Loading...
FOTO
Penulis: Moh. Jauhar al-Hakimi 01:44 WIB | Senin, 07 Oktober 2019

Papua Mencari “Mairi”

Papua Mencari “Mairi”
Pameran seni rupa kelompok Udeido bertajuk “Mairi” berlangsung 3-10 Oktober 2019 di Sangkring art project. (Foto-foto : Moh. Jauhar al-Hakimi)
Papua Mencari “Mairi”
Deep Silent Sio Insose – cat minyak di atas kanvas – 70 cm x 90 cm - Ignasius Dicky Takndare – 2013.
Papua Mencari “Mairi”
Khayouw – mix media di atas kulit kayu – 89 cm x 110 cm – Freddy Monim - 2019.
Papua Mencari “Mairi”
Abhu Affa – cat akrilik di atas kulit kayu – 104 cm x 106 cm – Brian Suebu – 2019.
Papua Mencari “Mairi”
Tarian Serar oleh Ikatan Pelajar Mahasiswa Tambraw Daerah Istimewa Yogyakarta (IPMT DIY) saat pembukaan pameran “Mairi” di pelataran Sangkring art space, Kamis (3/10) malam.
Papua Mencari “Mairi”
Nelson Natkime (kaos putih) berbincang dengan pengunjung pameran menjelaskan karyanya berjudul Nao Teme Lamenge.
Papua Mencari “Mairi”
The Death Dresses – cat minyak dan cat akrilik di atas kulit kayu dan kanvas – 110 cm x 150 cm – Ignasius Dicky Takndare – 2019.

YOGYAKARTA, SATUHARAPAN.COM – Belasan anak muda dalam balutan pakaian adat Papua berjalan beriringan dalam hentakan kuat ke tanah di pelataran Sangkring art space, di sebelahnya karya instalasi dari kelompok Semut berjudul Lolipop dengan figur utama kolektor karya seni Oei Hong Djien yang dikerubuti semut.

Dalam gerakan tarian memutar-bergandengan belasan anak muda tersebut memanjatkan puja-puji dalam bahasa setempat. Itulah tarian Serar, sebuah tarian yang tidak sekedar diperagakan oleh Ikatan Pelajar Mahasiswa Tambraw Daerah Istimewa Yogyakarta (IPMT DIY).

“Sepintas itu terlihat seperti perform tarian. Namun sesungguhnya kawan-kawan sedang memanjatkan doa dan harapan. Itulah yang terjadi. Dalam rentangan tangan, kami memohon hal-hal baik dalam menjalani hidup ini,” jelas Ignasius Dicky Takndare kepada satuharapan.com, Kamis (3/10) malam di pelataran Sangkring art space.

Dicky adalah perwakilan kelompok seni Udeido yang malam itu menggelar pembukaan pameran seni rupa bertajuk “Mairi”. Pameran dibuka bersama oleh seniman-perupa Heri Dono dan pengajar jurusan Seni Rupa ISI Yogyakarta M Dwi Marianto, Kamis (3/10) malam.

Sembilan belas seniman-perupa dari kelompok Udeido mempresentasikan karya dua-tiga matra dalam bingkai Mairi. Dari sembilan belas seniman-perupa dua belas seniman-perupa adalah seniman otodidak. Kesembilan belas seniman tersebut adalah Nelson Natkime, Michael Yan Devis, Yanto Gombo, Brian Suebu, Syam Terrajana, Constantinus Raharusun, Ignasius Disky Takndare, Betty Adii, Ina Wassiry, Andre Takimai, Lejar Daniartana Hukubun, Freddy Monim, Lutse Lambert Daniel Morien, Ervane Havefun, Markus Rumbino, Pikonane, William Kalengkongan, Widya Amir, Loudry Garfield Somnaikubun.

Kepada satuharapan.com Dicky menjelaskan Mairi merupakan sebuah tempat dalam mitologi cerita rakyat di Teluk Bintuni dimana persahabatan, harapan, dan kedamaian menjadi mimpi bagi setiap manusia.

 “Mairi itu semacam konsep tentang tanah harapan. Negeri yang indah-damai. Orang-orang selalu ingin ke sana, tapi selalu hilang di tengah perjalanan (dalam hutan belantara),” jelas Dicky.

Dikisahkan, ada seorang anak yang berhasil sampai ke sana tapi setelah dia dilatih berburu oleh seorang tua. Dicky mengatakan kisah ini relevan dengan keadaan Papua saat ini yang chaos dan semua orang ingin menjadi lebih damai untuk masuk ke tanah Mairi tapi banyak yang hilang. Karena dalam kisah diceritakan mereka banyak tertipu oleh setan-setan yang menyamar menjadi perempuan cantik yang justru menyesatkan mereka. Anak kecil itu belajar hingga akhirnya bisa sampai ke Mairi diselamatkan orang-orangnya.

