Loading...
SAINS
Penulis: Melki Pangaribuan 16:20 WIB | Senin, 20 Juli 2020

Lima Langkah BPK PENABUR 70 Tahun Berkiprah di Indonesia

Tangkapan layar. Pendeta Jotje Hanri Karuh dalam Ibadah dan Perayaan 7 Dasawarsa BPK PENABUR yang disiarkan melalui YouTube BPK PENABUR Official, hari Minggu (19/7/2020). (Foto: Dok. satuharapan.com)

JAKARTA, SATUHARAPAN.COM - Pendeta Jotje Hanri Karuh dari GKI Kebon Jati mengatakan ada beberapa langkah yang perlu dilakukan agar berani berubah, semakin baik dalam berkarya dan melayani di bidang pendidikan di Indonesia.

“Dalam menyikapi perkembangan zaman di sekitar kita agar semakin baik dalam berkarya dan melayani di bidang pendidikan yang Tuhan percayakan kepada kita, agar kita tetap fokus pada proses mempersiapkan tuaian atau panen yang baik ada beberapa hal yang perlu kita lakukan bersama,” kata Pendeta Jotje Hanri Karuh dalam kotbah Ibadah dan Perayaan 7 Dasawarsa BPK PENABUR yang disiarkan melalui YouTube BPK PENABUR Official, hari Minggu (19/7/2020).

Pertama, BPK PENABUR harus tanggap terhadap perubahan. Perubahan adalah hal yang pasti terjadi, yang tidak berubah adalah perubahan itu sendiri. Mengatakan bahwa saya atau kita ingin berubah itu hal yang mudah untuk kita ucapkan tetapi sulit untuk diwujudkan sebab sudah menjadi kenyataan kalau kita manusia selalu senang berada di tempat atau zona yang nyaman, yang membuat kita tenang, kenyamanan dan ketenangan kita itu seringkali membuat kita lupa diri dan juga melupakan Tuhan karena kebesaran, keberhasilan yang telah kita lalui dan capai selama ini.

Dia mencontohkan juga dari dampak enggan untuk berubah yang membawa pada kehancuran pada handphone Nokia. Pada masanya handphone Nokia menguasai pasar, merajai pasar ponsel dunia tetapi sekarang sudah tidak lagi. Mengapa? karena HP Nokia atau ponsel Nokia itu atau perusahaan Nokia itu berada di zona nyaman, berpikir bahwa produknya akan selalu disukai pasar padahal kebutuhan pasar akan selalu berubah dan berkembang. Kurangnya inovasi, hal ini berkaitan dengan zona nyaman, sehingga lama-kelamaan tidak lagi diminati oleh pengguna ponsel dan ketika muncul operating system Android sebagai kompetitor dari Symbian yang dipakai oleh Nokia maka ia kelibas dan ditinggalkan banyak orang yang sering kita lihat. Berapa banyak orang masih pakai ponsel Nokia sangat kecil.

“Kesuksesan itu sendiri memang terasa nyaman namun jalan menuju puncak itu kan sama sekali tidak nyaman, kita musti berani menantang diri kita untuk melakukan perubahan terus-menerus, memperbaiki, mengevaluasi dan tidak pernah kaku atau beku, selalu cair, selalu fleksibel,” katanya.

Ada sebuah ungkapan yang berkata begini 'hal-hal yang besar tidak pernah datang dari zona nyaman'.  Setiap orang atau setiap lembaga termasuk BPK PENABUR jika ingin tetap eksis bahkan terus berkembang di tengah perubahan yang terjadi di sekitarnya. Ia harus menaklukan perubahan yang ada disekitarnya dengan perubahan positif dari dalam dirinya.

“Jangan biarkan keberhasilan yang telah kita raih membuat kita abai terhadap perubahan dan kemajuan yang terus kita upayakan bersama,” katanya.

Yang kedua, proses menghidupi perubahan agar BPK PENABUR semakin lebih baik harus menjadi gerak komitmen bersama kita.

