Loading...
HAM
Penulis: Sabar Subekti 04:49 WIB | Minggu, 13 November 2022

Aktivis HAM, Korban Protes di Iran 326, Termasuk Anak dan Perempuan

Para demonstran Iran turun ke jalan-jalan di ibu kota Teheran selama protes untuk Mahsa Amini, beberapa hari setelah dia meninggal dalam tahanan polisi. (Foto: dok. AFP)

TEHERAN, SATUHARAPAN.COM-Pasukan keamanan Iran telah menewaskan sedikitnya 326 orang dalam tindakan keras terhadap protes nasional sejak kematian Mahsa Amini dalam tahanan, kata Hak Asasi Manusia Iran dalam pernyataan terbaru pada hari Sabtu (12/11).

Republik Islam itu dicengkeram oleh protes yang meletus atas kematian Amini pada 16 September, tiga hari setelah penangkapannya karena dugaan pelanggaran aturan ketat berpakaian untuk perempuan.

Protes dipicu oleh kemarahan atas aturan berpakaian bagi perempuan, tetapi telah berkembang menjadi gerakan luas melawan teokrasi yang telah memerintah Iran sejak revolusi 1979.

"Setidaknya 326 orang, termasuk 43 anak-anak dan 25 perempuan, telah dibunuh oleh pasukan keamanan dalam protes nasional yang sedang berlangsung," kata IHR yang berbasis di Oslo dalam sebuah pernyataan yang diposting di situsnya.

Jumlah korban terbaru mewakili peningkatan 22 orang sejak kelompok hak asasi mengeluarkan angka sebelumnya pada 5 November.

Ini termasuk setidaknya 123 orang tewas di Provinsi Sistan-Baluchistan, di perbatasan tenggara Iran dengan Pakistan, angka yang juga naik dari 118 korban terakhir, menurut IHR.

Sebagian besar dari mereka tewas pada 30 September ketika pasukan keamanan menembaki pengunjuk rasa setelah salat Jumat di Zahedan, ibu kota Sistan-Baluchistan, yang oleh para aktivis disebut sebagai pembantaian  “Jumat Berdarah.”

Protes itu dipicu oleh dugaan pemerkosaan dalam tahanan seorang gadis berusia 15 tahun oleh seorang komandan polisi di kota pelabuhan Chabahar di provinsi itu.

Analis mengatakan Baluchi terinspirasi oleh protes yang berkobar atas kematian Amini, yang awalnya didorong oleh hak-hak perempuan tetapi diperluas dari waktu ke waktu untuk memasukkan keluhan lainnya.

Direktur IHR, Mahmood Amiry-Moghaddam, meminta komunitas internasional untuk bertindak sesegera mungkin untuk menghentikan tindakan keras tersebut.

“Membangun mekanisme investigasi dan akuntabilitas internasional oleh PBB akan memfasilitasi proses meminta pertanggungjawaban para pelaku di masa depan dan meningkatkan biaya represi berkelanjutan oleh republik Islam,” katanya dalam pernyataan tersebut.

Kelompok hak asasi lainnya, Amnesty International, juga menyerukan mekanisme semacam itu, yang katanya didukung oleh petisi yang ditandatangani lebih dari satu juta orang.

IHR mengatakan masih menyelidiki laporan kematian lainnya, yang berarti jumlah sebenarnya yang terbunuh “pasti lebih tinggi.” (AFP)

Editor : Sabar Subekti


BPK Penabur
Gaia Cosmo Hotel
Kampus Maranatha
Back to Home