Loading...
EKONOMI
Penulis: Eben E. Siadari 06:58 WIB | Kamis, 14 Januari 2016

Harga Minyak Jatuh, BI Rate Berpeluang Turun

Ilustrasi: sebuah nasihat mengelola uang di Bursa Efek Indonesia. BI Rate kini dinilai berpeluang diturunkan setelah harga minyak dunia jatuh ke bawah US$ 30 per barel (Foto: Dedy Istanto)

JAKARTA, SATUHARAPAN.COM - Pengamat ekonomi dari Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Dzulfian Syafrian menilai suku bunga acuan Bank Indonesia (BI rate) bisa diturunkan pada 2016 ini.

"Pada tahun 2016, bank sentral sepertinya bisa menurunkan suku bunga acuannya jika melihat perkembangan yang ada saat ini," kata Dzulfian saat dihubungi Antara dari Jakarta, Rabu.

Penurunan BI rate tersebut, kata Dzulfian, memungkinkan karena pada tahun 2016 diprediksi harga minyak dunia akan terus rendah di kisaran 30 dolar AS per barel.

Dengan rendahnya harga minyak dunia, katanya, akan menyebabkan komoditas energi dan lainnya ikut turun sehingga inflasi juga diprediksi akan rendah seperti tahun 2015.

"Pada tahun ini inflasi diprediksi akan rendah seperti tahun 2015 di kisaran tiga persen seperti target BI karena harga minyak dunia yang juga turun sehingga ini momentum baik bagi BI untuk menurunkan suku bunga acuannya," ujar dia.

Harga minyak dunia jatuh di bawah 32 dolar AS per barel pada Senin (Selasa pagi WIB), untuk pertama kalinya dalam 12 tahun di tengah tanda-tanda bahwa Iran dapat bebas meningkatkan ekspornya dalam beberapa minggu.

Menurut AFP, di perdagangan New York, minyak mentah light sweet atau West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Februari merosot 1,75 dolar AS menjadi berakhir di 31,41 dolar AS per barel, tingkat yang terakhir disaksikan pada 23 Desember 2003.

Patokan Eropa, minyak mentah Brent North Sea untuk pengiriman Februari, turun 1,61 dolar AS menjadi menetap di 31,55 dolar AS per barel, penutupan terendah yang terakhir terjadi pada April 2004.

Sebelumnya harga anjlok sebesar 10 persen pekan lalu karena kekhawatiran tentang perekonomian Tiongkok, yang merupakan konsumen energi terbesar di dunia, membenamkan data positif laporan ketenagakerjaan AS yang kuat.

Sementara itu, terkait suku bunga bank sentral Amerika Serikat Federal Reserve (The Fed) yang fluktuatif dan menjadi pertimbangan BI untuk menurunkan suku bunga acuannya karena dikhawatirkan ada gejolak terhadap rupiah, Dzulfian mengatakan hal tersebut terbukti salah.

"The Fed telah menaikan suku bunganya dan rupiah juga aman saja, hal itu karena sebelumnya telah diprediksi oleh pasar sehingga sesungguhnya bisa diturunkan, tidak apa-apa menurut saya," katanya.

Penurunan suku bunga acuan tersebut, kata Dzulfian, bisa diturunkan dengan tingkat minimal 25 basis poin sehingga akan berdampak pada efek domino dalam kebijakan itu dan menjadi stimulus bagi perekonomian.

"Dengan penurunan suku bunga multiplier efeknya akan besar, seperti pelaku usaha bisa bernafas karena bisa meminjam modal usaha dengan bunga yang ringan sehingga terjadi perputaran ekonomi yang besar. Sekarang ini momentum untuk dunia usaha bangkit karena harga minyak juga sedang rendah," ujarnya. (Ant) 

 


BPK Penabur
Gaia Cosmo Hotel
Kampus Maranatha
Back to Home