Loading...
FLORA & FAUNA
Penulis: Dewasasri M Wardani 14:15 WIB | Selasa, 15 November 2016

Pegagan, Potensi Menyembuhkan Luka

Pegagan atau antanan (Centella asiatica). (Foto: viveracosmetics.com)

SATUHARAPAN.COM -  Pegagan atau antanan bukan jenis tanaman yang biasa diperhatikan orang. Tumbuhan yang tumbuh liar ini ditemukan di tanah lembab, seperti pematang, tepian parit, atau tebing tanah. Tumbuhan ini berbatang merayap, banyak menghasilkan cabang, dan membentuk rumpun.

Pegagan atau antanan tidak asing bagi sebagian masyarakat Indonesia, terutama yang masih tinggal di pedesaan. Daunnya memiliki rasa manis dan sejuk. Di Jawa Barat, tumbuhan ini biasanya dikonsumsi sebagai lalapan, juga  dapat dibuat urap atau sayur. Pegagan juga dapat dikeringkan untuk dijadikan teh herba.

Di Sri Lanka, dikenal suatu olahan dari pegagan, dinamakan "mallung", yakni pegagan disajikan bersama nasi dan kari. Masakan lainnya adalah "kola kenda", yaitu sejenis bubur beras merah dengan santan kelapa dan perasan air pegagan.

Di berbagai negara, tumbuhan ini sudah secara turun-temurun digunakan sebagai obat tradisional untuk berbagai jenis penyakit. Di India dan di Afrika dipakai sebagai obat untuk mengobati berbagai penyakit, termasuk penyakit lepra atau kusta yang terkenal sangat sulit diobati.

Menurut Depkes RI, pegagan termasuk salah satu tumbuhan yang paling banyak dipakai sebagai bahan ramuan obat tradisional. Pegagan berasal dari daerah Asia dan tumbuh besar di berbagai negara seperti Filipina, Tiongkok, India, Sri Lanka, Madagaskar, Afrika, dan Indonesia.

Bangsa Asia, terutama Tiongkok, terkenal dengan kemampuan meramu tanaman obat guna meningkatkan kualitas kesehatan dan mempertahankan umur panjang. Pegagan termasuk yang sering dikonsumsi orang Tiongkok untuk tujuan itu.

Sementara itu, di Prancis, pegagan sudah ditetapkan sebagai tanaman obat sejak tahun 1884. Daunnya juga ditetapkan sebagai obat dalam farmakopi di berbagai negara, seperti Belanda, Meksiko, Spanyol, Venezuela, dan India. Tangkai pegagan pun telah diresmikan di Tiongkok sebagai bahan pembuat obat.

Kumar MH Veerendra dan YK Gupta di bawah payung Departemen Farmakologi dan Laboratorium Neurofarmakologi, Institut Medical Sains India Institute Ansari Nagar, New Delhi, India, menyebutkan kandungan bahan aktif yang ditemukan dalam pegagan antara lain triterpenoid saponin, triterpenoid genin, minyak esensial, flavonoid, fitosterol, dan bahan aktif lain. Triterpenoid mempunyai aktivitas penyembuhan luka yang luar biasa.

Demikian pula tim peneliti farmasi Universitas Muhammadiyah Surakarta, telah meneliti pegagan mengandung asiatikoside yang dapat berperan dalam penyembuhan luka. Penelitian itu dilakukan untuk mengembangkan formula gel dari herba pegagan dengan menggunakan gelling agent carbopol 934 dan mengetahui pengaruhnya terhadap kecepatan penyembuhan luka bakar beserta sifat fisik gel. Penelitian itu menunjukkan penggunaan formula gel ekstrak herba pegagan dengan gelling agent carbopol 934 dapat mempercepat penyembuhan luka bakar.

Pegagan telah digunakan sebagai obat dalam tradisi Ayurveda India, dan dalam pengobatan Afrika dan Tiongkok.

Morfologi Pegagan

Pegagan, menurut unila.ac.id adalah tanaman tidak berbatang, menahun, mempunyai rimpang pendek dan stolon-stolon yang merayap, panjang 10-80 cm. Akarnya keluar dari setiap buku-buku, banyak percabangan yang membentuk tumbuhan baru.

Daunnya tunggal, bertangkai panjang, dan terdiri atas 2-10 helai daun. Helaian daun berbentuk ginjal, tepi bergerigi atau beringgit dan agak berambut.

Bunga tersusun dalam karangan berupa payung, tunggal atau 3-5 bunga bersama-sama keluar dari ketiak daun. Warnanya merah muda atau putih. Buah kecil bergantung, berbentuk lonjong, pipih, baunya wangi, dan rasanya pahit.

Pegagan lebih suka tumbuh di tempat yang lembab, di sekitar pekarangan rumah atau di sepanjang tepi sungai. Tanaman daerah tropis ini berbunga sepanjang tahun. Bentuk daunnya bulat, batangnya lunak, beruas, dan menjalar hingga bisa mencapai semeter tingginya. Bagian yang sering dimanfaatkan adalah daunnya.

