Loading...
DUNIA
Penulis: Reporter Satuharapan 16:57 WIB | Rabu, 14 Desember 2016

Myanmar akan Tulis Sejarah Sesungguhnya Tanpa Rohingya

Para pengungsi Muslim Rohingya berdoa saat berkumpul di Kuala Lumpur pada 4 Desember 2016 atas penganiayaan Muslim Rohinya di Myanmar. (Foto: AFP)

YANGON, SATUHARAPAN.COM - Kementerian Agama Myanmar berencana menulis sebuah buku untuk membuktikan Rohingya bukan berasal dari negara itu, seiring meningkatnya ketegangan terkait penindakan keras militer terhadap minoritas muslim tersebut.

Hampir 27.000 etnis Muslim Rohingya menyeberang ke Bangladesh sejak awal November, kata PBB pada hari Selasa (13/12), melarikan diri dari operasi militer berdarah di negara bagian barat Myanmar Rakhine.

Kisah pemerkosaan massal dan pembunuhan mereka di tangan pasukan keamanan mengejutkan komunitas internasional dan mengacaukan pemerintahan peraih hadiah Nobel perdamaian Aung San Suu Kyi yang baru seumur jagung.

Myanmar menolak kritik yang ditujukan kepadanya dan menyerukan pertemuan darurat ASEAN pada pekan depan untuk membahas krisis itu, yang memicu protes di negara-negara Muslim di kawasan tersebut.

Kementerian Agama dan Budaya negara tersebut pada Senin malam mengumumkan rencana penulisan karya tulis untuk menyangkal pendapat pihak asing “yang memicu permasalahan dengan menegaskan bahwa Rohingya ada dan (yang) berniat menodai citra politik Myanmar.”

“Dengan ini, kami mengumumkan bahwa kami akan menerbitkan buku sejarah Myanmar yang sebenarnya,” kata kementerian tersebut dalam sebuah pernyataan di Facebook pada Senin malam.

“Kebenaran yang sesungguhnya adalah bahwa kata Rohingya tidak pernah digunakan atau ada sebagai etnis atau ras dalam sejarah Myanmar.”

Lebih dari satu juta etnis muslim Rohingya Myanmar dibenci oleh banyak dari mayoritas Buddha, yang mengatakan mereka imigran dari Bangladesh dan menyebut mereka sebagai orang “Bangladesh” meskipun banyak dari mereka sudah tinggal di negara itu selama beberapa generasi.

Bahkan kata Rohingya menjadi begitu memecah belah sehingga Suu Kyi meminta pejabat pemerintah untuk menghindari penggunaannya.

Menurut Kementerian Agama dan Budaya, istilah itu pertama kali digunakan pada 1948 oleh anggota parlemen “Bangladesh.”(

 


BPK Penabur
Gaia Cosmo Hotel
Kampus Maranatha
Back to Home