Loading...
SAINS
Penulis: Sabar Subekti 07:26 WIB | Kamis, 11 Juni 2020

WHO Berharap Kerja Sama dengan Amerika Serikat Tanggulangi Wabah Ebola

Sekjen WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus. (Foto: dok. Ist)

JENEWA, SATUHARAPAN.COM-Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) berharap untuk bekerja "berdampingan" dengan Amerika Serikat dalam menanggulangi wabah Ebola di Kongo, kata pemimpinnya pada hari Rabu (10/6), meskipun ada perbedaan mengenai pandemi virus corona baru.

Presiden Donald Trump mengatakan bulan lalu bahwa dia mengakhiri hubungan AS dengan WHO atas penanganan pandemi virus corona (COVID-19). Tetapi Direktur Jenderal WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus, mengatakan dia telah bertemu dengan Menteri Kesehatan dan Layanan Kemanusiaan AS, Alex Azar pekan lalu. Pertemuan itu tampaknya menjadi tanda pertama kerja sama tingkat tinggi antara Tedros dan pemerintahan Trump sejak presiden mengatakan dia memutuskan hubungan.

"Kami telah melakukan diskusi yang sangat baik dengan menteri pada pekan lalu dan dia meyakinkan saya tentang komitmen AS yang berkelanjutan untuk mendukung upaya terutama melawan Ebola," kata Tedros.

WHO mengatakan pada hari Senin (8/6) bahwa 12 orang telah terinfeksi Ebola dalam wabah penyakit mematikan di Republik Demokratik Kongo. Namun Tedros mengatakan pertemuan dengan Azar tidak berarti WHO menerima uang langsung dari Washington, yang sampai sekarang merupakan donor utamanya.

"Ini bukan tentang uang. Hubungan (dengan Amerika Serikat) lebih penting," katanya. Tidak dijelaskan kapan keputusan Trump untuk memutuskan hubungan akan mulai berlaku dan WHO belum mengkonfirmasi menerima pemberitahuan resmi penarikan.

Kekurangan Peralatan

Trump menuduh WHO mengeluarkan nasihat buruk tentang virus corona dan menjadi kaki tangan China, tempat pandemi itu pertama kali dilaporkan, namun WHO telah mempertahankan penanganan krisisnya.

Mike Ryan, kepala program kedaruratan WHO, mengatakan pada hari Rabu (10/6) ada kekurangan peralatan untuk memerangi virus corona di beberapa daerah termasuk Amerika Tengah dan Selatan.

Danitanya tentang studi Harvard Medical School menggunakan gambar satelit yang menunjukkan bahwa virus corona mungkin telah menyebar di China pada Agustus 2019, ia mendesak agar berhati-hati. "Sangat penting bahwa kita tidak berspekulasi terlalu banyak," katanya pada briefing virtual. (Reuters)

Editor : Sabar Subekti


Kampus Maranatha
Gaia Cosmo Hotel
BPK Penabur
Zuri Hotel
Back to Home