Loading...
SAINS
Penulis: Sabar Subekti 19:38 WIB | Kamis, 30 Juni 2022

WHO: Kasus Baru COVID-19 Global Naik 18% dalam Sepekan

Direktur Jenderal Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), Tedros Adhanom Ghebreyesus. (Foto: dok. Ist.)

JENEWA, SATUHARAPAN.COM-Jumlah kasus baru virus corona naik 18% dalam sepekan terakhir, dengan lebih dari 4,1 juta kasus dilaporkan secara global, menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).

Badan kesehatan PBB itu mengatakan dalam laporan mingguan terbarunya tentang pandemi bahwa jumlah kematian di seluruh dunia tetap relatif sama dengan pekan sebelumnya, sekitar 8.500. Kematian terkait COVID-19 meningkat di tiga wilayah: Timur Tengah, Asia Tenggara, dan Amerika.

Kenaikan mingguan terbesar dalam kasus COVID-19 baru terlihat di Timur Tengah, di mana mereka meningkat sebesar 47%, menurut laporan yang dirilis hari Rabu (29/6) malam. Infeksi meningkat sekitar 32% di Eropa dan Asia Tenggara, dan sekitar 14% di Amerika, kata WHO.

Direktur Jenderal, WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus, mengatakan kasus meningkat di 110 negara, sebagian besar didorong oleh varian Omicron BA.4 dan BA.5.

“Pandemi ini berubah, tetapi belum berakhir,” kata Tedros pekanini saat konferensi pers. Dia mengatakan kemampuan untuk melacak evolusi genetik COVID-19 berada "di bawah ancaman" ketika negara-negara melonggarkan upaya pengawasan dan pengurutan genetic. Dia memperingatkan bahwa itu akan membuat lebih sulit untuk menangkap varian baru yang muncul dan berpotensi berbahaya.

Dia menyerukan negara-negara untuk mengimunisasi populasi mereka yang paling rentan, termasuk petugas kesehatan dan orang-orang berusia di atas 60 tahun. Dia mengatakan bahwa ratusan juta tetap tidak divaksinasi dan berisiko penyakit parah dan kematian.

Tedros mengatakan bahwa sementara lebih dari 1,2 miliar vaksin COVID-19 telah diberikan secara global, tingkat imunisasi rata-rata di negara-negara miskin adalah sekitar 13%.

“Jika negara-negara kaya memvaksinasi anak-anak sejak usia enam bulan dan berencana untuk melakukan putaran vaksinasi lebih lanjut, tidak dapat dipahami untuk menyarankan bahwa negara-negara berpenghasilan rendah tidak boleh memvaksinasi dan meningkatkan (orang) mereka yang paling berisiko,” katanya.

Menurut angka yang dikumpulkan oleh Oxfam dan Aliansi Vaksin Rakyat, kurang dari setengah dari 2,1 miliar vaksin yang dijanjikan kepada negara-negara miskin oleh Kelompok Tujuh (G7) negara ekonomi besar telah dikirimkan.

Awal bulan ini, Amerika Serikat mengesahkan vaksin COVID-19 untuk bayi dan anak-anak pra sekolah, meluncurkan rencana imunisasi nasional yang menargetkan 18 juta anak baslita. Regulator Amerika juga merekomendasikan agar beberapa orang dewasa mendapatkan booster yang diperbarui pada musim gugur yang cocok dengan varian virus corona terbaru. (AP)

Editor : Sabar Subekti


BPK Penabur
Gaia Cosmo Hotel
Kampus Maranatha
Back to Home