Loading...
SAINS
Penulis: Sabar Subekti 09:21 WIB | Selasa, 21 Januari 2020

Wabah Virus Corona Menyebar di China

217 kasus baru dilaporkan di China hari Senin (20/1)
(Foto ilustrasi: Ist)

BEIJING, SATUHARAPAN.COM-Wabah virus korona baru telah menyebar ke lebih banyak kota di China, termasuk ibu kota Beijing dan Shanghai, yang dikonfirmasi oleh otoritas nasional dan lokal pada hari Senin (201/), dan kasus keempat telah dilaporkan di luar China.

Presiden China, Xi Jinping, mengatakan bahwa menghentikan wabah dan menyelamatkan nyawa adalah prioritas utama pemerintah, karena jumlah pasien lebih dari tiga kali lipat dan orang ketiga telah meninggal, menurut laporan Reuters.

Dia menambah bahwa kesulitan yang dihadapi untuk mengatasi wabah virus itu adalah terkait ratusan juta orang China akan bepergian ke dalam dan luar negeri selama liburan Tahun Baru Imlek yang dimulai pekan ini.

Pihak berwenang di seluruh dunia, termasuk di Amerika Serikat dan banyak negara Asia, telah meningkatkan pemeriksaan para turis dari Wuhan, kota pusat tempat virus pertama kali ditemukan.

“Wuhan adalah pusat utama penyebaran, dan perjalanan orang menjadi bagian besar dari Tahun Baru Imlek yang semakin dekat, sehingga tingkat kekhawatiran harus tetap tinggi. Masih banyak yang akan terjadi terkait wabah ini,” kata Jeremy Farrar, seorang spesialis epidemi penyakit menular dan direktur badan amal kesehatan global, Wellcome Trust.

Pihak berwenang mengkonfirmasi total 217 kasus baru virus corona di China pada Senin (201) pagi, menurut televisi pemerintah, dan 198 di antaranya berada di Wuhan.

Lima kasus baru dikonfirmasi di Beijing dan 14 lainnya di provinsi Guangdong, kata laporan itu. Pernyataan lain mengkonfirmasi kasus baru di Shanghai, sehingga jumlah kasus yang diketahui di seluruh dunia menjadi 222.

"Kehidupan dan kesehatan masyarakat harus diberi prioritas utama dan penyebaran wabah harus diatasi dengan tegas," kata Presiden Xi seperti dikutip oleh televisi pemerintah.

Virus ini termasuk dalam keluarga coronavirus yang sama dengan Severe Acute Respiratory Syndrome (SARS), yang menewaskan hampir 800 orang secara global selama wabah tahun 2002/03 yang juga dimulai di China.

Gejalanya meliputi demam dan kesulitan bernafas, yang mirip dengan banyak penyakit pernapasan lainnya dan menimbulkan komplikasi.

Melewati Batas Negara

Korea Selatan pada hari Senin (20/1) mengkonfirmasi kasus pertamanya, seorang warga negara Tiongkok berusia 35 tahun yang melakukan perjalanan dari Wuhan, pasien keempat yang dilaporkan di luar Tiongkok.

Pekan lalu, dua kasus dilaporkan di Thailand dan satu di Jepang. Ketiganya melibatkan orang-orang dari Wuhan atau yang baru-baru ini mengunjungi kota itu.

Sebuah laporan oleh MRC Centre London Imperial College untuk Analisis Penyakit Menular Global memperkirakan bahwa pada 12 Januari ada 1.723 kasus di kota Wuhan dengan timbulnya gejala yang terkait. Otoritas kesehatan Tiongkok belum mengomentari langsung laporan itu.

“Wabah ini sangat memprihatinkan. Ketidakpastian dan kesenjangan informasi masih ada, tetapi sekarang jelas bahwa ada penularan dari orang ke orang,” kata Farrar.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengatakan pada hari Senin (20/1) mengatakan bahwa  "sumber hewan" tampaknya paling mungkin menjadi sumber utama wabah dan bahwa beberapa "penularan manusia ke manusia terbatas" terjadi dalam kontak dekat.

Dewan negara China menegaskan pemerintah akan meningkatkan upaya pencegahan dan menemukan sumber infeksi dan saluran transmisi sesegera mungkin, kata televisi pemerintah.

Dampak Wabah

Sementara di sektor ekonomi, saham perusahaan farmasi dan pembuat masker di China melonjak pada Senin (20/1) terkait dengan wabah itu.

"Siapa yang tahu berapa banyak orang yang pernah ke Wuhan, dan mungkin tidak menyadari bahwa mereka telah terinfeksi?" kata seorang komentator di platform media sosial China, Weibo.

Surat kabar Global Times yang dikelola pemerintah mengatakan dalam tajuk rencana bahwa pemerintah perlu mengungkapkan semua informasi dan tidak mengulangi kesalahan yang dibuat ketika wabah SARS terjadi 18 tahun lalu. Pejabat Cina menutupi wabah SARS selama beberapa pekan sebelum meningkatnya jumlah kematian dan desas-desus memaksanya untuk mengungkapkan epidemi.

 "Menyembunyikan akan menjadi pukulan serius bagi kredibilitas pemerintah dan mungkin memicu kepanikan sosial yang lebih besar," kata editorial itu.    

Editor : Sabar Subekti


BPK Penabur
Gaia Cosmo Hotel
Kampus Maranatha
Back to Home