Loading...
SAINS
Penulis: Sabar Subekti 06:33 WIB | Selasa, 29 Desember 2020

Kasus COVID-19 Meningkat, Afsel Perpanjang Jam Malam, Larang Penjualan Minuman Beralkohol

Petugas medis mempersiapkan pasien positif COVID untuk menjalani CT Scan di sebuah klinik di Johannesburg hari Minggu (27/12). Lonjakan kasus COVID-19 Afrika Selatan telah membawa negara itu mencapai satu juta kasus yang dikonfirmasi dengan rumah sakit mencapai kapasitas dan tidak ada tanda-tanda gelombang baru mencapai puncaknya. (Foto: AP)

JOHANNESBURG, SATUHARAPAN.COM-Presiden Afrika Selatan, Cyril Ramaphosa, memberlakukan kembali larangan penjualan minuman beralkohol dan memerintahkan penutupan semua bar pada hari Senin (28/12) sebagai bagian dari pembatasan baru negara itu memerangi kebangkitan virus corona, termasuk adanya varian baru.

Ramaphosa juga mengumumkan penutupan semua pantai dan kolam renang umum di daerah hotspot infeksi di negara itu, yang meliputi Cape Town, Johannesburg, Durban dan beberapa daerah pesisir.

Selain itu, Afrika Selatan memperpanjang jam malam menjadi empat jam, mewajibkan semua penghuninya harus berada di rumah mulai pukul 21:00 malam sampai pukul 06:00 pagi, kata presiden.

“Perilaku sembrono akibat keracunan alkohol telah berkontribusi pada peningkatan penularan. Kecelakaan dan kekerasan terkait alkohol yang menekan unit gawat darurat rumah sakit kita,” kata Ramaphosa dalam pidato di seluruh negeri.

"Seperti yang harus kita lakukan pada hari-hari awal penguncian, kita sekarang harus meratakan kurva untuk melindungi kapasitas sistem perawatan kesehatan kita agar dapat merespons gelombang baru infeksi ini secara efektif," katanya.

Ramaphosa mengatakan larangan menjual alkohol dan pembatasan baru lainnya akan berlaku tengah malam. Itu termasuk wajib mengenakan masker di depan umum, dan siapa pun yang ditemukan tidak mengenakan masker di tempat umum akan dikenakan denda atau tuntutan pidana yang dapat dihukum dengan kemungkinan hukuman penjara, kata presiden.

Ramaphosa mengatakan peningkatan pembatasan diperlukan karena lonjakan infeksi COVID-19 yang telah mendorong total kasus virus terkonfirmasi di Afrika Selatan melampaui satu juta. “Hampir 27.000 warga Afrika Selatan diketahui meninggal karena COVID-19. Jumlah infeksi virus corona baru meningkat pada tingkat yang belum pernah terjadi sebelumnya,” katanya.  "Lebih dari 50.000 kasus baru telah dilaporkan sejak Malam Natal."

Ramaphosa mengumumkan langkah-langkah baru tersebut setelah pertemuan Kabinet dan pertemuan darurat Dewan Komando Virus Corona Nasional. Dia mengatakan pembatasan baru akan ditinjau dalam beberapa pekan dan pelonggaran hanya akan dipertimbangkan ketika jumlah kasus baru dan rawat inap menurun.

Negara itu telah melampaui angka satu juta kasus COVID-19 yang dikonfirmasi pada hari Minggu malam, ketika pihak berwenang melaporkan bahwa total kasus negara itu selama pandemi telah mencapai 1.004.413, termasuk 26.735 kematian.

Varian Baru

Seperti Inggris, Afrika Selatan sedang memerangi varian COVID-19 yang menurut para ahli medis lebih menular daripada aslinya. Varian telah menjadi dominan di banyak bagian negara, menurut para ahli.

Asosiasi Medis Afrika Selatan, yang mewakili perawat dan petugas kesehatan lainnya serta dokter, memperingatkan pada hari Senin (28/12) bahwa sistem kesehatan berada di ambang kewalahan akibat gabungan jumlah pasien COVID-19 yang lebih tinggi dan orang-orang yang membutuhkan perawatan segera dari insiden yang terkait alkohol.

Banyak pertemuan hari raya yang melibatkan konsumsi alkohol dalam jumlah tinggi, yang pada gilirannya sering kali meningkatkan kasus trauma. "Untuk mengurangi tekanan pada sistem kesehatan dalam tahun ini, di mana kami hanya memiliki staf yang bekerja, terutama di sektor publik, serta di sektor swasta, kami meminta pembatasan yang lebih ketat terkait pertemuan sosial," kata Angelique Coetzee , ketua asosiasi medis mengatakan kepada The Associated Press.

“Afrika Selatan memiliki sejarah penyalahgunaan alkohol dan pesta minuman keras yang sangat tinggi, terutama selama akhir pekan. Di wilayah tertentu hal itu banyak menimbulkan kasus trauma, penganiayaan, kecelakaan kendaraan bermotor dan KDRT,” katanya.

Asosiasi medis telah meminta pemerintah untuk memberlakukan pembatasan yang lebih ketat pada penjualan alkohol, terutama jika menyangkut pertemuan besar. Ketika Afrika Selatan sebelumnya melarang total penjualan minuman keras, kasus trauma di rumah sakit turun sebanyak 60%, menurut statistik pemerintah.

Ketika larangan penjualan alkohol dicabut, kasus trauma kembali ke level sebelumnya. Di tengah kebangkitan COVID-19 pada awal Desember, Afrika Selatan membatasi penjualan alkohol pada hari Senin hingga Kamis antara pukul 10:oo pagi hingga 18:00 sore. Negara ini juga memberlakukan jam malam pukul 23:00 ​​malam hingga 04:00 pagi.

Berbagai pedagang alkohol telah memohon kepada pemerintah untuk menghindari larangan total penjualan alkohol, dengan alasan penurunan ekonomi yang ditimbulkannya. Industri alkohol Afrika Selatan termasuk di antara yang paling terpukul ketika negara itu memberlakukan penguncian paksa selama April dan Mei yang juga melarang semua penjualan minuman keras.

Rata-rata dalam sepekan kasus harian COVID-19 yang terkonfirmasi di Afrika Selatan telah meningkat selama dua pekan terakhir dari 11,18 kasus baru per 100.000 orang pada 13 Desember menjadi 19,87 kasus baru per 100.000 orang pada 27 Desember.

Rata-rata kematian harian dalam sepekan di negara itu telah meningkat selama dua pekan terakhir dari 0,26 kematian per 100.000 orang pada 13 Desember menjadi 0,49 kematian per 100.000 orang pada 27 Desember.

Ramaphosa mendesak orang-orang untuk menghindari pertemuan pada Malam Tahun Baru. Sebaliknya, dia meminta semua orang Afrika Selatan untuk menyalakan lilin. “Saya akan menyalakan lilin di Cape Town tepat tengah malam di Malam Tahun Baru untuk mengenang mereka yang kehilangan nyawa. (AP)

Editor : Sabar Subekti

Kampus Maranatha
BPK Penabur
Zuri Hotel
Back to Home