Loading...
EKONOMI
Penulis: Reporter Satuharapan 23:05 WIB | Jumat, 05 Agustus 2016

Menkeu: Penyesuaian Belanja Tanpa Pengajuan Revisi APBN

Menteri Keuangan Sri Mulyani (tengah) didampingi Dirjen Pajak Ken Dwijugiasteadi (kiri), Dirjen Anggaran Askolani (kedua kiri), Plt Kepala Badan Kebijakan Fiskal Suahasil Nazara (kedua kanan) dan Dirjen Perimbangan Keuangan Boediarso Teguh Widodo (kanan) memberikan keterangan pers di Kantor Kemenkeu, Jakarta, Jumat (5/8). Sri Mulyani memperkirakan penerimaan pajak tahun 2016 tidak akan mencapai target sesuai APBNP 2016 yang dipatok sebesar Rp 1.539,2 triliun, namun akan lebih rendah Rp 219 triliun karena sejumlah faktor diantaranya yaitu perlambatan ekonomi nasional. (Foto: Antara)

JAKARTA, SATUHARAPAN.COM - Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengatakan, penyesuaian belanja pemerintah untuk menjaga defisit anggaran akan dilakukan tanpa mengajukan kembali revisi APBNP 2016.

"Berdasarkan UU APBNP 2016, sebetulnya di pasal 26 mengamanatkan kami bisa melakukan penyesuaian itu tanpa APBNP," kata Sri dalam jumpa pers di Jakarta, hari Jumat (5/8).

Pasal 26 ayat 1 UU APBNP 2016 menyatakan dalam hal realisasi penerimaan negara tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan pengeluaran negara pada saat tertentu, kekurangannya dapat dipenuhi dari dana SAL, penerbitan SBN maupun penyesuaian belanja negara.

Sri memastikan penyesuaian belanja tersebut akan dilakukan sesuai amanat UU Keuangan Negara agar pengelolaan keuangan negara dapat lebih efektif, transparan dan bertanggung jawab serta memperhatikan aspek keadilan dan kepatutan.

Ia juga menegaskan penyesuaian belanja ini akan dilakukan dengan taat secara hukum dan kredibel sesuai dengan perkembangan ekonomi saat ini, agar bisa menjadi landasan kepercayaan bagi masyarakat dan dunia usaha serta reputasinya terjaga dengan baik.

Sri menambahkan penyesuaian tersebut akan dilakukan berupa pemotongan belanja kementerian lembaga sebesar Rp65 triliun dan belanja transfer ke daerah Rp 68,8 triliun, terutama bagi belanja non prioritas yang selama ini tidak terserap dengan baik.

"Kita akan melakukan berdasarkan kriteria, yang tidak mengurangi kemampuan APBN untuk mendorong ekonomi. Termasuk belanja tidak prioritas yang tidak mengurangi daya dorong serta tidak mengurangi kemiskinan dan kesenjangan," ujarnya.

Ia memastikan belanja prioritas yang akan dipotong tersebut berupa belanja pegawai yang tidak terserap dan tidak diperlukan, belanja operasional untuk perjalanan dinas dan konsinyering serta pembangunan gedung yang tidak terlalu mendesak.

Selain itu, kata Sri, Kementerian Keuangan juga mempertimbangkan untuk menahan pencairan bunga utang dan menggunakan cadangan risiko fiskal untuk mengurangi ketidakpastian dari kemungkinan pelebaran defisit anggaran.

Sri menambahkan alternatif lainnya adalah dengan melakukan "carry over" Dana Bagi Hasil (DBH) atau Dana Alokasi Umum (DAU) bagi pemerintah daerah yang masih memiliki APBD dan dana kas yang berlebih agar ditunda pencairan dananya.

"Ini tidak menyelesaikan, namun hanya menunda karena beban APBN 2016 yang sangat besar dan kita anggap mempengaruhi kredibilitas APBN," kata mantan Direktur Pelaksana Bank Dunia ini.

Menurut perkiraan awal, DAU yang ditunda pencairannya ke tahun berikutnya adalah sebanyak Rp 19,4 triliun untuk 170 provinsi kabupaten kota di sisa tahun 2016 dan DBH untuk Pemerintah Provinsi DKI Jakarta sebesar Rp 12 triliun.

Secara keseluruhan, Sri memastikan koreksi terhadap pagu belanja pemerintah ini akan menjadi basis penghitungan APBN 2017 agar penyusunan anggaran dan instrumen fiskal dapat lebih mencerminkan kondisi ekonomi yang lebih akurat dan menjadi sumber kepercayaan bagi semua pihak. (Ant)

 


BPK Penabur
Gaia Cosmo Hotel
Kampus Maranatha
Back to Home