“Jadi kisah Mairi ini sebagai pengharapan. Sebagai doa. Ketika Mairi diangkat menjadi tema pameran, kita tidak sedang sekedar menampilkan karya seni. Tapi lebih dari itu, ini adalah doa kami untuk pemulihan-penyembuhan Papua,” kata Dicky memberikan penjelasan tentang tema dan konsep pameran tersebut kepada satuharapan.com.

Lebih lanjut Dicky memaparkan Papua hari-hari ini sedang sakit, sedang banyak masalah. Banyak korban berjatuhan. Dan di sinilah kelompok Udeido mencoba melihat seni memiliki daya kekuatan untuk menyembuhkan. Mereka yang sedang menari sesungguhnya sedang berdoa untuk pemulihan Papua. Karenanya pameran ini tidak dikemas dalam kehebohan sebuah perayaan karena presentasi karya ini sesungguhnya lebih kontemplatif. Dan suatu saat kita akan sampai ke Mairi. Papua akan damai lagi. Manusianya tidak hidup lagi dalam ancaman, ketakutan, tapi hidup damai di atas tanahnya sendiri.

“Dalam konteks Mairi, seniman terlibat disilakan menginterpretasikan relevansinya dalam konteks permasalahan di tempatnya masing-masing. Ada yang bicara misalnya damai itu sungai harus bersih. Damai itu harus hentikan pembunuhan terhadap orang Papua dan juga seluruh kehidupan manusia. Atau mungkin, damai itu harus merdeka secara politik misalnya. Damai itu ketika gunung emas kami dikeruk lagi. Jadi versi spirit Mairi seperti apa itu yang coba kita bawa ke dalam karya-karya tersebut,” imbuh Dicky.

Reflektif-kontemplatif itulah yang tersaji dalam karya ke-19 seniman-perupa pada pameran “Mairi” dengan pembacaan realitas isu sosial-politik, metafora, hingga satire atas mimpi-mimpi yang dituangkan ke dalam karyanya. Michael Yan Devis salah satunya yang menyajikan digital painting series Mairi dalam karya berjudul Nduga Mencari Mairi, Papua Mencari Mairi, ataupun Feminism for Mairi.

Dalam karya drawing di atas kertas berjudul Nao Teme Lamenge, Nelson Natkime mencoba merekonstruksi Papua di masa lalu dan konteks kejadian hari ini. Sebagai anak adat Amungme, Nelson paham sekali apa yang terjadi di tanah kelahirannya. Dalam Nao Teme Lamenge, Nelson mengisahkan awal eksploitasi gunung emas di Freeport yang hanya diganti dengan lima kaleng daging sapi olahan (korned beef) untuk ijin menambang biji emas di sana. Di tengah keserakahan manusia untuk mengeruk hasil bumi dibayangi dengan kerusakan alam, kesengsaraan hidup, tersisih bahkan hilangnya budaya setempat menjadi pemandangan sehari-hari dan berujung pada kematian massal: manusia dan kebudayaannya.

Merespon isu sosial-politik di Papua, Dicky Takndare mempresentasikan karya lamanya berjudul Deep Silent Sio Insose. Karya lukisan berukuran 70 cm x 90 cm yang dibuat Dicky merupakan refleksi sekaligus protes atas tragedi kemanusiaan yang terjadi di Biak pada Juli 1998 dimana banyak perempuan dibunuh, diperkosa, bahkan dimutilasi oleh rezim penguasa saat itu. Dalam citraan hiperrealis Dicky melukis figur perempuan Papua dengan mulut terkunci oleh engsel bergembok dan air mata yang tergenang menyaksikan tragedi-kejadian di depan matanya tanpa mampu bersuara-bicara.

“Karya tersebut saya dedikasikan untuk perempuan-perempuan Papua korban tragedi Biak. Jangan ada lagi kekerasan-pembunuhan manusia atas nama apapun,” tegas Dicky.

Hal yang sama dilakukan Yanto Gombo pada karya lukisan cat minyak berjudul Di Negeriku. Lukisan surealis dengan figur laki-laki Papua dengan rantai dan tali gantungan di lehernya, dari mulutnya seolah dipaksa menelan uang kertas, selembar plastik kuning bertulis police line terselempang di bahunya, dan sebuah zipper/ritsleting tertutup membelah jidatnya. Dalam bahasa satire yang dalam Yanto seolah mempertanyakan kembali eksistensi sebuah bangsa: inikah potret negeriku?

Sebagai catatan, pada periode 1998 hingga 2016, tercatat lima kasus pelanggaran berat HAM terjadi di Papua. Lima kasus tersebut adalah kasus Biak Numfor pada Juli 1998, peristiwa Wasior pada 2001, peristiwa Wamena pada 2003, peristiwa Paniai pada 2014, dan kasus Mapenduma pada Desember 2016.