Perubahan untuk terus menjadi semakin lebih baik dan lebih baik itu harus menjadi komitmen bersama pembina yayasan, pengawas, dan pengurus yayasan BPK PENABUR serta semua tenaga pendidikan, bahkan peran serta orang tua murid juga harus dilibatkan karena orang tua pada prinsipnya adalah pendidik yang pertama pendidik, pendidik yang utama dan pendidik yang terlama dalam kehidupan seorang anak.

“Kita berada dalam satu kapal yang sama yaitu BPK PENABUR tetapi setiap kita mempunyai peran dan tanggung jawab yang berbeda. Kapal kita ini yaitu BPK PENABUR akan bergerak maju menembus arus gelombang bahkan badai perubahan dan mencapai tujuan bersama jika ada Sinergi semua pihak yang ada di dalamnya, seperti dalam proses pertumbuhan benih hingga panen itu bisa terjadi karena ada sinergi antara yang mengolah tanah menabur, menyemai, yang menyiangi, memupuk dan merawat tanaman gandum dan sebagainya sampai panen tiba dan semua itu harus terjadi dalam sinergi yang baik,” katanya mengutip Injil Matius 13:24-30; 36-43.

Jika tidak ada sinergi yang baik di antara mereka semua maka yang tercipta adalah kekacauan atau kegagalan dalam memanen hasil panen mereka. Pada masa sekarang tidak ada seorang yang bisa menyelesaikan semuanya dengan bermain sendiri dan menyelesaikan semuanya sendiri. Tidak ada Superman, yang ada adalah super tim. Tidak ada Wonder Woman yang ada adalah wonder tim.

“Untuk menjadi inspirasi sebuah perubahan kita wajib melakukan transformasi diri sendiri dan jadi role model perubahan terlebih dahulu sebab mustahil tercipta perubahan jika kita sendiri tidak melakukan perubahan. Kita tidak akan menjadi terang jika kita berada dalam kegelapan. Oleh sebab itu bangunlah mindset yang memampukan kita menciptakan sinergi dalam menghadapi perubahan dan membentuk BPK PENABUR semakin menjadi berkat, semakin mampu menghadapi arus ataupun bahkan badai perubahan,” katanya.

Ketiga, BPK PENABUR sebagai lembaga pendidikan yang punya nama baik dan kualitas yang baik di negeri ini harus terus meningkatkan keterlibatannya menolong lembaga pendidikan sejenisnya untuk dapat mengembangkan dirinya. Berubah untuk semakin peduli dan berbagi hanya bisa terjadi jika BPK PENABUR mempunyai lingkaran kepedulian yang semakin luas. Bukankah potensi yang besar yang Tuhan berikan kepada kita, kepada BPK PENABUR, berarti kita mempunyai tanggung jawab yang lebih besar untuk peduli dan berbagi bagi yang lainnya.

Pendeta Jotje Hanri Karuh sepakat dengan Adri Lazuardi sebagai Ketua Umum Pengurus Harian BPK PENABUR dalam kata sambutannya pada hari ulang tahun BPK PENABUR yang ke 69 tahun lalu.

“Ia mengatakan 'BPK PENABUR sudah semestinya mengambil peran yang lebih sebagai lembaga pendidikan Kristen bukan hanya memikirkan dirinya sendiri atau sekolahnya sendiri tetapi harus berani mengambil tanggung jawab untuk menjadi rumah besar dengan jangkauan lebih luas sehingga menjadi lembaga pendidikan yang semakin peduli dan berbagi',” kutip Pendeta Jotje Hanri Karuh.

