Loading...
RELIGI
Penulis: Bayu Probo 19:08 WIB | Senin, 22 Desember 2014

Serah Terima MPH PGI di Masa Adven di Hari Ibu

Pengurus PGI periode 2009-2014 dan periode 2014-2019 berfoto bersama di Gereja Toraja Jemaat Kota, Jakarta Utara, usai acara serah terima kepengurusan, Senin (22/12). Depan keempat dari kiri adalah Pdt Eri, kelima dari kiri adalah Pdt AA Yewangoe. (Foto: Bayu Probo)

JAKARTA, SATUHARAPAN.COM – “Serah terima Majelis Pekerja Harian Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia pada Masa Adven dan di Hari Ibu, Tuhan yang mengaturnya,” kata Pdt Henriette Tabita Hutabarat Lebang saat mengomentari kejadian Senin (22/12) itu.

Ketua Umum PGI periode 2014-2019 ini melanjutkan bahwa serah terima MPH PGI di tengah lilin adven yang menyala adalah simbol pengharapan atas hal-hal baru, hal-hal baik. Dalam sambutan setelah ibadah adven dan serah terima MPH PGI di Gereja Toraja Jemaat Kota, Jakarta Utara, Eri Lebang mengungkapkan bahwa pemilihan tempat di gereja ini juga memiliki simbol unik. Gereja Toraja ini berbentuk Tongkonan, rumah adat Toraja.

Tongkonan adalah simbol pemersatu masyarakat. Semua kegiatan sejak lahir hingga meninggalnya orang Toraja terjadi di rumah Tongkonan, kata Pdt Eri. Ini menjadi simbol bahwa PGI akan menyatukan seluruh gereja di Indonesia. Pdt Eri adalah utusan dari Gereja Toraja.

“Jadi, PGI tidak hanya hadir di Jl. Salemba Raya 10, atau di kantor-kantor PGIW, tetapi hadir di tiap jemaat di Indonesia,” kata ibu dua putri ini. Ia pada kesempatan ini juga menegaskan bahwa pengurus PGI periode 2009-2014 laporan pertanggungjawabannya sudah diterima oleh Sidang Raya XVI PGI di Gunungsitoli, Nias pada November lalu.

“Tidak Apa-apa Disapa Mantan Ketum PGI”

Sebelumnya, pada kesempatan yang sama Ketua Umum PGI periode 2009-2014 Andreas Anangguru Yewangoe menegaskan bahwa walaupun sudah tidak lagi menjadi pengurus MPH PGI, ia tetap membantu pengurus baru, “Tentu di balik layar,” kata ayah dua anak ini.

Ia juga memuji kepemimpinan baru di PGI ini akan berbeda sebab, “MPH diketuai seorang ibu. Jadi ia punya karakter berbeda, lebih lembut. Tetapi, tetap kritis.” Ia juga mengomentari bahwa serah terima yang bersamaan dengan peringatan Hari Ibu menjadi menarik, karena sekarang PGI dipimpin seorang ibu.

Untuk mengantisipasi kemungkinan adanya berita miring seputar peran Pdt Eri pada tugas sebelumnya pendeta dari Gereja Kristen Sumba ini menegaskan, “MPH periode ini full time full job. Sejak hari ini, Pdt Eri sudah berkantor di Salemba Raya. Walaupun harus menyelesaikan pernik-pernik di tugas terdahulu di Christian Conference of Asia (CCA) sebagai sekretaris umum, jangan salah paham jika ia sedang memiliki dua jabatan. Atau bahkan, dua penghasilan.” “Saya yakin Pdt Eri tidak akan memanfaatkan proses transisi ini secara keliru,” kata Pdt Yewangoe tegas.

Pada penutupan sambutannya, Pdt Yewangoe secara jenaka mengomentari mereka yang tidak lagi menjabat. “Ada yang tidak mau disapa dengan mantan. Mantan ini, mantan itu. Tetapi, inginnya disebut menjabat pada periode tahun in sampai tahun itu,” kata dia. “Namun, saya tidak apa-apa disapa sebagai mantan Ketua Umum PGI. Memang masa kepengurusan saya sudah berakhir. Hanya, saya tidak akan mantan dalam pelayanan,” ucapnya yang disambut tepuk tangan jemaat yang hadir.


BPK Penabur
Gaia Cosmo Hotel
Kampus Maranatha
Back to Home