Loading...
SAINS
Penulis: Sabar Subekti 15:10 WIB | Kamis, 06 Oktober 2022

Menkes: Stunting Terjadi Sebelum Bayi Lahir

Angka stunting anak Indonesia: 27%. Mengantisipasi bonus demografi 2030, penanganan stunting secara inklusif.
Menkes dan pogram penanganan stunting di masyarakat Badui di Banten. (Foto: Humas Kemenkes)

BANTEN, SATUHARAPAN.COM-Menteri Kesehatan Budi G Sadikin mengatakan bahwa penanganan stunting di Indonesia harus dilaksanakan secara inklusif melalui intervensi yang tepat. Apalagi mengingat Indonesia akan mengalami bonus demografi pada tahun 2030, di mana kualitas SDM akan sangat menentukan produktivitas dan tingkat ekonomi.

''Sebagian besar stunting terjadi pada saat sebelum lahir. Maka intervensinya harus tepat,'' kata Menkes pada Kick Off Aksi Kolaborasi Penurunan Stunting, di Banten, hari Rabu (5/10).

Menurut SSGBI 2019, sebanyak 27,67%  anak Indonesia mengalami stunting atau sekitar satu dari empat anak. Meskipun angka ini sudah turun dari 37.2 % pada tahun 2013, namun kondisi saat ini masih membutuhkan percepatan, terlebih mengingat amanah Peraturan Presiden Nomor 72 tahun 2021 agar stunting bisa diturunkan ke angka 14% pada 2024.

Upaya pencegahan dan penurunan angka stunting merupakan pekerjaan besar yang membutuhkan intervensi dari mulai remaja/usia produktif, ibu hamil, hingga balita. Sehingga dibutuhkan gerakan nasional yang bersifat inklusif, kata Budi.

Aksi Gizi pada Remaja Perempuan

Intervensi pertama melalui aksi bergizi. Intervensi ini dimulai sejak anak perempuan di usia sekolah SMP dan SMA melalui program pengukuran HB dan pemberian tablet tambah darah, bertujuan untuk mencegah kekurangan zat besi.

Terdapat tiga paket intervensi antara lain pemberian tablet tambah darah mingguan bagi remaja putri, aktivitas fisik, dan mengonsumsi makanan gizi seimbang. Intervensi ini dilakukan untuk memastikan remaja putri sebelum hamil tidak kekurangan zat besi dan gizi.

Pemeriksaan Kehamilan

Intervensi kedua dilakukan melalui pemeriksaan kehamilan kepada Ibu Hamil. Melalui program ini dilakukan pengukuran pemantauan perkembangan janin melalui USG, pemberian tablet tambah darah, serta pemberian makanan tambahan pada ibu hamil.

''Gizi dan zat besi pada ibu hamil harus tercukupi. Pemantauan perkembangan janin dengan pemeriksaan ibu hamil minimal enam kali selama sembilan bulan,'' kata Menkes.

Intervensi selanjutnya mengaktifkan posyandu untuk pemeriksaan bayi baru lahir hingga balita serta mengaktifkan bulan vaksinasi rutin.

Prasarana Pelayanan Kesehatan

Untuk melaksanakan intervensi tersebut, hingga tahun depan Kemenkes tengah berproses untuk penyedian USG Digital untuk seluruh puskesmas di Indonesia, pemenuhan alat ukur Haemoglobin untuk sekolah SMP, SMA, serta Madrasah Aliah dan Tsanawiyah, mengaktifkan kembali Usaha Kesehatan Sekolah (UKS), Penyediaan Tablet Tambah Darah.

Pada momentum yang sama, menkes berterima kasih atas prakarsa berbagai pihak dalam membantu menurunkan stunting di Indonesia, termasuk telemonitoring yang digagas oleh jajaran Universitas Indonesia. Upaya ini lanjut Menkes sejalan dengan transformasi kesehatan, khususnya pilar 1 layanan primer, pilar 2 layanan rujukan dan pilar 6 teknologi kesehatan.

Sehingga dimungkinkan untuk dilakukan pemantauan pemeriksaan kesehatan mulai dari tele-obgyn USG, tele-consultation serta tele-antropometri dengan daerah melalui melalui pemanfaatan teknologi komunikasi internet. Melalui hasil pemeriksaan pasien yang ada dapat langsung terbaca oleh sistem informasi teknologi di RSUI dan fasilitas kesehatan lainnya, sehingga dapat segera dilakukan tindakan bagi penangan pasien meskipun pasien berada di wilayah lain.

Program ini juga mengedepankan peran tokoh perempuan, dokter, bidan desa, kader, dan tenaga kesehatan untuk mendukung implementasi penurunan stunting. Direktur Utama RS Universitas Indonesia (RSUI) dr. Astuti Giantini, Sp. PK (K), MPH mengatakan layanan telemonitoring akan dilakukan di daerah Badui Dalam.

''Ini adalah suatu terobosan bagaimana orang-orang atau masyarakat yang di area terpencil itu bisa kita pantau kesehatannya oleh dokter di perkotaan atau di tempat lain,'' kata Astuti.

Editor : Sabar Subekti


BPK Penabur
Gaia Cosmo Hotel
Kampus Maranatha
Back to Home