Dengan pernyataan ini berarti komitmen untuk tema “Peduli dan Berbagi” sudah dicanangkan, juga sudah mulai dipraktikkan. Kita perlu terus meningkatkannya. Apa yang telah dilakukan oleh BPK PENABUR dalam mendampingi sekolah milik Yayasan Pendidikan gereja Protestan Maluku di Pulau Saparua serta keterlibatan dalam proses pendidikan bagi anak-anak dari Yayasan kaum di Mentawai adalah contoh yang baik. Ini harus dilakukan dan ditingkatkan

“BPK PENABUR harus mengambil peran yang lebih besar dalam lingkup yang lebih luas, mengambil tanggung jawab dalam proses pendidikan dan pembentukan kualitas sumber daya manusia yang semakin baik bagi negeri ini,” katanya.

Keempat, peningkatan kualitas sumber daya manusia tenaga pendidik serta peningkatan kesejahteraannya.

Untuk mengolah tanah, menyemai, memelihara sampai menghasilkan gandum tentu diperlukan tenaga yang handal dan terampil. Tanah dan benih yang baik tetapi jika kualitas pelaksanaannya di lapangan sangat buruk kualitasnya tentu akan berdampak buruk pada kualitas hasil panen yang akan diperoleh.

Tenaga pendidik merupakan ujung tombak proses pendidikan. Visi misi boleh bagus, kurikulum boleh Oke, prosata atau program satu tahun dapat tersusun rapi dan sempurna tetapi semuanya itu akan mubazir, tak akan berguna tak akan ada artinya untuk mencapai kualitas panen yang diharapkan jika dilaksanakan oleh tenaga pendidik yang kompetensinya atau kualitas dirinya sebagai pendidik tidak sesuai dengan standar yang kita harapkan.

Oleh sebab itulah perubahan dan peningkatan kualitas proses pembelajaran perlu ditunjang oleh sumber daya manusia tenaga pendidik yang berkualitas baik. Perubahan bahwa kita berani berubah, semakin lebih baik, semakin peduli dan berbagi perlu ditunjang oleh kualitas sumber daya tenaga pendidiknya. Oleh sebab itu peningkatan kualitas sumber daya manusia serta kesejahteraan tenaga pendidik harus terus menjadi bagian perhatian dan bagian yang tak terpisahkan dalam upaya BPK PENABUR dalam upaya terus berubah menjadi semakin baik.

Kelima, ini yang tak kalah pentingnya, bahkan ini yang penting paling penting, yaitu sertakan Tuhan dalam setiap proses pelayanan dan upaya perubahan yang kita lakukan.

Penabur benih, penyemai, pemupuk dan sebagainya dalam teks bacaan kita ini semua melakukan tugasnya dalam ketaatan kepada sang pemilik lahan. Demikian juga kita, saya, dan saudara kita semua hanyalah hamba yang dipercayakan untuk ambil bagian dalam proses menumbuhkan dan merawat benih gandum itu yaitu peserta didik untuk tumbuh dan nantinya dapat berbuah dengan kualitas yang baik.

“Kita hanyalah hamba yang dipercayakan untuk mengolah tanah, menanam benih, sampai dihasilkan panen yang baik,” katanya.

Sebagai hamba yang dipercayakan dalam pelayanan ini maka kita harus penuh tanggung jawab melakukannya. Lakukanlah apa yang menjadi bagian dan tanggung jawab saya dan saudara dengan penuh kesungguhan. Segala sesuatunya kita lakukan untuk Allah dan bagi kemuliaan Allah melalui bagian yang telah Tuhan percayakan kepada kita.

“Mari kita awali dengan dan dalam iman kepada Tuhan, apa yang akan kita kerjakan dalam pengembangan pendidikan di BPK PENABUR. Mari kita awali dengan dan dalam iman kepada Tuhan yang telah mempercayakan pelayanan pendidikan pada kita dan mengakhirinya dengan buah atau panen yang berkualitas baik,” katanya.

