Google+
Loading...
ANALISIS
Penulis: Krisnasari Yudhanti 00:00 WIB | Senin, 24 Juli 2017

Bancakan Bebas Plastik ala Sewurejo

Menurut prakiraan The Guardian, harian paling terkenal dari Inggris, permintaan akan botol plastik akan melonjak drastis. Diperkirakan tahun 2021 akan ada lonjakan 20% kebutuhan botol plastik. Itu setara pembelian satu juta botol plastik setiap menitnya. Dan Indonesia menempati rangking ke-5 negara pengguna botol plastik terbesar.

SEMILIR. Itu ungkapan yang paling pas menggambarkan segarnya udara pagi hari  pemandangan asri saat memasuki desa tempat kelahiran bapakku di Desa Sewurejo, Kecamatan Mojogedang, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah. Jaraknya sekitar 14 km dari kota Solo.

Pagi itu, aku dan keluarga besar satu trah berencana kumpul di rumah eyang. Akan ada acara “bancakan” yang akan diadakan oleh eyang dan mengundang warga sekitar. Rencana anak-anak eyang adalah  lahan di sekitar rumah akan dijadikan kebun jati maka tanda bahwa kami memohon ijin pada sang Pencipta dan alam semesta, keluarga Bapak menggelar “bancakan” atau selametan agar segala rencana pengolahan tanah hingga pembibitan berjalan dengan baik.

Selametan berlangsung. Para warga hadir, turut urun rembug , dan berdoa bersama. Tiba saatnya menyajikan minuman dan piring untuk makan siang. Ada kisah kecil menarik yang kusaksikan. Gelas-gelas beling berukuran kecil bermotif  kembang di sisinya dan menggunakan tutup. Gelas-gelas tersebut berisi teh manis hangat atau seringkali disebut teh nasgitel (panas, legi, kentel) yang siap disajikan untuk para tamu warga.

Bagi saya, pemandangan gelas beling membuat mata berbinar dan mengucap ,”Ya Ampun” dan dalam hati saya agak setengah menjerit “So sweet”, karena setiap kali ada acara yang diadakan di lingkungan rumah tempat tinggalku, baik acara arisan,  forum warga, doa bersama, pesta ulang tahun, atau selametan apapun selalu ditemani berbagai jenis produk air mineral kemasan dengan bahan plastik.

Dalam tradisi Jawa, pembuatan hingga penyajian teh nasgitel dalam gelas beling bermotif kembang dan tutupnya ini dilakukan oleh warga terpilih yang bertanggung jawab, dinamakan Patehan. Peran sebagai Patehan ini biasanya dilakukan turun temurun oleh keluarganya.

Seorang teman pun berbagi cerita soal gelas beling bermotif kembang ini. Salah satu peninggalan mendiang ibunya yang sangat bermakna baginya adalah koleksi gelas teh nasgitel bermotif kembang. Gelas-gelas tersebut ia simpan baik-baik dan hanya dikeluarkan saat memperingati hari meninggalnya sang Ibu.

Jadi tanpa disadari barang-barang sederhana yang seringkali dipakai untuk peringatan peristiwa-peristiwa penting dalam hidup kita menjadikannya sejarah kecil yang memiliki kesan mendalam.

Dalam waktu yang bersamaan, pikiran saya langsung melayang ke air-air mineral dengan kemasan plastik. Praktis. Sekali pakai lalu buang. Tidak ada bangunan makna apapun. Tidak ada sejarah apapun didalamnya, selain hanya menambah gunungan sampah plastik di bumi ini. Sedihnya lagi, lambat laun tradisi penyajian teh dengan gelas motif kembang ini bisa hilang. Kita semua enggan repot, mending beli kemasan. Tidak  perlu dicuci, langsung buang. Kita kecanduan botol plastik, walau tahu itu berbahaya.

Para ilmuwan dari Ghent university di Belgia baru-baru ini menghitung orang yang makan seafood menelan plastik 11000  bagian kecil plastik setiap tahunnya. Bahkan Plymouth University melaporkan bahwa plastik ditemukan pada satu per tiga ikan hasil tangkapan nelayan di UK, seperti cod, haddock, mackerel, dan shellfish. Bahkan tahun lalu European Food Safety Authority segera mengadakan riset kesehatan manusia dan keamanan makanan akibat potensi adanya polusi mikroplastik didalam jaringan  jenis kan-ikan komersial.

The Guardian memprediksi pada tahun 2021 nanti akan terjadi lonjakan fantastis pembelian botol plastik sebesar 20% di dunia. Ini berarti akan terjadi pembelian  satu juta botol plastik setiap menitnya. Kondisi ini akan menimbulkan krisis lingkungan yang cukup serius setingkat perubahan iklim.

Indonesia sendiri masuk di dalam 5 negara pengguna botol plastik terbesar. Hampir semua produk minuman kini menggunakan kemasan plastik bahkan beberapa produk minuman bersoda yang dulu berjaya dengan kemasan beling kini beralih ke plastik.

Betul jika ada yang berpendapat bahwa botol-botol ini bisa didaur ulang, namun lama kelamaan upaya daur ulangnya tidak akan bisa mengejar derasnya aliran limbah botol, sebagaimana diungkapkan oleh Hugo Tagholm, pakar konservasi laut dan tergabung dalam kelompok kampanye Surfers Against Sewage. Akibatnya, limbah yang tidak terolah hanya akan terbengkalai di tempat pembuangan sampah atau lolos ke laut.

Untuk mencegah hal ini, saya teringat akan wacana gaya hidup yang mengutamakan kepedulian terhadap lingkungan melalui 3 R, Reduce, Re-use, Recycle, yang dikenal dengan nama Zero Waste. Paul Palmer, sang penggagas kampanye tersebut mengajarkan bahwa ada satu upaya yang lebih penting untuk menghentikan meningkatnya sampah termasuk plastik, yaitu ReDesign produk. Untuk Indonesia sendiri tampaknya masih sulit menuju ke sana.

Menyikapi situasi ini, upaya pemerintah Indonesia berusaha membendung limbah plastik melalui penerapan cukai namun mendapat penolakan dari para produsen plastik yang diwakili oleh Ketua Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Indonesia (Gapmmi), Adhi Lukman Adhi. Menurutnya, penerapan cukai tersebut tidak berdasar. Ia mengaku memiliki data bahwa di tempat pembuangan akhir (TPA) plastik botol hampir tidak ada karena diambil langsung untuk di daur ulang. Di sisi lain, sulit mengubah kebiasaan masyarakat Indonesia yang sudah terlanjur manja dengan hadirnya air mineral kemasan plastik.

Lamunan panjang ngalor ngidul saya tiba-tiba buyar. Seorang sinoman (petugas penyaji teh) menawari saya segelas teh manis dan kacang rebus sebagai teman minum sembari mengingatkan saya untuk menyantap hidangan tumpeng tiwul dan aneka lauk tempe tahu dan  gudangan beralas daun pisang yang telah tersedia, namun mata dan hati terlampau tertarik menyeruput teh nasgitel ala Sewurejo lebih dahulu. Mari ngeteh

 

Penulis adalah aktivis Lantan Bentala, sebuah organisasi nirlaba yang bergerak di isu lingkungan

Editor : Trisno S Sutanto

Back to Home