Loading...
FLORA & FAUNA
Penulis: Dewasasri M Wardani 14:18 WIB | Senin, 27 Februari 2017

Kubis Berpotensi Menyembuhkan Tukak Lambung

Kubis (Brassica oleracea var capitata, L). (Foto: keywordsuggest.org)

SATUHARAPAN.COM - Kubis kita kenal sebagai sayuran yang dikonsumsi sebagai  lalapan, atau sebagai campuran pada soto mi, sup, mi goreng, cap cay atau orak-arik. Sebagai lalapan, kubis yang dilengkapi sambal biasa menyertai menu gorengan atau bakar seperti ayam atau lele.

Kubis menjadi komponen utama masakan khas Korea yang dinamakan kimchi. Sedangkan di Jerman dikenal sauerkraut (kol asam), makanan dari kubis yang diiris halus dan difermentasi dalam cuka.

Kubis adalah sayuran asal Asia dan masih berkerabat dengan sayuran kembang kol, kale, dan kubis brussel. Karena penampilannya berdaun, kubis sering diduga milik keluarga selada. Kubis dapat bervariasi dalam warna dari terang dan hijau gelap, ke merah dan ungu, dengan daun halus atau berkerut. Kubis merupakan sayuran yang sangat sehat dikonsumsi.

Menurut dosen biologi Universitas Muhammadiyah Surabaya, Drs Anjisman MPd, setengah cangkir kubis setiap hari sangat direkomendasikan, karena banyak mengandung vitamin C dan vitamin K.

“Vitamin C tentu sebagai antioksidan, mencegah penuaan dini, dan vitamin K mencegah pengeroposan tulang dini,” katanya pada 20 November 2016, dikutip dari malangvoice.com.

Selain itu kubis mengandung kadar polifenol tinggi dan glucosinolates, yaitu senyawa yang berguna untuk melawan penyakit. Ditambah senyawa anti-kanker sulforafan, lupeol, dan sinigrin, kubis bisa melawan penyakit tumor.

Kandungan kalium pada kubis juga bisa memperbesar pembuluh darah sehingga menjauhkan dari risiko tekanan darah tinggi.

Prof Dr Garnett Cheney, dari Fakultas  Kedokteran di Universitas Stanford,  dikutip dari oawhealth.com, pada tahun 1950 melakukan penelitian bahwa minum satu liter jus kubis segar setiap hari akan menyembuhkan tukak lambung lebih cepat daripada pengobatan standar. Senyawa antiulkus itu diidentifikasi sebagai asam amino glutamin yang menumbuhkan dan meregenerasi dinding saluran cerna.

Morfologi Tanaman Kubis

Menurut Wikipedia, bunga majemuk kubis, yang muncul di tahun kedua pertumbuhan, memiliki bunga putih atau kuning, masing-masing dengan empat kelopak tegak lurus. Bibit kubis memiliki akar tunggang yang tipis dan kotiledon berbentuk hati.

Daun pertama yang diproduksi adalah bulat telur dengan tangkai daun berlobus. Tinggi tanaman 40–60 cm. Kepala rata-rata antara 1 dan 8 pound (0.5 and 4 kg), dengan varietas cepat tumbuh, matang awal memproduksi kepala yang lebih kecil.

Kebanyakan kubis memiliki daun tebal bergantian, dengan tepian mulai dari bergelombang atau berlobus, sampai sangat terpotong. Beberapa varietas memiliki mekar lilin pada daun. Tanaman memiliki sistem akar serabut dan dangkal.

Bunga majemuknya adalah tandan terminal tak bercabang dan indeterminat, dengan bunga berwarna kuning atau putih. Setiap bunga memiliki empat mahkota bunga diatur dalam pola tegak lurus, serta empat kelopak bunga, enam benang sari, dan ovarium superior bersel dua dan mengandung satu kepala putik dan tangkai putik. Dua dari enam benang sari memiliki filamen yang lebih pendek.

