan- rekannya dampingi. Banyak anak yang dibiayai sampai lulus kuliah, menjadi tentara, bidan, hingga ahli IT.

“Bangga rasanya melihat mereka menjadi orang baik dan berguna. Bagi saya keberhasilan dan kesuksesan mereka adalah masa depan saya,” kata Bunda Yudith.

Salah satunya adalah Iqbal, seperti dituturkan Bunda Yudith. “Saat kecil, ia ditinggal oleh ayahnya, sementara ibu, adik, dan dia berjuang untuk bertahan hidup di Jakarta. Di umur 15 tahun, Iqbal sudah terbiasa memakai obat-obatan terlarang. Saat itulah Iqbal bertemu dengan saya dan bergabung dengan HOME. Tahun 2018, Iqbal berhasil lulus dari SMA dan lolos seleksi TNI AL. Selama sembilan tahun saya bersama rekan-rekan di HOME berjuang untuk mengubah hidup Iqbal menjadi lebih baik.” Kasih sayang yang tulus diberikan Bunda Yudith dan pembina lainnya di HOME membawa dampak yang positif untuk pribadi Iqbal. 

Hambatan dan tantangan terus dihadapi Bunda Yudith dan rekan-rekannya di HOME. “Kami masih survive bertahan dengan berbagai tekanan hebat dan ancaman terhadap kami, perlindungan dan pertolongan Tuhan sungguh nyata,” ujar Bunda Yudith.

“Kami pun tetap keliling menjangkau warga, khususnya keluarga anak-anak HOME. Mendengarkan, mendoakan dan menolong rumah yang ambruk, anak yang mengalami sex abuse, sakit, kekurangan, bully sampai yang mau bunuh diri,” tambah Bunda Yudith.

Mereka masih survive melayani, dengan dukungan Sahabat HOME, bertahan dengan berkat yang diterima, dan berkeliling berbagi berkat kasih. Melakukan berbagai persiapan fasilitas dan pembenahan untuk kelas-kelas les yang akan mulai dibuka lagi di bulan Januari. Namun mengingat masih pandemi, kelas dibuka terbatas hanya untuk kelas PAUD, TK dan kelas 1 SD.

“Dalam setiap survive kami masih bisa melihat karya besar Tuhan, kami bisa ada dan mampu bertahan hari ini semua karena Dia yang memberikan anugerahNya bagi kami. HE is super good. Amazing!” kata Bunda Yudith.

Ia berharap ada banyak orang  baik yang akan membantu HOME agar bisa menjangkau anak- anak tersisih di daerah Cilincing, dan membantu anak- anak menedapatkan masa depan yang baik.


BPK Penabur
Gaia Cosmo Hotel
Kampus Maranatha
Back to Home