Loading...
SAINS
Penulis: Sabar Subekti 18:02 WIB | Jumat, 21 April 2023

Perubahan Iklim Akibatkan Eropa Alami Cuaca Ekstrem Lebih Lama

Turis berjemur, saat Eropa berada di bawah gelombang panas ekstrem yang tidak biasa, di Paris, Prancis, Rabu, 3 Agustus 2022. Orang Eropa, khususnya di bagian selatan benua, mengalami tekanan panas lebih banyak selama bulan-bulan musim panas akibat perubahan iklim menyebabkan periode cuaca ekstrem yang lebih lama, sebuah studi baru yang diterbitkan Kamis, 20 April 2023 menunjukkan. (Foto: dok.AP/Francois Mori)

BERLIN, SATUHARAPAN.COM-Orang Eropa, khususnya di bagian selatan benua itu, mengalami lebih banyak tekanan panas selama bulan-bulan musim panas karena perubahan iklim menyebabkan periode cuaca ekstrem yang lebih lama, sebuah penelitian yang diterbitkan hari Kamis (20/4) menunjukkan.

Layanan Perubahan Iklim Komisi Eropa Copernicus mengatakan perbandingan data selama beberapa dekade menunjukkan rekor panas tahun lalu mengakibatkan kondisi berbahaya bagi kesehatan manusia.

"Eropa Selatan mengalami rekor jumlah hari dengan 'tekanan panas yang sangat kuat'," yang didefinisikan sebagai suhu dari 38 hingga 46 derajat Celcius (100 hingga 115 derajat Fahrenheit), katanya.

Jumlah hari musim panas dengan tekanan panas "kuat" (32 hingga 38 Celcius) atau "sangat kuat" meningkat di seluruh benua, sementara di Eropa selatan hal ini juga berlaku untuk hari "tekanan panas ekstrem" di atas 46 Celcius, kata Copernicus.

“Ada juga tren penurunan jumlah hari tanpa tekanan panas,” tambahnya.

Stres panas semakin dipandang sebagai masalah signifikan di seluruh dunia saat planet menghangat akibat perubahan iklim akibat perbuatan manusia. Para ahli mengatakan hal itu dapat menyebabkan berbagai masalah kesehatan, termasuk ruam, dehidrasi, dan serangan panas.

Peringatan itu adalah bagian dari laporan tahunan Iklim Negara Eropa Copernicus, yang mengonfirmasi bahwa benua itu mengalami tahun terpanas kedua yang tercatat pada tahun 2022. Musim panas lalu adalah rekor terpanas di seluruh Eropa dengan 1,4 Celcius (2,5 Fahrenheit) di atas periode referensi tahun 1991-2020. Wilayah Svalbard di Kutub Utara bahkan mengalami suhu musim panas 2,5 Celcius (4,5 Fahrenheit) lebih tinggi dari rata-rata, katanya.

Temperatur yang tinggi dan curah hujan yang rendah juga mengakibatkan kekeringan yang meluas, sementara kebakaran hutan musim panas menyebabkan emisi karbon tertinggi dalam 15 tahun, kata Copernicus.

Hal ini menyebabkan rekor pencairan gletser Alpine, dengan lebih dari lima kilometer kubik es menghilang, katanya. (AP)

Editor : Sabar Subekti


BPK Penabur
Gaia Cosmo Hotel
Kampus Maranatha
Back to Home