Kekayaan ornamen-dekoratif menjadi pilihan menarik untuk menyampaikan pesan-pesan  reflektif. Dalam karya berjudul Buono Wito Ine Kakopa Ne , pada selembar kulit sapi Ina Wossiry melukis seekor sapi dengan tubuhnya dipenuhi ilustrasi perburuan, ornamen-ornamen etnik, keluarga, ragam flora-fauna, alat kesenian. Di sekeliling sapi, Ina menambahkan drawing hitam-putih berbagai bentuk bagian-bagian tubuh babi hutan. Sepintas karya Ina Wossiry seperti lukisan prasejarah yang banyak terdapat di gua-gua di Papua, dan Ina melakukan pembacaan tersebut pada hari ini.

Eksplorasi senada dilakukan oleh Freddy Monim dalam karya lukisan kulit kayu berjudul Khayouw. Freddy menyandingkan ornamen-dekoratif khas Papua dengan ikan warna-warni dimana detail warna tersebut bersumber dari citraan pembungkus mie instan, makanan ringan, kopi sachet-an.

Hal yang sama dilakukan Dicky Takndare pada karya berjudul The Death Dresses. Pada sosok perempuan dengan latar ornamen-dekoratif coklat tua di atas kulit kayu Dicky melengkapinya dengan coretan warna-warni pakaian plastik mie instan, gelas air minum dalam kemasan, botol minuman ringan. Di kepala sosok perempuan, Dicky melukiskan ilustrasi perubahan Papua akibat masuknya produk apapun dari luar tanpa adaptasi-antisipasi yang mendorong sebuah proses kematian. Menariknya, pada sarung tinju (glove) warna merah yang dikenakan perempuan tersebut, Dicky menuliskan satu kata: Lawan.

Daun Kematian, saya membaca Papua yang sudah betul-betul berubah. Bagaimana orang-orang Papua sudah tergantung dengan produk-produk dari luar, mie instan, air minum dalam kemasan padahal air di sungai di sana itu bersih sekali mengapa harus beli AMDK? Jadi hal-hal yang demikian membuat masyarakat Papua seolah tercerabut dari akar tradisi-budayanya. Ada ketakutan yang merasuk ketika itu semua merasuk kedalam apa yang dipakai, apa yang dimakan, dan Papua sudah benar-benar berubah karena itu. Di titik itu saya menyebutnya “sebuah kematian”. Makanya dalam karya itu saya menggunakan medium kulit kayu mix dengan medium lain sebagai simbol mulai tersingkirnya masyarakat Papua oleh kedatangan hal-hal yang baru dari luar. Simbolnya ada dalam produk-produk tersebut, meskipun preferensinya bisa lebih luas lagi,” tutur Dicky tentang karya The Death Dresses.

Kasus bencana kelaparan yang terjadi Kabupaten Yahukimo pada tahun 2009 silam salah satunya akibat gagal panen menjadi gambaran bagaimana sebuah wilayah yang dilimpahi dengan kekayaan sumberdaya alam sumber protein-karbohidrat menjadi tergagap ketika pola-sumber karbohidrat-protein yang tersedia di alam tergantikan dengan produk dari luar seperti mie instan, beras, minuman sachet maupun air minum-minuman ringan dalam kemasan. Sebuah ironi bencana kelaparan di lumbung pangan.

Mengangkat cerita rakyat Suku Malind, Kabupaten Merauke seniman-perupa Lejar Daniartana Hukubun mempresentasikan rancangan desain buku baru dengan mengemas ulang dalam bentuk buku cerita anak yang dilengkapi dengan ilustrasi-ilustrasi yang menarik minat anak, dapat mendukung cerita rakyat dan bahasa yang mudah dipahami untuk anak-anak usia sekolah dasar. Selain ilustrasi buku cerita, Lejar melengkapinya dengan hasil eksperimennya berupa Wayang Malind dan batik Papua dengan karakter baru yang dieksplorasi dari khasanah budaya Suku Malind.

Dalam sambutan pembukaan pameran Heri Dono memberikan apresiasi sekaligus keterkejutan atas karya-karya yang dipresentasikan.  Melihat karya yang dipresentasikan, Heri Dono menjelaskan bahwa persoalan kesenian-kebudayaan sebetulnya sangat plural/majemuk. Dan di pameran Mairi, pengunjung disuguhi sajian bahwa seniman Papua memiliki potensi dan kualitas. Harapannya pameran-pameran seperti ini tidak hanya digelar di Yogyakarta, namun juga di kota-kota lain.

“Joseph Bueys mengatakan seni adalah penyembuhan. Selain itu seni juga doa. Kritik apapun baik pribadi maupun tentang visi-misi yang menekan kita itu sebetulnya adalah juga doa. Agar lebih baik lagi, lebih nyaman, lebih sejahtera, lebih sentosa,” tutur Heri Dono dalam sambutan pembukaan pameran, Kamis (3/10) malam.

Pameran seni rupa kelompok Udeido bertajuk “Mairi” berlangsung hingga 10 Oktober 2019 di Sangkring art project, Jalan Nitiprayan No. 88 RT.01/RW.20, Sanggrahan, Ngestiharjo, Kecamatan Kasihan – Bantul.

 


BPK Penabur
Gaia Cosmo Hotel
Kampus Maranatha
Back to Home