Loading...
FLORA & FAUNA
Penulis: Dewasasri M Wardani 10:33 WIB | Rabu, 18 Januari 2017

Lada Hitam Berpotensi Terapeutik

Lada hitam (Piper nigrum). (Foto: henriettes-herb.com)

SATUHARAPAN.COM - Lada adalah salah satu bumbu dapur dalam masakan dan termasuk dalam kelompok biji-bijian. Lada yang berbentuk bulat kecil ini memiliki rasa pedas, pahit, sekaligus hangat, dimanfaatkan sebagai bumbu dapur agar masakan memiliki rasa sedikit lebih pedas dan memberikan efek hangat pada tubuh.

Lada hitam lebih sering digunakan untuk masakan Italia (Eropa) ataupun masakan internasional. Rasanya lebih pedas dan lebih hangat daripada lada putih, disebabkan oleh zat piperine yang dikandungnya.

Masyarakat India juga dikenal sangat menyukai masakan berbumbu lada, sehingga hampir sebagian besar produksi lada mereka untuk konsumsi dalam negeri. Selain untuk bumbu masak, lada bersama beberapa rempah lain dan umbi-umbian juga digunakan sebagai bahan ramuan jamu tradisional.

Lada terutama lada hitam, sering pula disuling untuk diambil minyaknya. Minyak lada dengan aroma wangi yang khas ini digunakan untuk bahan campuran minyak wangi.

Lada hitam, menurut Wikipedia, merupakan jenis rempah penting sejak dahulu kala. Buahnya, yang dikenali sebagai lada hitam, bila kering berwarna merah gelap apabila matang sepenuhnya, dan mengandung satu benih.

Lada memiliki kandungan seperti vitamin K, vitamin B1, B2, B3, vitamin E, serat, kalium, seng, kalsium, mangan, magnesium, dan seng.

Tim peneliti Jurusan Farmakologi Fakultas Kedokteran, Universitas King Abdulaziz, Jeddah, Arab Saudi, membuat suatu tinjauan potensi terapi dari lada hitam. Disimpulkan, lada hitam dan bioaktif senyawa piperine memiliki  spektrum luas dan berpotensi terapeutik (penanganan medis sesuai dengan apa yang diinginkan), serta berkhasiat sebagai pengobatan tambahan untuk meningkatkan efektivitas dari pengobatan  yang sangat baik.

Lada hitam telah lama banyak digunakan sebagai pengobatan tradisional Ayurveda (India) dan pengobatan Unani (Yunani). Sistem pengobatan Unani dimulai di Yunani antara 460 dan 377 SM, memanfaatkan hewan, tumbuhan, dan produk mineral sebagai agen kuratif.

Piperine  di dalam lada hitam menunjukkan aktivitas farmakologi beragam seperti antihipertensi dan antiplatelets, antioksidan, antitumor, antiasmatik, antipiretik, analgesik, antiinflamasi, antidiare, antispasmodic, anxiolytic, antidepresan, hepatoprotektor, immunomodulator, antibakteri, antijamur, antitiroid, antiapoptotic, antimetastasis, antimutagenik, antispermatogenik, antiracun, insektisida, dan kegiatan larvasida.

Piperine ditemukan untuk meningkatkan keberhasilan terapi banyak obat, vaksin dan nutrisi, dengan meningkatkan bioavailabilitas oral dengan menghambat berbagai enzim metabolisme.

Pemerian Botani Lada Hitam

Tanaman merica hitam, seperti dikutip dari ums.ac.id, adalah tanaman memanjat, dengan akar pelekat, dan batang 5-15 m. Daunnya berseling atau tersebar, bertangkai, dengan daun penumpu yang mudah gugur dan meninggalkan berkas berupa suatu lingkaran. Helaian daun bulat telur, memanjang dengan ujung meruncing, pada sisi buah pada kelenjar-kelenjar yang tenggelam.

Bulir terpisah-pisah, bergantungan, terdapat pada ujung atau berhadapan dengan daun. Daun pelindung memanjang. Buah berupa buah buni, bangun bulat. 

Lada hitam, menurut Wikipedia, memiliki nama ilmiah Piper nigrum mempunyai nama Sumatera lada (Aceh), leudeu pedih (Gayo), lada (Batak), lada (Nias), raro (Mentawai), lada kecik (Bengkulu), lade ketek (Minangkabau), lada (Lampung), lada, pedes (Sunda), merica (Jawa).

Di Nusa Tenggara, lada memiliki nama bermacam-macam, seperti  maicam, mica (Bali), saha (Bima), saang (Flores). Di Kalimantan, lada juga memiliki aneka nama lokal, seperti sahang laut (Dayak), sahang (Sampit). Nama yang dikenal di Sulawesi adalah kaluya jawa, marisa jawa, malita lodawa (Gorontalo). Di Kepulauan Maluku, lada dikenal sebagai marisano (Sepa), rica jawa, rica polulu (Ternate), mica jawa, rica tamelo (Tidore).

Lada hitam tumbuh di banyak tropis daerah seperti Brasil, Indonesia, dan India. Piper nigrum umumnya dikenal sebagai kali mirch dalam bahasa Urdu dan Hindi, pippali (bahasa Sansekerta), milagu (Tamil).

Lada hitam berasal dari Asia Tenggara dan di negara tropis lainnya.

