Loading...
DUNIA
Penulis: Reporter Satuharapan 17:08 WIB | Selasa, 10 Mei 2016

Setelah Prancis dan Belgia, Kini Teror Pindah ke Jerman

Polisi menyelidiki kejadian penusukan di sebuah stasiun di Grafing dekat Munich, Jerman, Selasa 10 Mei 2016. (Foto: AP/Matthias Schrader)

MUNICH, SATUHARAPAN.COM – Penusukan yang terjadi pada hari Selasa (10/5) di stasiun Munich, Jerman. Diduga terkait teror ISIS di Prancis dan Belgia, tetapi polisi belum menemukan motif yang jelas pelaku.

Menurut laporan media lokal, saksi mata mengatakan pelaku berteriak “Allahu akbar” selama penyerangan.

Penusukan itu telah menewaskan satu orang dan tiga orang luka-luka.

“Penyerangan di TKP terkesan seperti motif politik, tampaknya ini motif agama” kata juru bicara juru bicara kepolisian setempat, Karl-Heinz Segerer, “Kami masih menentukan motif sebenarnya”.

Penyerangan terjadi sekitar pukul 5 pagi waktu setempat oleh pria yang berusia 27 tahun di kota Grafing, Timur Munich, menurut keterangan polisi.

Polisi telah menangkap tersangka tak lama selang peristiwa di sekitar tempat kejadian, kata polisi. Sebuah belati dengan mata pisau sepanjang 10 cm telah ditemukan.

Sebelumnya, negara tetangga Jerman, Prancis dan Belgia, sudah lebih dulu mendapatkan.

Belgia Mulai Sidangkan Tujuh Tersangka Teror Paris dan Brussels

Sebelumnya, Belgia pada Senin (9/5) memulai persidangan atas tujuh tersangka ekstremis yang dituding terkait sel teroris di balik teror Paris dan Brussels.

Ketujuh pria itu ditahan operasi penggerebekan fatal di Kota Verviers, Belgia pada Januari 2015 yang mengungkap dugaan rencana pembunuhan aparat kepolisian.

Sembilan orang lainnya yang masih buron disidangkan secara in absentia oleh pengadilan di Brussels.

Kepolisian meyakini Abdelhamid Abaaoud, tersangka dalang teror Paris pada November, memberikan perintah kepada sel Verviers via telepon dari Yunani.

Abaaoud, yang tewas dalam baku tembak di Paris beberapa hari setelah insiden teror itu, juga memiliki hubungan dekat dengan sel teror di balik serangan teroris di bandara dan stasiun kereta bawah tanah Brussels pada 22 Maret.

Presiden Prancis Francois Hollande mengatakan sel teror yang sama berada di balik serangan teror Paris, saat sejumlah pria bersenjata dan pengebom bunuh diri menewaskan 130 orang, dan teror Brussels yang merenggut nyawa 32 orang.

Kedua serangan teror itu diklaim ISIS.

“Teorinya adalah sel Verviers merupakan inti dari serangan Paris” termasuk salah satu sel teror yang diselidiki pihak berwenang Prancis, kata seorang narasumber yang mengetahui penyelidikan tersebut kepada surat kabar Prancis Le Monde. (AFP/timesofisrael/cnn/kav)

Editor : Bayu Probo


BPK Penabur
Gaia Cosmo Hotel
Kampus Maranatha
Back to Home