Loading...
HAM
Penulis: Sabar Subekti 08:47 WIB | Sabtu, 05 Desember 2020

WHO Peringatkan Si Miskin Diabaikan dalam Mendapatkan Vaksin

Seorang karyawan bekerja di jalur produksi di pabrik perusahaan farmasi multinasional Inggris, GlaxoSmithKline (GSK), di Saint-Amand-les-Eaux, Prancis utara, pada 3 Desember 2020, di mana diproduksi bahan pembantu untuk proses pembuatan vaksin COVID-19. (Foto: AFP)

JENEWA, SATUHARAPAN.COM-Kepala Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperingatkan bahwa orang miskin berisiko "diabaikan" saat negara-negara kaya meluncurkan vaksin COVID-19, yang menurutnya harus menjadi barang publik.

Berbicara pada KTT PBB tentang pandemi, Direktur Jenderal WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus, mengatakan dunia melihat "cahaya di ujung terowongan" dalam krisis COVID-19 yang hampir setahun lamanya.

"Tapi akan saya perjelas. Kita tidak bisa begitu saja menerima dunia di mana orang miskin dan terpinggirkan ‘diinjak-injak’ oleh orang kaya, dan berkuasa untuk mendapatkan vaksin," kata Tedros.

"Ini adalah krisis global dan solusinya harus dibagikan secara adil sebagai barang publik global. Bukan sebagai komoditas swasta yang memperlebar ketimpangan, dan menjadi alasan lain sehingga sebagian orang tertinggal," katanya.

Tidak Ada Vaksin untuk Orang Miskin

Dia juga memperingatkan bahwa dunia memiliki banyak tantangan lain: "Tidak ada vaksin untuk orang miskin, tidak ada vaksin untuk orang yang kelaparan. Tidak ada vaksin untuk ketidaksetaraan. Tidak ada vaksin untuk perubahan iklim."

Inggris telah menjadi negara Barat pertama yang menyetujui vaksin untuk COVID-19, dengan Amerika Serikat dan negara-negara lain diharapkan segera menyusul dan memulai program imunisasi massal.

Konsorsium COVAX yang didukung PBB telah dibentuk untuk menyediakan vaksin secara adil di seluruh dunia.

Amerika Serikat telah menjadi pertahanan penting, tetapi Presiden Donald Trump menyerang Tedros dan menarik AS dari Organisasi Kesehatan Dunia, meskipun Presiden terpilih, Joe Biden, berencana agar AS untuk tetap menjadi bagian badan PBB itu.

Tedros, seorang dokter dan diplomat Ethiopia, memuji negara-negara yang menyediakan vaksin, tes, dan pengobatan gratis untuk COVID-19, tetapi mempertanyakan mengapa upaya serupa tidak dilakukan untuk penyakit sebelumnya seperti kanker, tuberkulosis atau HIV/AIDS, atau untuk kebutuhan seperti kesehatan ibu.

“Pandemi hanya menggarisbawahi mengapa jaminan kesehatan universal sangat penting,” katanya. (AFP)

Editor : Sabar Subekti


Kampus Maranatha
Gaia Cosmo Hotel
BPK Penabur
Zuri Hotel
Back to Home