Kubis diserbukkan silang oleh serangga. Banyak bentuk, warna dan tekstur daun, dapat ditemukan dalam berbagai varietas kubis yang dibudidayakan. Jenis daun umumnya dibagi antara savoy daun berkerut kepala longgar dan kubis daun halus kepala keras, sedangkan spektrum warna termasuk putih dan berbagai hijau dan ungu. Ada bentuk bulat pepat, bulat, dan runcing.

Kubis menurut AH Permadi, dan S Sastrosiswojo dari buku berjudul Kubis yang diterbitkan Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian Balai Penelitian Hortikultura Lembang tahun 1993,  merupakan sayuran  utama di dataran tinggi. Kubis merupakan sayuran terpenting di Indonesia di samping kentang dan tomat.

Kubis dwi-musim telah ada sejak Perang Dunia II dan ditanam di daerah pegunungan. Benihnya selalu didatangkan dari luar negeri, terutama dari Eropa, khususnya Belanda. Kelangkaan benih impor dari Belanda menjadikan benih kubis didatangkan dari Taiwan, lalu menyebar ke daerah Tawangmangu ke daerah Kopeng di Jawa Tengah.

Kubis, kol, kobis, atau kobis bulat (terdiri atas beberapa kelompok kultivar dari Brassica oleracea) adalah tanaman dua tahunan hijau atau berdaun. Nama famili brassica adalah Cruciferae, yang berasal dari pola kelopak bunga yang dianggap oleh orang Eropa abad pertengahan menyerupai salib.

Kata brassica berasal dari bresic, kata Keltik untuk kubis. Banyak nama Eropa dan Asia untuk kubis berasal dari akar Celto-Slavia cap atau kap, yang berarti kepala. Kata bahasa Inggris Pertengahan akhir cabbage berasal dari kata caboche (kepala), dari dialek Picardia bahasa Prancis Kuno.

Kubis seperti dikutip dari Wikipedia memiliki nama ilmiah Brassica oleracea var. capitata, L,  milik keluarga Brassicaceae. Kubis dikenal dengan nama daerah kol, kobis, kubis telur, kubis krop, dengan nama dalam bahasa Inggris cabbage.

Kubis, dikutip dari link.springer.com, terutama tersebar di wilayah ekstratropikal utara bumi, dan berasal dari jenis liar yang tumbuh di pantai Eropa Atlantik dan Mediterania. Mungkin daun tanaman ini tanpa kepala yang digunakan untuk makanan oleh penduduk zaman batu.

Domestikasi kubis bertepatan dengan perkembangan budaya manusia dan peradaban di Mesir kuno dan Kekaisaran Romawi. Tulisan kuno melaporkan kubis banyak digunakan sebagai tanaman obat dan kemudian dikonsumsi sebagai sayuran.

Organisasi Pangan dan Pertanian Perserikatan Bangsa-Bangsa (Food and Agriculture Organization, FAO) melaporkan, produksi dunia kubis dan brassica lain pada 2011 hampir 69 juta metrik ton. Hampir setengah dari tanaman ini ditanam di Tiongkok, dan kubis cina adalah sayuran brassica paling populer. Kubis diolah dalam berbagai cara untuk makan, untuk acar, difermentasi untuk hidangan seperti sauerkraut, dikukus, direbus, ditumis, atau dimakan mentah. Selain sumber vitamin K dan vitamin C, kubis juga sumber serat pangan.

Khasiat Herbal Kubis

Mengutip dari Wikipedia, kubis segar juga mengandung vitamin A, beberapa B, dan E). Kandungan vitamin C cukup tinggi untuk mencegah skorbut (sariawan akut). Mineral yang banyak dikandung adalah kalium, kalsium, fosfor, natrium, dan besi.

Kubis segar juga mengandung sejumlah senyawa yang merangsang pembentukan glutation, zat yang diperlukan untuk menonaktifkan zat beracun dalam tubuh manusia. Adanya zat antosianin menyebabkan warna kubis dapat berubah menjadi merah.

