Google+
Loading...
EDITORIAL
Penulis: Eben E. Siadari 03:31 WIB | Senin, 05 Maret 2018

Belasungkawa untuk Papua Nugini

Regu penyelamat berusaha menggali untuk menemukan jenazah yang tertimbun di Mendi, Papua Nugini, setelah gempa yang terjadi pada 26 Februari (Foto: Social Media/Reuters)

JAKARTA, SATUHARAPAN.COM - Papua Nugini diguncang gempa lagi pada hari Senin dini hari dengan kekuatan 6,0 magnitudo. Sepekan sebelumnya, gempa besar 7.0 magnitudo juga telah melanda negara itu.

Badan meteorologi AS, US. Geological Survei (USGS) mengatakan pusat gempa kali ini berada pada jarak 112 km di barat daya Porgera dan berada pada kedalaman sekitar 10 km.

Belasungkawa mendalam patut disampaikan kepada negara tetangga di sebelah timur kita itu. Menurut The Guardian, jumlah korban meninggal akibat gempa pekan lalu kini mencapai 67 orang, dua kali lipat dari jumlah yang awalnya disebutkan. 

Melesatnya jumlah korban meninggal disebabkan area bencana berada di pedalaman yang sulit dijangkau. Dan guncangan gempa susulan telah menimbulkan kekhawatiran akan semakin bertambahnya korban.

Bantuan dari dalam dan luar negeri sudah mulai mengalir ke wilayah yang terkena bencana. Tetapi keterpencilan daerah-daerah tersebut -- lebih kurang 500 km dari ibukota Papua Nugini, Port Moresby -- menyebabkan perlu waktu untuk mencapainya.

Menurut Udaya Regmi, Kepala Kantor Palang Merah Papua Nugini, jumlah korban meninggal diperkirakan akan terus bertambah Demikian juga korban luka dan korban-korban lain yang memerlukan pertolongan. "Saat ini kita mengetahui 500 orang terluka dan 127 ribu orang lainnya memerlukan pertolongan lain, seperti makanan, air, tempat penampungan dan layanan kesehatan," kata Regmi, yang berbicara kepada The Guardian.

Sejauh ini negara-negara tetangga yang telah memberikan bantuan adalah Australia, yang telah mendedikasikan sebuah pesawat untuk dipakai dalam menangani bencana. Juga dana sebesar 200.000 dolar Australia serta pasokan obat-obat dan lainnya.

Menteri Luar Negeri Selandia Baru, Winston Peters, mengatakan negaranya akan memberikan bantuan sebesar 500.000 dolar Selandia Baru disamping pasokan bantuan lain. Juga telah mendedikasikan sebuah pesawat Hercules untuk dioperasikan mambawa bantuan-bantuan darurat.

Pemerintah Papua Nugini juga telah mengumumkan keadaan darurat setelah terjadinya gempa pekan lalu. Militer dikerahkan untuk membantu memulihkan layanan dan infrastruktur, mengingat sambungan telepon di area tersebut terputus.

ExxonMobil yang berada di wilayah itu terpaksa menutup kegiatan perusahaan. Demikian juga beberapa operasi produksi perusahaan Oil Search juga ditutup sebagai tindakan pencegahan. 

Papua Nugini adalah negara tetangga kita. Salah satu negara tetangga terdekat, bahkan dalam berbagai urusan politik luar negeri ia menjadi sekutu sangat dekat. Dalam kehidupan bertetangga sebagai negara, hubungan kedua negara juga relatif hangat. Tidak ada ketegangan yang berarti, tidak seperti hubungan RI dengan beberapa negara tetangga lainnya.  Meskipun secara jarak negara ini cukup jauh dari Jakarta sebagai ibukota negara, ia sesungguhnya adalah tetangga paling dekat bagi sebagian warga negara kita, yakni saudara-saudara kita di Papua.

Layaklah kiranya kita menyampaikan ucapan belasungkawa kepada negara ini, yang masih berjuang untuk memulihkan keadaan. Doa kita bagi keluarga yang kehilangan anggota keluarga, semoga mereka kuat dalam menjalani dan melewati masa-masa sulit ini.

Sudah selayaknya pula Indonesia sebagai negara tetangga memberikan bantuan. Walaupun kita tahu di dalam negeri saat ini banyak sekali energi dihabiskan untuk mempersiapkan diri menuju tahun politik, tahun pilkada dan tahun pilpres, solidaritas terhadap negara tetangga yang sedang berduka sepatutnya tidak dijadikan sebagai prioritas sekunder.

Back to Home