Loading...
SAINS
Penulis: Dewasasri M Wardani 09:40 WIB | Sabtu, 20 Agustus 2016

Pencapaian Prestasi Akademik Bukanlah Segalanya

Ilustrasi (Foto: ugm.ac.id)

JAKARTA, SATUHARAPAN.COM - Pendiri Lembaga Pendidikan dan Pengembangan Profesi Indonesia Syahrial Yusuf mengatakan, pencapaian prestasi akademik bukanlah segalanya sehingga Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan diminta matang mewacanakan konsep.

"Pencapaian akademik bukanlah segalanya. Kurikulum pendidikan bahkan sering berganti hingga sekitar enam kali," kata Syahrial Yusuf dalam keterangan tertulis yang diterima di Jakarta, Jumat (19/8).

Untuk itu, Syahrial menyarankan sebaiknya pemerintah fokus pada sejumlah kebijakan skala prioritas, termasuk yang sifatnya peta jalan sektor pendidikan jangka panjang.

Selain itu, kata  dia, perlu pula mendorong pendidikan vokasional yang dinilai sejalan dengan keinginan Presiden Joko Widodo dalam program prioritas 2017 dalam Pidato Kenegaraannya tahun lalu.

Terkait wacana "full day school" atau sekolah sehari penuh, Syahrial Yusuf menyatakan kurang sependapat karena hal tersebut dinilai kurang rasional, cenderung terlalu dipaksakan, dan rentan kontraproduktif.

"Wacana full day school itu tak perlu dilempar ke publik bila konsep dan teknisnya tampak belum siap, dan masih kurang jelas seperti itu," katanya.

Dia mengingatkan, bahwa negara Republik Indonesia sangat luas dan heterogen sehingga harus ada standardisasi tertentu, yang relevan dengan kondisi tersebut.

Syahrial juga mengingatkan, masih belum meratanya infrastruktur dan kerap ditemukannya ketimpangan fasilitas pendidikan di mana-mana.

Selain itu, siswa juga bakal keletihan setiap hari dan bisa berimbas kepada kurang maksimal dalam konsentrasi belajar mereka.

Sedangkan dari segi tenaga pengajar, ia juga meragukan apakah jumlah guru memenuhi karena selain mengajar, guru juga ada pekerjaan lainnya seperti hal hal administratif dan memonitor hasil belajar siswanya.

“Sebagaimana diwartakan, wacana mengenai sekolah sehari penuh (full day school) harus disikapi dengan arif dan jika ditelaah lebih dalam terdapat kekhasan sebagaimana nampak di beberapa daerah, “ kata Direktur Pendidikan Madrasah Kementerian Agama Nur Kholis Setiawan.

"Bagi kami, masing-masing model pendidikan itu punya kekhasan. `Full day school` atau `full time school` saya pikir sudah diterapkan di beberapa madrasah," kata Nur Kholis saat ditemui usai menghadiri konferensi pers Kompetisi Sains Madrasah (KSM) 2016 di kantornya Jakarta, Jumat (19/8).

Dia mencontohkan sejumlah madrasah di beberapa daerah memiliki model pendidikan terintegrasi dengan konsep "full day school". Beberapa daerah itu biasanya merupakan kantong-kantong santri seperti di Jawa Timur, Banten, Kalimantan Selatan, Nusa Tenggara Barat dan wilayah lainnya.

Pondok pesantren dan madrasah keagamaan, kata Nur Kholis, juga memiliki sistem pendidikan yang mirip dengan "full day school". Di sejumlah daerah itu bahkan didukung oleh pemerintah daerah.

Tolok ukur yang bisa dilihat, kata dia, adalah dengan adanya anggaran dari pemda untuk memberikan insentif kepada tenaga pendidik madrasah diniyah.

Menurut dia, wacana sekolah sehari penuh jangan terlalu dikhawatirkan. Alasannya, dengan segala kekurangan dan kendala "full day school" nantinya akan ada jalan keluarnya. (Ant)

Editor : Eben E. Siadari


BPK Penabur
Gaia Cosmo Hotel
Kampus Maranatha
Back to Home