Jenis pegagan yang banyak dijumpai, mengutip dari Wikipedia, adalah pegagan merah dan pegagan hijau. Pegagan merah dikenal juga dengan antanan kebun atau antanan batu, karena banyak ditemukan di daerah bebatuan, daerah kering, dan terbuka. Pegagan merah tumbuh merambat dengan stolon (geragih) dan tidak mempunyai batang, tetapi mempunyai rhizoma (rimpang pendek). Pegagan hijau sering banyak dijumpai di daerah pinggir pesawahan dan disela-sela rumput. Tempat yang disukai oleh pegagan hijau yaitu tempat yang agak lembab dan terbuka atau agak ternaungi.

Tanaman ini berasal dari daerah Asia tropik, tersebar di Asia Tenggara, termasuk Indonesia, India, Republik Rakyat Tiongkok, Jepang, dan Australia, yang kemudian menyebar ke berbagai negara-negara lain. Nama yang biasa dikenal untuk tanaman ini selain pegagan adalah daun kaki kuda dan antanan.

Pegagan merupakan anggota dari keluarga peterseli yang tumbuh di India, Asia Tenggara, dan Afrika.

Sejak zaman dahulu, pegagan telah digunakan untuk obat kulit, gangguan saraf dan memperbaiki peredaran darah.

Pegagan, menurut Wikipedia memiliki nama ilmiah Centella asiatica dan beberapa nama khas daerah yang berbeda-beda, seperti antanan gede atau antanan rambat (Jawa Bara), ganggagan, antana, cowet gompeng, panigowang, pantegowang, calingan rambat, rendeng, atau kerok batok (Jawa tengah),  kos tekosan (Madura), taidah (Bali), pagaga (Makassar), tungke (Bugis), kori-kori (Halmahera), dan kolotidi manora (Ternate).

Pegagan sering disebut si daun mangkuk karena bentuknya cekung seperti mangkuk, juga disebut peugaga (Aceh), jalukap (Banjar), daun kaki kuda (Melayu), ampagaga (batak), piduh (Bali), bebele (Lombok), sandanan (Papua), broken copper coin, semanggen (Indramayu, Cirebon), pagaga (Makassar), daun tungke (Bugis), pigago (Minang), daun tapak kudo (Solok)

Di daerah persebarannya, pegagan disebut buabok (Inggris), paardevoet (Belanda), gotu kola (Sri Lanka ), vallarei (Tamil), ji xue cao (Hanzi).

Khasiat Herbal Pegagan

Daun pegagan berasa manis, bersifat mendinginkan, memiliki fungsi membersihkan darah, melancarkan peredaran darah, peluruh kencing (diuretika), penurun panas (antipiretika), menghentikan pendarahan (haemostatika), meningkatkan saraf memori, antibakteri, tonik, antispasma, antiinflamasi, hipotensif, insektisida, antialergi dan stimulan, meningkatkan sirkulasi darah pada lengan dan kaki, mencegah varises dan salah urat, meningkatkan daya ingat, mental, dan stamina tubuh, serta menurunkan gejala stres dan depresi. Pegagan pada penelitian di RSU Dr Soetomo Surabaya dapat dipakai untuk menurunkan tekanan darah, penurunan tidak drastis, jadi cocok untuk penderita usia lanjut.

Dikutip dari kepri.litbang.pertanian.go.id, penggunaan tradisional termasuk untuk penyembuhan luka, pengobatan kondisi kulit seperti lepra dan psoriasis, dan peningkatan fungsi kognitif. Menurut Maryland Medical Center, pegagan saat ini paling sering digunakan untuk mengobati varises, insufisiensi vena kronis dan psoriasis.

Demikian pula tim peneliti Jurusan Farmakologi, Maliba Farmasi College, Bardoli Gujarat, India, telah meneliti potensi obat dari pegagan. Centella asiatica adalah ramuan obat penting yang banyak digunakan dalam orientasi dan menjadi populer di Barat. Triterpenoid, saponin, konstituen utama Centella asiatica diyakini bertanggung jawab atas tindakan terapeutik yang luas.  Terlepas dari penyembuhan luka, ramuan ini direkomendasikan untuk pengobatan penyakit pada saluran genitourinari perempuan dan juga untuk menghilangkan kecemasan dan meningkatkan kognisi.

Penelitian Prabowo (2002) juga menyebutkan pegagan mengandung senyawa triterpenoid. Triterpenoid merupakan senyawa aktif yang paling penting dari tanaman pegagan. Kandungan triterpenoid pegagan dapat merevitalisasi pembuluh darah sehingga peredaran darah ke otak menjadi lancar, memberikan efek menenangkan dan meningkatkan fungsi mental menjadi lebih baik.

Menurut Gupta and Kumar, unsur utama dalam triterpenoid saponin adalah asiatikosida dan madekassosida, yang mampu bekerja sebagai detoksifikasi pada hati, memperbaiki  kerusakan sel dengan merangsang sintesis kolagen.

Editor : Sotyati


Kampus Maranatha
Gaia Cosmo Hotel
BPK Penabur
Zuri Hotel
Back to Home