Loading...
EKONOMI
Penulis: Ignatius Dwiana 18:29 WIB | Senin, 10 Maret 2014

Pemilu 2014: Persoalan Nelayan Luput dari Perhatian

Sekjen Kiara Abdul Halim. (Foto: Ignatius Dwiana)

JAKARTA, SATUHARAPAN.COM – Di tengah ingar-bingar penyelenggaraan Pemilihan Umum (Pemilu) 2014, kesejahteraan nelayan dan perempuan nelayan belum memperoleh porsi dan perhatian partai peserta pemilu.

Tidak ada yang spesifik membicarakan soal urgensi kesejahteraan nelayan dan perempuan nelayan, baik dari pemberitaan pelbagai media televisi, elektronik, maupun poster dan spanduk para caleg di jalan-jalan.

“Perdebatan politik sampai dengan hari ini baru seputar siapa dan partai apa yang memiliki suara untuk mencalonkan presiden di Pemilu 2014.  Belum masuk pada substansi apa yang seharusnya mereka lakukan,” kata Sekretaris Jenderal Koalisi Rakyat untuk Keadilan Perikanan (Kiara) Abdul Halim dalam perbincangan melalui telepon pada Senin (10/3) sore.

Abdul Halim mengatakan konstitusi menyebut Indonesia sebagai republik maritim. Tetapi, soal kesejahteraan pelaku utamanya, seperti nelayan dan perempuan nelayan belum menjadi isu konkret. Anggaran kelautan dan perikanan dalam lima tahun terakhir memang meningkat, tetapi tidak dibarengi kreativitas program. Pengelolaan perikanan dengan sistem bibit perikanan hanya menguntungkan kelompok modal besar, sementara tidak bagi 95 persen nelayan kecil.

“Prakteknya sampai dengan hari ini masih mengutamakan yang besar-besar saja. Tidak kemudian memfasilitasi dan mengajak yang kecil untuk ikut serta maju. Padahal, karakteristik masyarakat Indonesia itu kolektivisme atau gotong royong. Koperasi yang dibentuk sebetulnya bisa untuk menjalankan kepentingan dan kesejahteraan bersama,” dia menjelaskan.

Negara yang memiliki sumber perikanan merupakan negara yang berpotensi besar, dengan syarat negara itu punya kemampuan mengelola, mengolah, dan memiliki pasar kuat. “Kebetulan saya baru mengikuti pertemuan FAO (Badan Pangan Dunia, Red) berkenaan dengan perdagangan ikan. Di dalamnya semua negara menegaskan pentingnya melibatkan pelaku perikanan skala kecil,” dia menambahkan.

Sementara itu, sampai dengan hari ini pola perdagangan perikanan Indonesia hanya mengekspor bahan baku dalam bentuk gelondongan dan bukan olahan. Hal itu mengakibatkan sisi pendapatan Indonesia kecil. 

Editor : Sotyati


BPK Penabur
Gaia Cosmo Hotel
Kampus Maranatha
Back to Home