Loading...
EKONOMI
Penulis: Dewasasri M Wardani 11:50 WIB | Senin, 20 April 2020

Kreativitas Dunia Fashion di Balik Corona

Pendamping KSM Harapan Mulia Desa Resapombo, Rita Sukirni Panca Rianik (kiri) memperlihatkan batik corona karya disabilitas (Foto: Antara)

JAKARTA, SATUHARAPAN.COM – Pandemi virus corona baru (COVID-19) juga menyerang dunia fashion.

South China Morning Post pada Senin (13/4) menulis upaya mempertahankan bisnis fashion di tengah pandemi virus corona sangatlah berat.

Menurut laporan yang dirilis oleh McKinsey bekerja sama dengan majalah Business of Fashion, industri fashion dunia akan mengalami penurunan penjualan sebesar 27-30 persen.

Penjualan barang-barang mewah akan mengalami penurunan lebih besar lagi yakni berkisar 35-39 persen, atau turun sekitar 650 miliar dolar AS (Rp 10,2 triliun) dibanding tahun 2019.

Pakar mode Mario Ortelli mengatakan, virus corona memiliki dampak yang menghancurkan sejauh ini.

Nyatanya, beberapa label fshion besar seperti Burberry, Prada, dan Michael Kors sudah melaporkan penurunan penjualan di masa pandemi. Sementara label-label indie kesulitan untuk mempertahankan bisnisnya.

Danielle Bailey, seorang analis dari L2 Gartner mengatakan, beberapa label kemungkinan akan bisa melewati krisis. Label-label kecil akan gulung tikar jika mereka tidak memiliki cadangan finansial yang cukup.

Ortelli yakin, label fashion yang telah memiliki nama besar seperti Hermes akan bertahan lebih baik dibanding label yang hanya mengandalkan mode fashion semata, karena konsumen akan lebih mungkin menginvestasikan uang mereka pada produk yang sudah jelas berkualitas.

Sumber Inspirasi

Meski corona bagaikan meteor yang menghantam dunia fashion di butik-butik mewah sepanjang Fifth Avenue, New York di Amerika Serikat, bagi para perajin disabilitas yang tergabung di Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM) Harapan Mulia Desa Resapombo Kecamatan Doko Kabupaten Blitar, Jawa Timur, virus corona justru menjadi sumber inspirasi.

Pendamping KSM Harapan Mulia Desa Resapombo, Rita Sukirni Panca Rianik kepada Antara pada Senin (20/4) mengatakan, dia mendapatkan inspirasi membuat batik dengan teknik ciprat motif corona, setelah merenungkan wabah yang saat ini terjadi.

"Saya merenungkan kok wabah corona ini merebak di mana-mana bahkan mendunia. Dari sini saya angkat sebagai inspirasi batik ciprat," kata Rita.

Rita merasa miris meski wabah sudah sampai ke pelosok-pelosok, para penyandang disabilitas belum teredukasi sepenuhnya soal bahaya dan penyebaran virus corona.

"Ini juga jadi edukasi kepada mereka dan masyarakat pada umumnya, bahwa bentuk dan model virus corona tersebut seperti yang kita gambar di batik," kata dia.

Selain itu, gambar batik yang dibuat jarang-jarang pada kain memiliki pesan bahwa untuk mencegah penyebaran virus warga harus menjaga jarak (physical distancing).

Ada 27 perajin batik ciprat corona yang terdiri atas para penyandang disabilitas tuna grahita di bawah naungan KSM Harapan Mulia. Namun untuk mencegah wabah virus corona, sementara yang masuk beraktivitas hanya beberapa orang saja.

"Karena harus physical distancing jadi yang aktif hanya beberapa orang saja sesuai pesanan yang ada," kata Rita.

Dalam sehari, KSM Harapan Mulia bisa memproduksi tiga sampai empat lembar batik COVID-19, yang dipasarkan ke berbagai kota di Indonesia.

"Sudah terjual ke Tangerang, Bandung, Yogyakarta, Malang, dan Blitar sendiri. Harganya Rp150.000 sampai Rp200.000," kata Rita yang mengatakan batik bisa dipesan secara online atau lewat nomor WhatsApp.

