Loading...
DUNIA
Penulis: Diah Anggraeni Retnaningrum 21:30 WIB | Senin, 05 Desember 2016

Tiongkok Peringatkan Gangguan terhadap Kesepakatan Nuklir

Mantan menteri Luar Negeri Amerika Serikat Henry Kissinger (kiri) berbincang-bincang dengan Presiden Tiongkok Xi Jinping (kanan) di Balai Agung Rakyat, Beijing, 2 Desember 2016. (Foto: AFP/Nicolas Asfouri)

BEIJING, SATUHARAPAN.COM - Pelaksanaan kesepakatan nuklir Iran seharusnya tidak “dipengaruhi oleh perubahan kondisi domestik” di negara-negara yang terlibat, kata Menteri Luar Negeri Tiongkok Wang Yi pada Senin (05/12), seiring ancaman pembatalan oleh presiden terpilih Amerika Serikat (AS) Donald Trump.

Perjanjian itu, yang ditandatangani di Wina pada Juli 2015, dan diberlakukan sejak Januari, adalah terobosan diplomatik Barack Obama di masa jabatan kedua. Perjanjian tersebut menyerukan Teheran untuk membatasi program nuklirnya dengan imbalan pencabutan sanksi dari AS dan negara-negara lain.

Trump berjanji akan membatalkan kesepakatan nuklir begitu dia resmi menjabat, menyebut perjanjian yang menaunginya -- Rencana Aksi Bersama Komprehensif -- sebagai “kesepakatan terburuk yang pernah dinegosiasikan.”

Pelaksanaan kesepakatan tersebut adalah “tanggung jawab bersama dan tugas semua pihak” dan “seharusnya tidak terpengaruh oleh perubahan situasi dalam negeri di negara-negara bersangkutan,” kata Menteri Luar Negeri Tiongkok Wang Yi dalam jumpa pers setelah bertemu dengan Menteri Luar Negeri Iran Mohammad Javad Zarif.

“Yang terpenting adalah menghormati komitmen dan menekankan iktikad baik, jika menyangkut soal perbedaan atau kemungkinan perbedaan” terkait kesepakatan itu, imbuhnya.

Dalam batu sandungan lain bagi kesepakatan itu, Kongres AS pada pekan lalu memutuskan untuk memperpanjang sanksi lama sehubungan dengan uji coba rudal balistik dan catatan hak asasi manusia Iran. Isu kontroversi itu terjadi saat Iran belum berambisi memperoleh kemampuan nuklir.

Washington mengatakan sanksi 10 tahun tersebut tidak ada hubungannya dengan perjanjian nuklir, tapi Iran mengatakan sanksi berkelanjutan mematahkan semangatnya, terutama karena sanksi menghalangi bank-bank internasional kembali ke negara tersebut.

“Kami tidak akan membiarkan pihak manapun untuk secara sepihak melakukan tindakan yang melanggar perjanjian nuklir,” kata Zarif.

Dia juga mengatakan dia berbicara dengan Wang mengenai peningkatan kerja sama di bidang energi, transportasi, ilmu pengetahuan dan teknologi, inisiatif pertahanan dan kontraterorisme nasional. (AFP)

Editor : Diah Anggraeni Retnaningrum


BPK Penabur
Gaia Cosmo Hotel
Kampus Maranatha
Back to Home