Kandungan zat aktifnya, sulforafan dan histidine, dapat menghambat pertumbuhan tumor, mencegah kanker kolon, dan rektum, detoksikasi senyawa kimia berbahaya, seperti kobalt, nikel dan tembaga yang berlebihan di dalam tubuh, serta meningkatkan daya tahan tubuh untuk melawan kanker. Kandungan asam amino dalam sulfurnya, juga berkhasiat menurunkan kadar kolesterol tinggi, penenang saraf, dan membangkitkan semangat.

Dikutip dari whfoods.com, antosianin dalam kubis merah merupakan faktor utama dalam kemampuan sayuran silangan ini untuk memberikan perlindungan kardiovaskular, termasuk perlindungan dari sel darah merah. Sinigrin adalah salah satu glukosinolat mengandung sulfur. Senyawa isothiocyanate ini telah menunjukkan pencegahan unik sehubungan dengan kanker kandung kemih, kanker usus, dan kanker prostat.  

Sebagaimana suku kubis-kubisan lain, kubis mengandung sejumlah senyawa yang dapat merangsang pembentukan gas dalam lambung sehingga menimbulkan rasa kembung (zat-zat goiterogen). Daun kubis juga mengandung kelompok glukosinolat yang menyebabkan rasa agak pahit.

Tim peneliti Fakultas Farmasi Universitas Padjadjaran Bandung 2007 meneliti pemanfaatan kubis sebagai kandidat antikeputihan. Penelitian mereka bertujuan untuk memperoleh fraksi aktif antijamur dari ekstrak etanol kubis terhadap Candida albicans. Hasil penelitian menunjukkan fraksi etil asetat menghasilkan daya hambat tertinggi dibandingkan fraksi air dan n-heksan,  dan fraksi etil asetat kubis berpotensi sebagai antiseptik alami yang aman.

Tim peneliti mahasiswa Program Studi Keperawatan STIKES Ngudi Waluyo Ungaran, meneliti pengaruh pemberian kompres daun kubis dingin terhadap skala pembengkakan payudara pada ibu postpartum dengan engorgement di Kecamatan Bergas. Pembengkakan payudara merupakan respons fisiologis pada ibu postpartum. Ibu mengalami ketidaknyamanan dan dapat menjadi alasan untuk penyapihan dini. Kubis kaya akan kandungan sulfur yang dapat mengurangi pembengkakan dan peradangan payudara. Hasil penelitian menunjukkan kompres daun kubis dingin dapat digunakan sebagai terapi untuk menurunkan skala pembengkakan dan mencegah terjadinya pembengkakan payudara pada ibu postpartum dengan engorgement.

Tim peneliti dari Fakultas Farmasi Kedokteran Universitas Diponegoro Semarang, dan Sekolah Tinggi Ilmu Farmasi Yayasan Farmasi Semarang, meneliti pengaruh pemberian jus bunga kubis terhadap perubahan kadar kolesterol total dan peroksida lipid pada tikus putih yang dibuat hiperkolesterolemia. Hasilnya menunjukkan jus bunga kubis dosis 15 mL/kg BB tikus dan 20 mL/ kg BB tikus berpengaruh terhadap penurunan kadar kolesterol total dan peroksida lipid (kadar MDA).

Tim peneliti Departemen Biologi Umum Universitas Federal Vicosa Brasil, dan  Universitas Federal Espirito Santo, Brasil, melakukan uji coba salep dari Brassica oleracea var. capitata pada matriks ekstraseluler di luka kulit tikus Wistar. Tikus pada kelompok yang diobati dengan B. oleracea var. capitata menunjukkan jumlah lebih tinggi dari sel-sel pada hari 8, 16, dan 20. B. oleracea efektif dalam merangsang pematangan kolagen dan meningkatkan cellularity, seperti juga dalam meningkatkan ketahanan mekanik dari jaringan yang baru terbentuk.

Editor : Sotyati


Kampus Maranatha
Gaia Cosmo Hotel
BPK Penabur
Zuri Hotel
Back to Home