Loading...
SAINS
Penulis: Reporter Satuharapan 21:10 WIB | Sabtu, 07 September 2019

Angka Buta Aksara di Indonesia Bagian Timur Masih Tinggi

Ilustrasi. Haris Rizki (34) dengan mengenakan kostum badut mengajar sejumlah warga di kawasan Pawiyatan, Surabaya, Jawa Timur, Senin (30/1/2017). Haris yang berprofesi sebagai penjaga perpustakaan tersebut dengan menggunakan kostum badut membantu warga khususnya mereka yang buta aksara untuk dapat membaca dan menulis. (Foto: Antara/Zabur Karuru)

MAKASSAR, SATUHARAPAN.COM - Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Muhadjir Effendy mengatakan bahwa angka buta aksara di wilayah provinsi yang ada di Indonesia bagian timur masih tinggi.

Menurut data Badan Pusat Statistik, pada tahun 2018 masih ada enam provinsi di Indonesia dengan angka buta aksaranya lebih dari empat persen, yaitu Papua (22,88 persen), Nusa Tenggara Barat (7,51 persen), Nusa Tenggara Timur (5,24 persen), Sulawesi Barat (4,64 persen), Sulawesi Selatan (4,63 persen), dan Kalimantan Barat (4,21 persen).

"Pemberantasan buta aksara pada segmen populasi ini akan sangat sulit, tetapi profilnya sudah semakin jelas, yaitu mayoritas berada di Indonesia bagian timur, tinggalnya di pedesaan dan di kantong-kantong kemiskinan, umumnya perempuan dan umurnya di atas 45 tahun," kata Muhadjir Effendy pada peringatan Hari Aksara Internasional di Makassar, Sulawesi Selatan, hari Sabtu (7/9).

Dilansir Antara, pemberantasan buta aksara di provinsi-provinsi itu, Muhadjir mengatakan, akan signifikan menurunkan angka buta aksara di Indonesia.

Data BPS tahun 2018, jumlah penduduk buta aksara turun menjadi 3,29 juta orang, atau hanya 1,93 persen dari total populasi penduduk. Pada awal kemerdekaan jumlah penduduk buta aksara mencapai 97 persen. Namun pada tahun 2015, jumlah penduduk buta aksara telah berkurang menjadi 3,4 persen atau sebanyak 5,6 juta orang.

"Tugas kita bersama untuk menuntaskan buta aksara dan membebaskan bangsa ini dari kebutaaksaraan, harus terus kita lakukan. Jika kita mampu membebaskan diri dari buta aksara secara keseluruhan, maka kita bisa berharap kualitas sumber daya manusia di seluruh Indonesia akan semakin meningkat," kata dia.

Ia mengatakan bahwa tantangan masa depan semakin berat dan bekal kemampuan membaca, menulis, dan berhitung saja tidak akan cukup untuk menghadapinya.

Selain keterampilan membaca dan menulis, ada lima literasi dasar lain yang mesti dikuasai, yakni literasi numerasi, literasi digital, literasi finansial, literasi sains, serta literasi budaya dan kewargaan.

"Gerakan Pemberantasan Buta Aksara di seluruh dunia mungkin akan segera bergeser menjadi gerakan penguasaan enam literasi dasar tersebut," kata Muhadjir.

Ia menghimbau seluruh pemerintah provinsi, kabupaten, dan kota di Tanah Air menyelenggarakan peringatan Hari Aksara Internasional di daerah masing-masing untuk untuk menguatkan kembali komitmen bersama pemerintah dan seluruh komponen masyarakat dalam memberantas buta aksara dan membangun sumber daya manusia yang berdaya saing tinggi.

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan juga mengimbau seluruh keluarga, sekolah, dan masyarakat untuk bersama-sama mengembangkan dan menguatkan budaya literasi.

"Orang tua perlu mengenalkan buku sejak dini. Sediakan waktu untuk membacakan buku atau cerita kepada anak-anak. Kemudian sekolah harus berperan aktif mengadakan berbagai kegiatan literasi bersama siswa dan juga masyarakat dapat mengambil peran dengan ikut menciptakan lingkungan yang kondusif untuk berkembangnya budaya literasi," katanya.

 

Tidak Mudah

Direktur Jenderal (Dirjen) Pendidikan Anak Usia Dini dan Pendidikan Masyarakat Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Harris Iskandar mengatakan pengentasan buta aksara di daerah terpencil tidak mudah untuk dilakukan.

"Hal ini dikarenakan angka buta aksara banyak terdapat di daerah terpencil, sehingga tidak mudah untuk dilakukan," ujar Harris saat peringatan Hari Aksara Internasional di Makassar, Sulawesi Selatan, hari Sabtu (7/9).

Meski demikian, pihaknya bertekad untuk menuntaskan buta aksara hingga nol persen.

Ke depan, kata dia keterampilan baca, tulis dan hitung (calistung) tidak cukup untuk bekal kehidupan. Menurut dia, orang dewasa menguasai keterampilan literasi digital, literasi keuangan, literasi sains, literasi kewargaan dan kebudayaan.

"Jadi tidak hanya sekedar pengentasan buta aksara saja," ujar dia.

Pihaknya dan lembaga lain juga menyelenggarakan berbagai pelatihan untuk memberikan bekal keterampilan literasi lainnya itu. Contohnya untuk literasi digital dilakukan bersama Kementerian Komunikasi dan Informatika, dan literasi keuangan oleh Otoritas Jasa Keuangan.

Hari Aksara Internasional 2019 mengusung tema “Ragam Budaya Lokal dan Literasi Masyarakat.” Tema itu didasarkan oleh kesadaran atas keragaman Indonesia yang memiliki lebih dari 1.331 suku bangsa dan tidak kurang dari 652 bahasa daerah.​ (antaranews.com)

 


BPK Penabur
Gaia Cosmo Hotel
Kampus Maranatha
Back to Home