Loading...
OPINI
Penulis: KP1 00:00 WIB | Senin, 25 Maret 2013

Perempuan dalam Ironi Kehidupan

Perempuan dalam Ironi Kehidupan
Perempuan pekerja kebersihan di Jakarta yang memulai kegiatan ketika yang lain masih terlelap tidur. (Foto: Dedy Istanto)
Perempuan dalam Ironi Kehidupan

Hari ini, 8 Maret, di seluruh dunia diperingati sebagai Hari Perempuan Internasional, dan menjadi hal yang "rutin" setiap tahun sejak 1975 ketika Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menetapkan tahun itu sebagai The International Women's Years.

Dalam pekan-pekan ini isu tentang perempuan dibahas di mana-mana. Di PBB, dipilih 12 nama yang dinyatakan sebagai pahlawan bagi perempuan. Ada 10 nama perempuan dan dua pria dari berbagai negara yang disebutkan berjasa melalui perjuangan di berbagai bidang dalam melindungi hak-hak perempuan.

Di Indonesia, dan juga di berbagai negara, bahkan mungkin juga di tingkat daerah, isu tentang perempuan di bahas, dan sejumlah nama diberi penghargaan atas kegigihannya dalam memperjuangkan hak perempuan. Di Indonesia, sehari sebelumnya diumumkan lima nama yang dinilai berjasa dan memperoleh penghargaan Women of Change. Mereka berusaha dengan kegigihan untuk mengubah komunitas dalam memberikan penghormatan yang semestinya pada perempuan melalui kegiatan di berbagai bidang.

Namun demikian, peringatan ini berlangsung dalam keadaan yang masih jauh dari diharapkan. Yang dihadapai banyak perempuan di dunia sekarang masih dalam situasi yang ironis. Tanpa pengurangi penghargaan pada berbagai perjuangan yang telah dilakukan perempuan, bahkan jauh sebelum hari perempuan sedunia dijadikan ritual tahunan, situasi yang dihadapi banyak perempuan masih dalam kepiluan.

PBB mencatat bahwa kasus kekerasan pada perempuan masih mewarnai kehidupan di muka bumi ini. PBB mencatat bahwa sekarang ini sekitar 603 juta perempuan hidup di negara di mana kekerasan dalam rumah tangga atau kekerasan domestik belum diakui sebagai sebuah tindakan kriminal.

Kasus-kasus kekerasan dalam rumah tangga umumnya menempatkan perempuan sebagai korban. Angka tersebut menunjukkan bahwa masih ada banyak perempuan yang tidak dilindungi, bahkan oleh undang-undang dan konstitusi negara.

Situasi lain yang digambarkan PBB adalah lebih dari 70 persen perempuan di dunia dilaporkan mempunyai pengalaman kekerasan secara fisik atau seksual dalam hidupnya. Lebih dari 60 juta anak-anak perempuan menjadi pengantin, menikah pada usia sebelum 18 tahun. Dan serangan seksual yang terjadi pada perempuan, lebih dari separohnya terjadi pada anak-anak perempuan di bawah umum 16 tahun.

Angka-angka tersebut hanya sebagian dari situasi yang sesungguhnya dialami oleh perempuan di seluruh dunia. Bahkan kasus-kasus seperti ini berkecenderungan sebagai fenomena gunung es, di mana kasus yang belum terungkap jauh lebih banyak dari apa yang bisa dilaporkan.

Situasi ini menjadi gambaran tentang ironi kehidupan dan perempuan. Bukan saja karena fakta-fakta memilukan masih terjadi di tengah upaya yang serius untuk menempatkan perempuan dalam martabat yang sejajar dengan pria sebagai ciptaan yang mulia, tetapi juga karena paradoks yang masih terjadi dan menjadi ironi dalam kehidupan ini.

Penyebutan perempuan selalu dikaitkan dengan kehidupan dan pemeliharaan kehidupan, sehingga bumi ini pun kita sebut sebagai "ibu pertiwi". Dalam banyak kasus, perempuan menjadi perintis perdamaian, dan garda depan dalam menyiapkan generasi manusia yang beradab. Di sisi lain, kita menyaksikan kekerasan, penyerangan, pelecehan, bahkan penistaan terhadap perempuan.

Situasi ini adalah ironi. Sebab, sering kali tindakan kekerasan terhadap perempuan dilandasi oleh konsep yang diklaim sebagai ditujukan untuk memberikan kemuliaan kepada kehidupan. Padahal, tindakan itu sendiri justru sedang dalam menghancurkan kehidupan. Situasi ini juga yang mendorong peringatan hari perempuan internasional menjadi penting dan perlu dilakukan bukan sebagai sebuah rutinitas, melainkan menjadi refleksi atas kehidupan manusia. Refleksi ini akan bermakna ketika memberikan perubahan dan komitmen untuk aksi yang nyata pada setiap individu dan komunitas.

Seperti disampaikan oleh Sekretaris jenderal PBB, Ban Ki Moon, pada peringatan ini penting bagi kita untuk menempatkan perempuan di sekitar kita, dalam keluarga kita, dalam komunitas kita dengan kehormatan yang layak. Perempuan sebagai partner yang sepadan dalam menjaga kehidupan. Hal ini menjadi tindakan yang konkret dan diharapkan berkembang menjadi gerakan perubahan.

Untuk itu, mencegah dan melawan kekerasan terhadap perempuan dalam berbagai bentuknya, bukan saja perjuangan bagi perempuan, tetapi perjuangan seluruh umat manusia untuk menjaga kehidupan mencapai martabah dan kemuliaanya.

Sabar Subekti

Wartawan Senior

 

 


Kampus Maranatha
Gaia Cosmo Hotel
BPK Penabur
Zuri Hotel
Back to Home