Loading...
DUNIA
Penulis: Kaviel Alawy 18:58 WIB | Kamis, 18 Agustus 2016

Demi Menampung Tersangka Kudeta, Turki Bebaskan 38.000 Kriminal

Turki memutuskan pada hari Rabu (17/8) untuk membebaskan 38.000 kriminal. (Foto: Adam Altan/ AFP)

ISTANBUL, SATUHARAPAN.COM - Turki akan mengosongkan penjara yang menampung pulahan ribu kriminal pada hari Rabu (18/8) guna menampung para tersangka yang terkait kudeta gagal bulan lalu, termasuk wartawan, guru, hakim dan orang kejaksaan.

Keputusan mengejutkan untuk mengeluarkan begitu banyak kriminal adalah ukuran dari ketegangan atas perintah Presiden Recep Tayyip Erdogan yang memperluas pembersihan orang-orang yang dicurigai sebagai musuh pemerintah. Upaya ini telah menciptakan ruang kosong di berbagai lembaga pemerintah, pengadilan, sekolah, media berita dan di banyak profesi lain.

Dalam kondisi darurat memungkinkan Turki untuk melakukan tindakan tanpa harus menunggu parlemen membuat undang-undang baru. Pada hari Rabu (18/8) Turki telah mengeluarkan keputusan untuk mulai membebaskan lebih dari 38.000 kriminal, atau kira-kira satu dari lima orang tahanan. Sebagaian besar akan dibebaskan pada akhir minggu ini.

Pemerintah telah menuding Fethullah Gulen atas terjadinya pemberontakan 15 Juli lalu yang gagal. Namun pemerintah telah bertindak jauh guna berjaga-jaga, dengan menangkap para perwira militer yang dituduh terlibat kudeta.

Penjara sudah terisi penuh dalam minggu-minggu pasca kudeta. Banyak tahanan yang tidur di ruang komunal penjara, kata Presiden Asosiasi HAM Turki, Ozturk Turkdogan. Pihak berwenang juga telah menggunakan arena olahraga sampai posko banjir untuk menampung para tahanan.

Berdasarkan rencana pelepasan tahanan, para kriminal yang telah dinyatakan bersalah dan telah menjalankan setengah dari hukumannya akan dibebaskan secara bersyarat. Untuk para kriminal yang terlibat kasus pembunuhan, pemerkosaan atau kekerasan lainnya yang tidak memenuhi syarat tidak diperkenankan untuk dibebaskan.

“Sebelum terjadi kudeta, kondisi penjara memang sudah melampaui kapasitas,” kata Sezgin Tanrikulu, salah seorang dari kelompok oposisi sekuler utama Partai Rakyat Republik. “Kami telah mendengar laporan tentang para napi yang harus berbagi tempat tidur atau harus tidur di koridor,” tambahnya.

Aktivis HAM telah menyuarakan keprihatinan tentang pemerintah yang tidak membedakan mereka yang jelas mendukung kudeta dan mereka yang mendonasikan uangnya dalam rangka amal ke rekening bank yang berhubungan dengan Gulen atau sekolah yang berhubungan dengannya.

Menurut laporan  kelompok advokasi internasional Reporter Without Borders, Turki memimpin kembali dengan jumlah tahanan jurnalis terbanyak di dunia, posisi ini sempat didapatkannya beberapa tahun lalu.

“Sangat disayangkan membebaskan para pencuri, dan semua kriminal untuk mengosongkan penjara guna mengisinya kembali oleh para intelektual, penulis, aktivis HAM” kata Orhan Kemal Cengiz, seorang kolumnis dan pengacara HAM yang ditahan dalam pembersihan yang dilakukan Turki pasca kudeta. (kav/nytimes.com)

Editor : Eben E. Siadari


BPK Penabur
Gaia Cosmo Hotel
Kampus Maranatha
Back to Home