Tren

Corona di ranah fashion, mengilhami sejumlah brand papan atas membuat masker mewah harga selangit.

Tala Alamuddin, adik ipar George Clooney, menjual masker wajah non-medis dan dompet wadah hand sanitizer mewah, masing-masing seharga 33 dolar AS atau nyaris Rp500 ribuan, inden alias menunggu produksi.

Barang-barang itu dijual di situs fashion miliknya. Masker wajah tak berfaedah secara medis itu disebut “Le Masque”.

Hadir dalam berbagai warna dan motif, mulai dari motif macan tutul sampai biru denim. Sedikit uang dari hasil penjualan masker akan disumbangkan ke palang merah di Singapura untuk membantu mereka yang terkena virus corona.

Memakai barang branded di tengah pandemi nyatanya memang jadi tren fashion. Masker-masker berlogo X keluaran Off-White, misalnya, dijual di platform jualan StockX dengan harga fantastis sampai 340 dolar AS (sekira Rp5,2 juta).

Di Tanah Air, warganet heboh saat juru bicara penanganan virus corona (COVID-19), Achmad Yurianto, tampil di televisi menyampaikan perkembangan penanganan COVID-19 di Kantor BNPB, Jakarta, mengenakan masker wajah berbagai motif batik.

Yuri, sapaan akrabnya juga menjadi pemberitaan saat mengenakan baju batik dengan motif mirip virus corona. Meski banyak yang mengira itu adalah batik bermotif virus corona, nyatanya itu adalah baju koleksi lama sang dokter militer tersebut.

"Ini baju setahun yang lalu saat peringatan hari AIDS sedunia," kata Yuri kepada Antara di Jakarta pada Minggu (19/4).

Yuri, memang terlihat mengenakan batik bermotif bulat-bulat serupa virus dengan pita berwarna merah putih, yang melengkung terjalin mirip pita simbol HIV AIDS.

Pendiri label batik Purana, Nonita Respati, mengatakan motif-motif pada batik klasik memiliki makna filosofis, termasuk doa dan harapan dari sang empunya batik itu sendiri.

"Dalam motif batik klasik setiap motifnya dari Parang, Kawung, Sekar Jagad, Truntum misalnya, selain filosofis, juga seremonial (memiliki guna digunakan untuk sebuah acara atau upacara)," kata Nonita.

Wanita lulusan Fakultas Hubungan Internasional, Universitas Parahyangan, Bandung itu mengatakan, para pencinta batik yang paham akan mengenakan batik dengan motif tertentu yang sesuai dengan dengan tujuan seremoni.

Senada dengan Nonita, desainer Sonya Morina mengatakan, motif batik memiliki makna filosofis di baliknya.

"Ada makna yang tersirat dalam setiap gambar, karena motif-motif batik tidak akan lepas dari pandangan hidup setiap pembuatannya, pemberian nama pun berkaitan dengan suatu harapan kehidupan pastinya," kata Sonya.

Nasib Industri Fashion

Paco Underhill, pendiri perusahaan konsultan Envirosell dan penulis "Why We Buy: The Science of Shopping" memprediksi dunia fashion setelah pandemi virus corona akan terlihat sangat berbeda.

Menurutnya, sebagai langkah awal label fashion harus memastikan kepada konsumen, mereka mengutamakan kebersihan sebagai prioritas utama.

Label fashion juga harus bekerja keras, untuk menarik kembali pelanggan yang telah melihat portofolio saham mereka tenggelam.

Marketing juga harus berada pada jalur yang sama.

"Berinvestasilah pada periklanan digital, bukan cetak, dan berhati-hatilah dengan komunikasi: ketika orang berada dalam bahaya, mereka tidak ingin mendengar tentang fashion, jadi berikan sumbangan amal atau temukan cara untuk memperbaiki situasi," kata Ortelli.

Ketika pandemi ini berakhir, Ortelli menyarankan label menggencarkan public relation dan pemasaran. Namun, dia juga mengingatkan untuk melakukan hal tersebut dengan tidak berlebihan. (Ant)

 


Kampus Maranatha
Gaia Cosmo Hotel
BPK Penabur
Zuri Hotel
Back to Home