Loading...
SAINS
Penulis: Dewasasri M Wardani 09:20 WIB | Selasa, 30 Oktober 2018

LIPI Kembangkan Superkonduktor dan Baterai Lithium Tempurung Kelapa

Ilustrasi. Baterai lithium, LIPI kembangkan superkonduktor dan baterai lithium tempurung kelapa. (Foto: beritateknologi.com/wikipedia)

JAKARTA, SATUHARAPAN.COM – Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) melalui Pusat Penelitian Fisika dan Pusat Penelitian Melalurgi dan Material LIPI tengah mengembangkan superkonduktor dan baterai lithium dari tempurung kelapa.

"Kami tengah mengembangkan komponen baterai lithium, berupa karbon yang didapat dari bahan lokal seperti tempurung kelapa, serbuk teh, dan biomassa," kata Peneliti Pusat Penelitian Fisika LIPI, Ahmad Subchan.

Menurut Ahmad, tempurung kelapa dapat digunakan karena memiliki bahan karbon aktif, yang digunakan sebagai aditif dalam proses pembuatan elektroda.

Ahmad menambahkan, bahan aditif karbon ini digunakan untuk meningkatkan nilai konduktivitas listrik, baik ionik maupun elektronik.

Penggunaan karbon aktif yang optimum ini dapat meningkatkan kapasitas dan kemampuan daya baterai yang lebih tinggi.

“Produksi listrik akan terus meningkat. Sehingga diperlukan penyimpanan energi sehingga tidak terbuang sia-sia. Bahan karbon dari baterai lithium ini pun ramah lingkungan karena berasal dari bahan alam,” katanya.

Ia menambahkan, penggunaaan karbon aktif dari bahan lokal juga memiliki biaya yang lebih rendah namun bisa menghasilkan produk elektroda yang lebih tinggi performanya.

“Kami berharap dari prototipe yang ada saat ini, ada pihak industri yang tertarik untuk bisa produksi secara massal sehingga dapat bermanfaat bagi masyarakat,” katanya.

Peneliti Pusat Penelitian Metalurgi dan Material LIPI, Agung Imaduddin, mengatakan risetnya tentang kawat superkonduktor berbasis bahan lokal .

"Superkonduktor dapat diaplikasikan terutama dilakukan pada bidang penghantar dan penyimpanan energi listrik, transformer dan motor listrik, serta alat kesehatan (MRI),” katanya.

Penerapan kawat superkonduktor pada bidang listrik menurut Agung dapat menghemat biaya hingga Rp 8,5 miliar per kilometer per tahun. Ia akan berkomunikasi dengan PLN untuk membuka kemungkinan penerapan superkonduktor secara massal.

"Berdasarkan referensi memang Rp 8,5 miliar per km per tahun. Kami juga belum menghitung untuk kapasitas listrik di Indonesia, ya, karena kalau di Indonesia dengan kondisi sekarang sekitar 20-30 persen itu hilang di tengah jalan. Sedangkan kalau pakai kawat superonduktor itu bisa hilangnya paling cuma 2-3 persen. Jadi penghematannya akan sangat bisa diperoleh," kata Agung. (lipi.go.id)

Editor : Sotyati


BPK Penabur
Gaia Cosmo Hotel
Kampus Maranatha
Back to Home