Loading...
BUDAYA
Penulis: Sabar Subekti 09:57 WIB | Selasa, 20 Juli 2021

UNESCO Usulkan Great Barrier Reef di “Daftar Dalam Bahaya”

UNESCO Usulkan Great Barrier Reef di “Daftar Dalam Bahaya”
Foto bertanggal 2 Desember 2017 menunjukkan Great Barrier Reef di Australia. (Foto: dok. Kyodo via AP)
UNESCO Usulkan Great Barrier Reef di “Daftar Dalam Bahaya”
Wakil Menteri Pendidikan China, Tian Xuejun, yang juga Direktur Komisi Nasional China untuk UNESCO menyampaikan pidato pembukaannya, dia tampak di layar saat upacara pembukaan sesi ke-44 Komite Warisan Dunia UNESCO di Fuzhou di Provinsi Fujian, China pada Jumat (16/7). (Foto: Song Weiwei/Xinhua via AP)

BEIJING, SATUHARAPAN.COM-china sebagai tuan rumah pertemuan Komite Warisan Dunia PBB tahun ini membela proposal badan tersebut untuk memberi label Great Barrier Reef sebagai "dalam bahaya," terhadap kecurigaan pemerintah Australia bahwa China memengaruhi temuan itu karena alasan politik.

Komite, yang bertemu baik secara virtual dan di kota Fuzhou di China selama dua pekan ke depan, akan mempertimbangkan rancangan keputusan itu pada hari Jumat mendatang.

"Australia, sebagai negara anggota Komite Warisan Dunia, harus... mementingkan pendapat badan-badan penasihat dan dengan sungguh-sungguh memenuhi tugas perlindungan terhadap Warisan Dunia daripada membuat tuduhan tanpa dasar terhadap negara-negara lain," kata Tian Xuejun, Wakil Menteri Pendidikan China, dan presiden pertemuan tahun ini, pada hari Minggu (18/7).

Komite UNESCO akan mempertimbangkan untuk menambahkan situs baru ke dalam daftar Warisan Dunia, menghapus beberapa, dan menambahkan yang lain ke dalam kategori dalam bahaya. Rancangan keputusan itu termasuk menempatkan Venesia dalam daftar dalam bahaya dan mendorong pemerintah Italia untuk melarang kapal pesiar di kota laguna itu sebagai upaya untuk menghindari penunjukan tersebut.

Great Barier Reef dalam Bahaya?

Tian, ​​berbicara pada konferensi pers pertama sejak pertemuan dibuka hari Jumat lalu, mengatakan bahwa proposal Great Barrier Reef didasarkan pada data dari Australia dan rekomendasi dari badan penasihat.

Menteri Lingkungan Australia, Susan Ley, yang berada di Eropa melobi delegasi UNESCO agar tidak mendukung Great Barier Reef di daftar dalam bahaya, tidak segera bersedia untuk mengomentari kritik China.

Kantornya pada hari Senin (19/7) merilis sebuah laporan oleh Institut Ilmu Kelautan Australia yang didanai pemerintah yang mengindikasikan pemulihan luas terumbu karang. Pemantauan oleh lembaga tersebut menemukan tutupan karang telah meningkat selama jeda dari cuaca buruk selama setahun terakhir.

"Rilis laporan lengkap menggarisbawahi pandangan kami bahwa daftar yang diusulkan Komite Warisan Dunia tidak didasarkan pada informasi terbaru," kata Ley dalam sebuah pernyataan.

Australia bereaksi dengan marah ketika draf itu dirilis bulan lalu. “Keputusan ini salah. Jelas ada politik di baliknya,” kata Ley, tanpa menyebut nama China.

Hubungan China dan Australia

Hubungan antara kedua negara telah memburuk dalam beberapa tahun terakhir, dengan Australia memblokir teknologi dan investasi China dalam infrastruktur utama, dan China menggunakan tarif dan langkah-langkah lain untuk mengurangi impornya dari Australia.

Australia diperingatkan pada tahun 2014 bahwa daftar dalam bahaya sedang dipertimbangkan untuk Great Barrier Reef, yang ditetapkan sebagai situs warisan dunia pada tahun 1981.

Rancangan keputusan tersebut mengatakan bahwa rencana jangka panjang Australia untuk terumbu karang, jaringan 2.500 terumbu karang yang mencakup 348.000 kilometer persegi (134.000 mil persegi), “membutuhkan komitmen yang lebih kuat dan lebih jelas, khususnya untuk segera melawan dampak perubahan iklim.”

"Kami sangat mengakui pekerjaan yang telah dilakukan di Australia, tetapi teks kami dalam rancangan keputusan... adalah proposal untuk menempatkan situs di daftar warisan dunia dalam bahaya, karena ancaman yang diidentifikasi," kata Mechtild Roessler, direktur Komite Warisan Dunia UNESCO.

Ernesto Ottone Ramírez, asisten direktur jenderal untuk budaya di UNESCO, mengatakan bahwa daftar dalam bahaya harus dilihat sebagai seruan kolektif untuk tindakan dari semua negara anggota.

“Itu sesuatu yang harus dilihat sebagai sesuatu yang positif dan bukan, seperti yang kami dengar dari beberapa otoritas di negara lain, sebagai hukuman,” katanya, bergabung dalam konferensi pers dari Paris. “Begitulah cara kita melestarikan warisan kita untuk generasi mendatang.” (AP)

Editor : Sabar Subekti


Kampus Maranatha
Gaia Cosmo Hotel
LAI Got talent
BPK Penabur
Zuri Hotel
Back to Home