Loading...
PARENTING
Penulis: Octavia Putri 10:32 WIB | Jumat, 23 April 2021

Ngeprank Anak, Baikkah?

Saat sudah sering “dibohongi” akan membuat anak tidak mudah percaya kepada orangtua atau lingkungannya sendiri (Foto: id.theasianparent.com)

SATUHARAPAN.COM - Sebelum membahas tentang prank, kita cari tau dulu yuk arti prank.

Menurut Lektur.id, prank adalah bahasa Inggris, yang berarti (1) senda-gurau, (2) menipu atau mengibuli, (3) kelakar, (4) olok-olok, (5) seloroh, dan (6) gurauan atau guyonan. Bisa disimpulkan bahwa prank sendiri adalah bentuk senda-gurau dengan cara menipu atau mengibuli. Biasanya para orang lain melakukan prank demi kesenangan sesaat dan cenderung menikmati hal ‘jahil’ ini. Tidak luput dari orang tua yang melakukan prank kepada anak-anak mereka.

Saat anak dijahili atau di-prank biasanya anak akan merasa tidak nyaman, hingga merasa jadi korban. Hal ini bisa berdampak negatif untuk psikologis anak loh, salah satunya adalah perasaan cemas dan menjadi memiliki trust issue dengan lingkungan.

Secara tidak sadar membuat anak tumbuh menjadi pencemas dan tumbuh menjadi anak yang tidak percaya kepada lingkungan sekitar, apalagi yang sering melakukan prank adalah orang tua si anak sendiri. Jadilah si anak tidak memiliki rasa percaya kepada orang tua. Hal ini akan membuat diri anak berpikir, orangtua saja tidak bisa dipercaya bagaimana dengan lingkungan lain. Ini membuat anak tumbuh menjadi anak yang kurang percaya (muncul masalah krisis kepercayaan). Lalu, berkembang menjadi perasaan cemas dan was-was. Anak akan tumbuh menjadi anak yang mudah cemas dan nanti akan mempengaruhi aktivitasnya. Anak mungkin dapat berpikir kenapa dia selalu jadi korban.

Lanjut, dampak lainnya adalah anak akan berpikir “Melanggar norma/menjahili orang merupakan hal wajar, mungkin bullying pun wajar”. Kemampuan kognitif anak berbeda-beda tergantung usianya. Jika melakukan prank kepada anak-anak, bagi mereka yang belum dapat berpikir secara abstrak, mereka akan belajar dari apa yang dilihat dan dirasakan. Kalau prank tidak menyenangkan, menakutkan, atau malah menyenangkan akan membentuk perilaku tertentu dari anak. Jangan salahkan anak jika muncul masalah perilaku yang buruk atau bermasalah dan menganggap perilaku bullying merupakan hal wajar. Karena anak “belajar”.

Perilaku prank yang berulang dan akan menjadi kebiasaan “Bercanda”. Anak sudah terbiasa di prank, akan membuat sebuah kebiasaan baru untuknya. Bahwa prank itu ‘tidak salah, tidak apa-apa, nanti juga minta maaf, dan hanya bercanda. Jadi, tidak ada salahnya untuk melakukan prank kepada orang lain. Ini akan membuat lingkaran “pembullyan”. Terbiasa dibully akan membully orang lain. Begitu pula diprank atau contoh lainnya “berbohong”. Karena lingkungan sekitar pun “membohongi”nya.

Kemudian, anak mulai berkurang rasa kepercayaan dirinya. Saat sudah sering “dibohongi” akan membuat anak itu, tidak mudah percaya kepada orangtua atau lingkungannya sendiri hingga mempengaruhi kepercayaan diri mereka. Mereka merasa malu dan merasa perasaan serta pikirannya tidak valid. Apa pun yang dilakukan dan reaksi yang ditunjukkan “tidak benar” atau kadang “tidak sesuai” dengan lingkungan, sehingga ia menjadi tidak percaya diri.

Anak pun cenderung bingung dengan perasaannya yang dirasakan. Coba bayangkan ketika anak di prank muncul rasa takut, cemas, rasa bersalah, kemudian di akhir prank orang tua menyatakan bahwa itu hanya bercanda. Jadi emosi apa yang sebaiknya anak tampilkan? Perasaan takut/cemas/rasa bersalah tadikah atau perasaan senang/lega/perasaan “beruntung”?

Anak menganggap orangtua bukan “panutan” lagi. Orang tua adalah lingkaran utama anak, jika dari kecil si anak sudah “tidak percaya” kepada orang tuanya, bisa jadi membuat ia mencari pelarian di luar likup keluarga sebagai orang yang bisa “dipercaya”. Pola asuh seperti ini akan membuat anak kebingungan siapa orang yang bisa dipercaya.

Memunculkan rasa trauma hingga dewasa. Walaupun setiap orang punya batas toleransi tersendiri terhadap trauma, tapi ketika intensitasnya terlalu banyak dan tingkat prank semakin komplikasi, bisa memunculkan trauma tersendiri. Trauma bisa mengganggu aktivitas tertentu. Contoh karena sering di prank dengan badut akan takut dengan badut. Atau contoh lain melakukan prank dengan makanan tertentu membuat anak menyimpan memori bahwa makanan itu “tidak baik”. Selain itu, bisa membuat anak mengalami gangguan tidur.

Kesimpulannya dan jawabannya, prank memiliki dampak negatif untuk perkembangan anak. So, orang tua yuk Stop Prank anak, ya.

Mulailah melakukan hal positif lainnya bersama anak supaya bisa jadi panutan sang buah hati.

 

Octavia Putri, MPsi, Psikolog

 


Kampus Maranatha
Gaia Cosmo Hotel
BPK Penabur
Zuri Hotel
Back to Home