Loading...
EKONOMI
Penulis: Sabar Subekti 13:49 WIB | Selasa, 07 November 2023

Badan Antariksa Eropa Umumkan Kompetisi Membangun Kapal Kargo Luar Angkasa

75 juta euro telah diperoleh untuk mendanai tahap pertama proyek tersebut, kata kepala ESA
Kanselir Jerman, Olaf Scholz (Kiri) bereaksi saat ia mencoba mengenakan sarung tangan astronot bersama CEO Badan Antariksa Eropa (ESA), Josef Aschbacher (kedua dari kiri), astronot Jerman ESA, Matthias Maurer (kanan), dan Alexander Gerst (kedua dari kanan) di Fasilitas Neutral Bouyancy selama kunjungan ke European Astronaut Center (EAC) ESA di Cologne, Jerman bagian barat, pada 1 September 2023. (Foto: dok. AFP)

SEVILLE, SATUHARAPAN.COM-Badan Antariksa Eropa (ESA) mengumumkan pada hari Senin (6/11) bahwa mereka akan mengadakan kompetisi antar perusahaan untuk membangun sebuah kapal yang akan mengirimkan kargo ke Stasiun Luar Angkasa Internasional (ISS), yang mungkin merupakan langkah pertama menuju misi independen yang membawa astronot.

Ke-22 negara anggota ESA, yang menteri antariksanya bertemu pada pertemuan puncak dua hari di kota Seville, Spanyol, juga setuju untuk memberikan dukungan finansial untuk roket Ariane 6 yang telah lama tertunda di Eropa.

KTT ini diadakan pada saat yang sulit bagi upaya luar angkasa Eropa, karena penundaan Ariane 6 telah menyebabkan benua tersebut tidak memiliki cara untuk meluncurkan misinya ke luar angkasa secara mandiri.

Eropa juga menghadapi persaingan yang semakin ketat tidak hanya dari Amerika Serikat, tetapi juga pemain baru China dan India, serta perusahaan swasta seperti SpaceX milik miliarder Elon Musk.

Kepala ESA, Josef Aschbacher, mengatakan pada pertemuan puncak tersebut bahwa “perekonomian baru sedang berkembang di orbit rendah Bumi yang akan mengubah eksplorasi ruang angkasa,” dan menambahkan bahwa “perusahaan swasta sedang merevolusi lanskap mulai dari peluncur hingga eksplorasi”.

Aschbacher mengusulkan “kompetisi antara perusahaan-perusahaan Eropa yang inovatif” untuk mengembangkan wahana yang akan mengangkut kargo ke ISS pada tahun 2028 dan kemudian membawanya kembali ke Bumi.

Proyek ini akan membutuhkan “kemampuan transportasi, docking, dan masuk kembali, sesuatu yang tidak dimiliki Eropa saat ini,” tambahnya. “Kendaraan layanan nantinya dapat berevolusi menjadi kendaraan awak dan melayani tujuan lain di luar orbit rendah Bumi,” katanya.

Aschbacher juga meminta Eropa untuk memutuskan skala ambisinya di luar angkasa. Pada bulan April, para ahli dalam laporan yang ditugaskan oleh ESA menyerukan Eropa untuk membangun “kehadiran berkelanjutan” di permukaan Bulan.

Langkah Pertama

Sebuah sumber yang dekat dengan perundingan tersebut mengatakan kepada AFP bahwa “jika kami ingin melakukan penerbangan berawak, (kompetisi kapal kargo) adalah langkah pertama.”

“Anda harus dapat mengirim kapal kargo ke stasiun dan kembali lagi. Itu adalah batu bata pertama,” tambah sumber itu.

Aschbacher mengatakan bahwa 75 juta euro (setara Rp 1.256 triliun) telah diperoleh untuk mendanai tahap pertama proyek tersebut, yang juga akan disumbangkan oleh perusahaan.

Perusahaan Eksplorasi, sebuah perusahaan rintisan Perancis-Jerman yang sudah mengembangkan kendaraan untuk mengirimkan kargo ke stasiun luar angkasa swasta yang potensial di masa depan, menyambut baik berita tersebut.

“Ini adalah ambisi baru bagi Eropa,” kata CEO perusahaan tersebut, Helene Huby, kepada AFP. Huby mengatakan pendekatan ESA yang “masuk akal” mengikuti peta jalan SpaceX dan program luar angkasa AS, Rusia, dan China.

“Yang pertama dimulai dengan kapal kargo dan kemudian mengirim orang,” katanya.

Persaingan ini menunjukkan pendekatan baru yang dilakukan ESA berdasarkan model badan antariksa AS, NASA, yang berarti bahwa untuk misi masa depan, mereka dapat membeli roket dari perusahaan swasta daripada mengembangkan program serupa milik mereka sendiri.

Gagasan ini tampaknya bertentangan dengan prinsip keuntungan geografis ESA yang sudah lama ada, yang menyatakan bahwa investasi setiap negara harus menghasilkan manfaat industri yang kira-kira sama bagi perusahaan-perusahaannya.

Aschbacher menyarankan bahwa prinsip ini patut dipertanyakan.

Krisis Peluncur

KTT tersebut juga bertujuan untuk mengatasi “krisis peluncur” di Eropa, yang menurut Aschbacher adalah yang “paling serius” dalam sejarah upaya luar angkasa di benua tersebut.

Sudah tertunda selama empat tahun, roket Ariane 6 generasi berikutnya di Eropa kini tidak dijadwalkan untuk melakukan penerbangan perdananya hingga tahun depan.

Eropa kehilangan akses terhadap roket Soyuz Rusia setelah Moskow menginvasi Ukraina tahun lalu, dan peluncur Vega C yang lebih kecil masih tidak dapat digunakan setelah kegagalan penerbangan komersial pertamanya pada bulan Desember.

ESA mengumumkan pada pertemuan puncak tersebut bahwa program Ariane 6 akan menerima 340 juta euro (setara Rp 5,37 triliun) setelah negosiasi antara Perancis, Jerman dan Italia, tiga kontributor terbesar badan tersebut.

Roket Vega C dapat disubsidi sebesar 21 juta euro per tahun dari penerbangan ke-26 hingga ke-42, tambahnya. ESA juga mengumumkan akan “memanfaatkan ruang untuk masa depan yang lebih hijau”.

Pekan lalu, ESA dan Uni Eropa sepakat untuk bekerja sama guna mempercepat penggunaan misi observasi Bumi untuk mengumpulkan data perubahan iklim. (AFP)

Editor : Sabar Subekti


BPK Penabur
Gaia Cosmo Hotel
Kampus Maranatha
Back to Home