Dalam kotbahnya, Pendeta Jotje Hanri Karuh menceritakan suatu perumpamaan. Pada suatu hari ada seorang yang bertanya kepada dua orang tukang batu yang sedang membangun sebuah gedung sekolah. Pada keduanya diajukan pertanyaan yang sama. 'Apa yang sedang anda lakukan?' Tukang batu yang pertama menjawab "saya sedang meletakan batu yang satu di atas batu yang lain." Sedangkan tukang batu yang kedua menjawab "Saya sedang membangun sebuah tempat dimana akan terjadi sebuah proses pendidikan untuk membentuk generasi baru yang cerdas, beriman, berkarakter baik dan yang berdampak positif bagi kehidupan bersama."

“Jawaban mana yang benar? dua-duanya benar,” kata pendeta Jotje Hanri Karuh.

Menurutnya ini hanya soal paradigma berpikir dan hanya soal maindset. Tukang batu yang pertama  memperlihatkan orang yang melakukan sesuatu karena rutinitas semata. Sedangkan tukang batu yang kedua memperlihatkan sebuah idealisme sebuah visi ke depan.

“Bagaimana dengan saudara dan saya? jika kita seperti tukang batu yang pertama maka apa yang kita lakukan dalam pendidikan sekolah ataupun di rumah hanya sebatas rutinitas, pelayanan yang dilakukan juga terbatas kebiasaan rutinitas, bisa juga karena sekedar prestise jadi pengurus Penabur, guru-guru mengajar karena rutinitas untuk mendapatkan penghasilan, orang tua mendampingi anak karena rutinitas agar anak punya nilai yang baik,” katanya.

Sedangkan jika kita seperti tukang batu yang kedua, maka disamping rutinitas yang kita lakukan, kita punya idealisme besar yaitu apa yang kita lakukan adalah menanam, menyemai, menyiram, merawat agar pada akhirnya didapatkan hasil panen yang baik kualitasnya, yaitu peserta didik generasi baru yang cerdas, yang memiliki iman yang teguh dan memberikan dampak yang positif bagi kehidupan bersama karena pelayanan yang dilakukannya.

Pendeta Jotje Hanri Karuh mengatakan berani berubah adalah modal untuk memulai dan menciptakan perubahan, merancang perubahan bagi BPK PENABUR 70 tahun ke depan bahkan 100 tahun ke depan.

“Jangan biarkan keberhasilan yang sudah kita raih, nama besar dan nama baik yang sudah kita sandang membuat kita abai dan anti perubahan. Milikilah idealisme dalam mengembangkan pendidikan dan peningkatan kualitas pendidikan di BPK PENABUR agar terus menjadi terang dan garam dunia ini. Sebab dengan demikian kita memperlihatkan sikap tanggap terhadap perubahan serta semakin peduli dan berbagi bagi peningkatan kualitas sumber daya bangsa Indonesia pada umumnya sebagai wujud nyata iman kita kepada Tuhan kita Yesus Kristus,” katanya.

Pada bagian akhir kotbahnya, Pendeta Jotje Hanri Karuh mendorong BPK PENABUR untuk tetap fokus pada proses menghasilkan panen yaitu peserta didik yang sesuai dengan visi dan misi BPK PENABUR.

“Tetaplah fokus ke depan bukan pada masalah atau hambatan yang ada, fokuslah pada bagian yang menghasilkan gandum yang baik bukan pada lalangnya. Fokuslah bagaimana kita terus maju dan semakin menjadi berkat dalam proses pendidikan ini,” katanya.

“Ingat pendidikan adalah senjata yang paling ampuh untuk mengubah dunia, mengubah bangsa kita, mengubah kehidupan seseorang menjadi semakin lebih baik. Tuhan memberkati BPK PENABUR. Tuhan memberkati kita semua amin,” kata pendeta Jotje Hanri Karuh mengakhiri kotbahnya.

Rangkaian Ibadah dan Perayaan 7 Dasawarsa BPK PENABUR dapat disaksikan melalui Channel YouTube BPK PENABUR Official di bawah ini.

 

 

Kampus Maranatha
BPK Penabur
Zuri Hotel
Back to Home