Loading...
DUNIA
Penulis: Sabar Subekti 06:34 WIB | Kamis, 27 Agustus 2020

Ketegangan di Mediterania Timur, Yunani Latihan Militer Bersama Prancis dan Italia

Pesawat F-16 Angkatan Udara Yunani mendarat di Pangkalan Udara Andreas Papandreou, Siprus, dekat kota pesisir barat daya Paphos, Siprus, hari Selasa (25/8/2020). (Foto: AP)

ANKARA, SATUHARAPAN.COM-Presiden Turki, Recep Tayyip Erdogan, memperingatkan bahwa Turki tidak akan membuat "konsesi" di Mediterania timur dan mengatakan kepada Yunani untuk menghindari mengambil langkah-langkah yang dapat menyebabkan "kehancuran".

"Kami tidak mengawasi wilayah, kedaulatan, dan kepentingan orang lain, tetapi kami tidak akan membuat konsesi atas apa yang menjadi milik kami," kata Erdogan. Dia mendesak Yunani untuk "menghindari kesalahan yang akan menjadi jalan menuju kehancuran," katanya hari Rabu (26/8) dikutip AFP.

Latihan Militer

Sementara itu, Yunani mengatakan akan meluncurkan latihan militer pada Rabu bersama Prancis, Italia, dan Siprus di Mediterania timur, fokusnya pada meningkatnya ketegangan antara Athena dan Ankara.

Latihan bersama di selatan Siprus dan pulau Kreta Yunani akan berlangsung tiga hari, kata kementerian pertahanan.

Ketegangan meningkat ketika Turki mengirim kapal penelitian “Oruc Reis” disertai dengan kapal perang ke perairan yang disengketakan pada 10 Agustus.

"Siprus, Yunani, Prancis, dan Italia telah sepakat untuk mengerahkan kehadiran bersama di Mediterania timur sebagai bagian dari prakarsa kerja sama kuadripartit," kata kementerian pertahanan dalam sebuah pernyataan.

"Ketegangan dan ketidakstabilan di Mediterania timur telah meningkatkan perselisihan tentang masalah-masalah ruang laut."

Sanksi untuk Turki

Turki mengatakan pada hari Selasa (25/8) bahwa pihaknya siap untuk melakukan pembicaraan dengan Yunani tanpa prasyarat atas perselisihan tersebut.

“Cabang zaitun” bertunas menjelang pertemuan informal para menteri luar negeri Uni Eropa di Berlin pada Kamis dan Jumat (27-28/8) di mana Yunani diperkirakan akan menekan blok tersebut untuk memberikan sanksi yang menggigit pada saingan regional bersejarahnya.

Tetapi negara-negara Uni Eropa lebih suka menghindari Presiden Turki, Recep Tayyip Erdogan, yang menjengkelkan, dan Menteri Luar Negeri Jerman, Heiko Maas, bolak-balik antara Athena dan Ankara dalam upaya untuk meredam retorika dan membuat pembicaraan kembali ke jalurnya.

Maas, yang negaranya memegang jabatan presiden bergilir Uni Eropa, mengatakan kepada kedua negara untuk meredakan perselisihan atau berisiko memicu "bencana".

Editor : Sabar Subekti


BPK Penabur
Gaia Cosmo Hotel
Kampus Maranatha
Back to Home