Lada merupakan salah satu komoditi perkebunan yang mempunyai peranan sebagai penghasil devisa, sumber pendapatan , penciptaan lapangan kerja, dan juga mendukung agribisnis dan agroindustri negara. Dalam perkembangan secara nasional, Lampung masih menempati urutan nomor 1 sebagai wilayah dengan luas areal dan produksi lada hitam tertinggi.

Saat ini, produsen komersial utama lada adalah India dan Indonesia. Di Indonesia, lada terutama dihasilkan di Lampung (untuk lada hitam dikenal dengan lampong black pepper/lada hitam lampung) dan Pulau Bangka. Lada disebut sahang dalam bahasa Melayu lokal seperti bahasa Banjar, Melayu Belitung, Melayu Sambas, dan lain-lain.

Berdasarkan data International Pepper Community (IPC), yang dikutip dari blackpepperlampong.blogspot.co.id, ekspor lada hitam selama 2011 dari enam negara pengekspor utama (Brasil, India, Indonesia, Malaysia, Vietnam, dan Sri Lanka), Indonesia merupakan produsen lada terbesar di dunia setelah Vietnam dengan kontribusi 17 persen dari produksi lada dunia pada 2010. Lada merupakan penyumbang devisa negara terbesar keempat untuk komoditas perkebunan setelah minyak sawit, karet, dan kopi.

Lampong black pepper adalah sebutan terkenal untuk lada hitam di pasar dunia, dan Lampung merupakan sentra lada hitam di Indonesia dan dunia. Dalam perkembangan selanjutnya produksi lada hitam Lampung terus merosot sehingga kontribusi Indonesia hanya menduduki peringkat ke-3 di pasar dunia.

Khasiat Herbal Lada Hitam

Buah lada hitam, dikutip dari ums.ac.id, mengandung minyak atsiri, pipen, kariofilen, limonen, filandren, alkaloid piperin, kavisin, piperitin, piperidin, zat pahit, dan minyak lemak. Buah merica hitam berkhasiat sebagai bahan penyegar, menghangatkan badan, merangsang semangat, obat perut kembung, merangsang keluarnya keringat, dan obat sesak napas. Selain itu juga sebagai karminatif, diaforetik, dan analgesik .

Piperin ditemukan sebagai bahan aktif dan merupakan alkaloid yangbertanggung  jawab terhadap rasa pedas serta bau merica hitam. Piperin juga digunakan dalam pengobatan tradisional dan sebagai insektisida.

Sebuah penelitian yang diterbitkan dalam "Fisiologi dan Perilaku" pada tahun 2006, dikutip dari livestrong.com, menyebutkan lada hitam bersama rempah-rempah lain, seperti jahe, bertindak sebagai thermogenic. Ini berarti meningkatkan tingkat metabolisme.

Studi lain yang dipublikasikan dalam Journal of Agricultural and Food Chemistry pada tahun 2012, menemukan piperine, bahan kimia di lada hitam, dapat menekan gen yang diperlukan untuk pertumbuhan sel lemak baru, dan sebagai hasilnya, menekan pengembangan baru sel-sel lemak.   

Sebuah studi tambahan, dari Januari 2013 edisi Journal of Nutritional Biochemistry, melaporkan piperine di lada hitam menghambat pertumbuhan pembuluh darah baru dalam tumor, pengerdilan pertumbuhan kanker.

Penelitian yang dilakukan oleh Nurlia Amalina dari Fakultas Farmasi Universitas Muhammadiyah Surakarta mengenai  uji sitotoksik ekstrak etanol 70 persen buah merica hitam terhadap sel Hela, menunjukkan ekstrak etanol 70 persen dari buah merica hitam yang  mengandung piperin mempunyai aktivitas sebagai antikanker terhadap sel Myeloma.

Septi Usdiani dari Fakultas Farmasi Universitas Muhammadiyah Surakarta, melakukan uji efek tonikum serbuk instan lada hitam pada mencit putih jantan galur Swiss-Webster. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efek sediaan instan serbuk lada hitam sebagai tonikum pada mencit putih jantan galur Swiss-Webster. Pengujian efek tonikum dilakukan dengan metode natatory exhaustion. Penelitian ini termasuk penelitian eksperimental murni dengan rancangan acak lengkap pola searah. Hasil penelitian menunjukkan sediaan instan serbuk lada hitam mempunyai efek tonikum pada mencit putih jantan galur Swiss-Webster.

Tim peneliti dari Laboratorium Penelitian dan Pengembangan Kefarmasian Farmaka Tropis Fakultas Farmasi Universitas Mulawarman Samarinda Kalimantan Timur, meneliti aktivitas antihiperurisemia ekstrak etanol daun lada hitam pada mencit. Hasil yang didapat dianalisis secara visual berdasarkan rata-rata data hasil pengukuran dan grafik. Hasil yang diperoleh menujukkan ekstrak etanol daun lada dapat menghambat kenaikan kadar asam urat. Dosis terbaiknya adalah 25 mg/kgBB, namun berdasarkan pengamatan tidak lebih baik dibanding kontrol positif alopurinol.

Editor : Sotyati


Kampus Maranatha
Gaia Cosmo Hotel
BPK Penabur
Zuri Hotel
Back to Home