Loading...
SAINS
Penulis: Reporter Satuharapan 10:34 WIB | Jumat, 03 Mei 2019

Dirjen Bimas Kristen: Jadikan Pendidikan Basis Pembangunan Bangsa

Ilustrasi. Pelajar SD YPPK Yuruf Kampung Amgorto, Distrik Yaafi, Kabupaten Keerom, Papua, sedang berlatih baris-berbaris dan tata cara upacara penaikan bendera. (Foto: Dokumen Yonif 725/WRG)

JAKARTA, SATUHARAPAN.COM – Dirjen Bimas Kristen Thomas Pentury menyampaikan, sebuah bangsa akan menemukan jati diri dan peradabannya jika meletakkan pendidikan sebagai basis pembangunannya.

Thomas Pentury menyampaikan hal itu seusai mengikuti upacara Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) 2019 di halaman kantor Kementerian Agama Jalan Lapangan Banteng Barat Nomor 3-4 Jakarta Pusat, Kamis (2/5).

Thomas mengajak Hardiknas dijadikan momentum untuk melihat pendidikan sebagai sebuah elevator yang mampu dalam memindahkan atau mengangkat posisi bangsa ke level lebih tinggi. “Pemindahan pada level yang lebih tinggi akan memberikan ruang peradaban yang lebih maju,” kata Thomas, seperti dilaporkan M Arif Efendi dan dilansir situs kemenag.go.id.

Mengutip Bapak Pendidikan Nasional Ki Hajar Dewantoro, lanjut Thomas, karsa bukanlah sebuah kehendak, melainkan perwujudan, melalui sebuah proses pendidikan yang mempertimbangkan dimensi kemanusiaan, sebagai ciptaan Tuhan.

“Dalam konteks seperti itu, maka pendidikan harus menjadi pilar penting pembangunan manusia Indonesia. Selamat Merayakan Hari Pendidikan Nasional 2019,” kata Thomas.

Muhadjir Effendy dalam sambutan Hardiknas yang dibacakan Dirjen Pendidikan Islam Kamaruddin Amin, menjelaskan bahwa dalam perspektif Kemendikbud, pembangunan sumber daya manusia menekankan dua penguatan, yaitu pendidikan karakter dan penyiapan generasi terdidik yang terampil dan cakap dalam memasuki dunia kerja. Pendidikan karakter dimaksudkan untuk membentuk insan berakhlak mulia, empan papan, sopan santun, tanggung jawab, serta berbudi pekerti luhur.

Pendidikan juga menjadi ikhtiar untuk membekali keterampilan dan kecakapan disertai pula dengan penanaman jiwa kewirausahaan. Tentu, semua itu membutuhkan profesionalitas kinerja segenap pemangku kepentingan dalam dunia pendidikan di tingkat pusat dan daerah.

“Peradaban dunia berkembang secepat deret ukur. Sementara dunia pendidikan bergerak seperti deret hitung. Hadirnya Revolusi Industri 4.0 telah mempengaruhi cara kita hidup, bekerja, dan belajar,” kata Muhadjir.

Dalam pandangan Muhadjir, perkembangan teknologi yang semakin canggih, dapat mempengaruhi cara berpikir, berperilaku, dan karakter peserta didik. Untuk itu, peserta didik harus memiliki karakter dan jati diri bangsa di tengah perubahan global yang bergerak cepat.

“Presiden RI Joko Widodo, dalam banyak kesempatan menyampaikan bahwa perhatian pemerintah saat ini mulai bergeser dari pembangunan infrastruktur ke pembangunan sumber daya manusia. Di sini kekuatan sektor pendidikan dan kebudayaan menemukan urgensinya,” kata Muhadjir.

 

Kampus Maranatha
BPK Penabur
Zuri Hotel
Back to Home