Loading...
FLORA & FAUNA
Penulis: Melki Pangaribuan 18:38 WIB | Jumat, 21 Januari 2022

Bali Lepas 40 Tukik Penyu

Relawan mempersiapkan bayi penyu sisik (Eretmochelys imbricata) yang diselamatkan dari predator oleh komunitas konservasi setempat, untuk dilepaskan ke laut, di Sanur, Bali, 20 Januari 2022. (REUTERS/Sultan Anshori)

BALI, SATUHARAPAN.COM - Dalam usaha menyelamatkam penyu dari ancaman kepunahan, Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Bali baru-baru ini melepaskan puluhan tukik atau bayi penyu ke laut. Kegiatan ini mendapat sambutan hangat masyarakat setempat. 

Kamis pagi menjelang siang (20/1), puluhan orang tampak berkumpul di Pantai Sanur Bali. Di tangan mereka masing-masing, ada seekor tukik. Tukik atau bayi penyu ini secara beramai-ramai kemudian dilepaskan ke laut.

Kegiatan ini memang terkesan sederhana, namun sesungguhnya memiliki makna besar. Kepala BKSDA Bali, Agus Budi Santoso, menjelaskan, “Persentase tukik lahir hingga sampai dia bisa bertelur itu hanya satu hingga dua persen saja. Angkanya sangat kecil. Bahkan ada beberapa literatur yang menunjukkan bahwa dari 1.000 ekor, maksimal hanya lima ekor yang bisa bertelur. Karena itu, semakin banyak kita melepaskannya, semakin baik bagi kelestarian spesies tersebut."

Agus menjelaskan, kegiatan melepaskan penyu dengan melibatkan masyarakat merupakan upaya untuk menyadarkan publik mengenai pentingnya menyelamatkan spesies-spesies penyu yang saat ini terancam punah.

“Hari ini kita melepaskan 40 anakan dari dua jenis, penyu sisik dan penyu lekang. Sebagian besar adalah penyu lekang. Penyu sisik tidak terlalu banyak karena memang tidak banyak penyu sisik yang bertelur saat ini di Bali,” jelasnya.

Menurut World Wildlife Fund (WWF), penyu sisik diklasifikasikan sebagai spesies yang sangat terancam punah, sementara penyu lekang dikategorikan sebagai spesies yang rentan.

Para relawan terlihat antusias saat terlibat dalam kegiatan melepasliarkan tukik-tukik penyu ini, termasuk Muhammad Arsa Zayan yang berusia empat tahun. “Saya senang melepas penyu ini di laut,” ujar mereka.

Made Ayu Diah Permata, mahasiswa berusia 20 tahun, mengaku mengikuti kegiatan ini karena kecintaannya pada lingkungan. “Perasaan saya sangat senang bisa berpartisipasi dalam kegiatan ini, karena dengan upaya ini kita bisa melestarikan habitat penyu yang ada di Bali.”

Ketika ditanya apa pelajaran yang bisa dipetik langsung dari kegiatan ini, perempuan itu menjawab, “Kita bisa mengedukasi masyarakat agar tidak ada perburuan liar terhadap penyu. sehingga penyu bisa dilestarikan agar anak cucu kita bisa tetap melihatnya.”

National Geographic menyebutkan, saat ini enam dari tujuh spesies penyu yang eksis di dunia diklasifikasikan sebagai satwa yang terancam punah. Menurut majalah lingkungan bergengsi itu, aktivitas manusia, seperti perburuan liar dan pembangunan pariwisata yang merusak habitat penyu -- dituding sebagai penyebab utama satwa ini mendekati ambang kepunahan.


BPK Penabur
Gaia Cosmo Hotel
Back to Home