Loading...
INDONESIA
Penulis: Tunggul Tauladan 20:56 WIB | Selasa, 19 Agustus 2014

Lalu Lintas Bertambah, Tiga Jembatan di DIY Terancam Ambrol

Jembatan Layang Janti yang berada di Kabupaten Sleman. Konstruksi jembatan ini sudah tua sehingga sangat rawan ambrol apabila terus menerus dilalui oleh kendaraan berat dengan bobot di atas 30 ton. (Foto: Tunggul Tauladan)

YOGYAKARTA, SATUHARAPAN.COM – Jembatan Comal di Pemalang, Jawa Tengah yang ambrol pada akhir Juli silam mengharuskan adanya perbaikan hingga Desember 2014. Akibat perbaikan tersebut, kendaraan berat berbobot di atas 10 ton dilarang untuk melintas di atas Jembatan Comal. Akibatnya, kendaraan bertonase berat dialihkan ke jalur selatan dan tengah, termasuk melintas di wilayah Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY).

Masalah kemudian timbul, karena konstruksi jembatan yang ada di wilayah DIY banyak yang telah tua. Akibat konstruksi yang telah berumur, jembatan-jembatan tersebut rawan ambrol jika dilewati oleh kendaraan dengan tonase di atas 30 ton. Selain telah uzur, ternyata jalan dan jembatan di DIY juga tidak dirancang untuk dilewati oleh kendaraan dengan tonase berat, yaitu kendaraan yang memiliki bobot di atas 30 ton.

“Jalan dan jembatan di DIY sebenarnya tidak dirancang untuk dilalui oleh kendaraan dengan tonase di atas 30 ton. Namun akibat limpahan Comal, kini kendaraan bertonase berat juga melalui wilayah DIY. Melimpahnya kendaraan bertonase berat tersebut tak lepas dari larangan yang menyebutkan bahwa hanya kendaraan dengan tonase di bawah 10 ton yang diperbolehkan untuk melintas di atas Jembatan Comal. Akibatnya, kendaraan dengan tonase di atas 10 ton diharuskan mengambil jalan tengah dan selatan, termasuk melewati Provinsi DIY,” demikian disampaikan oleh Kepala Dinas Perhubungan Komunikasi dan Informasi (Dishubkominfo) DIY Budi Antono pada Selasa (19/8).

Budi Antono juga menjelaskan bahwa pihaknya telah menelusuri beberapa jembatan di DIY yang terancam akan ambrol jika dilewati oleh kendaraan bertonase berat. Dari sekian banyak jembatan yang ada di wilayah DIY, Budi menuturkan ada tiga jembatan yang rawan ambrol, yaitu Jembatan Layang (flyover) Janti di Kabupaten Sleman, Jembatan Srandakan di Kabupaten Bantul, dan Jembatan Pelem Gurih di Kabupaten Sleman.

“Kami telah melakukan penelusuran dan menyimpulkan bahwa di DIY terdapat tiga jembatan yang rawan bermasalah jika dilalui oleh kendaraan dengan tonase berat, yaitu Jembatan Layang Janti, Jembatan Srandakan, dan Jembatan Pelem Gurih. Ketiga jembatan tersebut memiliki konstruksi yang telah tua sehingga sangat rawan ambrol jika terus-menerus dilintasi oleh kendaraan dengan tonase berat. Khusus Jembatan Pelem Gurih, karena ada traffic light sehingga membuat kendaraan berhenti di atas jembatan. Hal ini sangat berbahaya karena jembatan harus menahan beban berat. Padahal dilintasi saja sudah berbahaya, apalagi jika sampai berhenti di atas jembatan,” ungkap Budi.

Dishubkominfo DIY melakukan langkah cepat untuk mengantisipasi masalah tersebut. Di Jembatan Layang Janti misalnya, Dishubkominfo berupaya mengatasi kerawanan dengan menerapkan sistem flashing di traffic light Babarsari. Sistem ini dilakukan dengan meniadakan lampu merah dan hanya menyalakan lampu kuning berkedip-kedip secara terus-menerus, khusus bagi kendaraan yang turun dari Jembatan Layang Janti dengan arah ke Solo.

“Sistem flashing traffic light di Jembatan Layang Janti dilakukan untuk memperlancar arus kendaraan dan menghindari penumpukan (antrian) kendaraan bertonase berat di atas jembatan. Antrean inilah yang dikhawatirkan akan merusak jembatan karena harus terus-menerus menahan beban berlebihan,” Jelas Budi.

Namun akibat dari sistem ini, median di Jalan Laksda Adisucipto terpaksa harus ditutup. Di sisi lain, kendaraan yang melintas dari arah Solo tidak bisa langsung menyeberang ke utara karena arus dari barat (arah Jembatan Layang Janti) tidak dikenakan lampu merah.

Editor : Bayu Probo


BPK Penabur
Gaia Cosmo Hotel
Kampus Maranatha
Back to Home