Google+
Loading...
BUDAYA
Penulis: Reporter Satuharapan 19:20 WIB | Sabtu, 06 Oktober 2018

Festival Budaya Saman di Plaza Kemendikbud

Ilustrasi. Tari Saman di Kabupaten Gayo Lues yang dibawakan lebih dari 12.000 penari pada 13 Agustus 2017, memecahkan rekor dunia. (Foto:lintasgayo.co)

JAKARTA, SATUHARAPAN.COM – Tanggal 24 November menjadi tanggal penting bagi masyarakat Gayo Lues, sejak Saman ditetapkan sebagai Warisan Budaya Dunia oleh UNESCO pada tanggal 24 November 2011. Setiap tahun masyarakat Gayo Lues menghelat pesta budaya yang menampilkan Saman sebagai subjek utama perayaan.

Pada tahun 2018 ini perayaan tersebut digelar lebih istimewa dalam program platform Indonesiana, dengan kolaborasi antara Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) dan pemerintah daerah, yaitu Pemerintah Kabupaten Gayo Lues.

Indonesiana merupakan platform pendukung kegiatan seni budaya di Indonesia yang bertujuan membantu tata kelola kegiatan seni budaya yang berkelanjutan, berjejaring, dan berkembang. Program yang diinisiasi oleh Direktorat Jenderal Kebudayaan Kemendikbud ini dikerjakan dengan semangat gotong royong dan dengan melibatkan semua pihak yang memiliki kepedulian dan kepentingan atas pemajuan kebudayaan di Indonesia. Dalam hal ini, Saman adalah salah satu dari sembilan festival seni budaya di Indonesia yang didukung melalui Platform Indonesiana.

“Saman itu sudah menjadi bagian penting dari kehidupan masyarakat Gayo Lues,” kata Direktur Jenderal Kebudayaan Kemendikbud Hilmar Farid, saat membuka Festival Budaya Saman di Plaza Insan Berprestasi Kemendikbud, Jakarta, 2 Oktober 2018), seperti dilaporkan Desliana Maulipaksi dan dilansir situs resmi kemdikbud.go.id.

Saman bagi masyarakat Gayo Lues memang bukan sekadar media ekspresi. Saman juga merupakan media untuk lebih mendekatkan diri kepada Sang Pencipta melalui syair-syair yang dilantunkan. Lebih jauh, Saman juga merupakan suatu wadah ekonomi dalam pertunjukan, pakaian, maupun aspek lain.

Dalam laporannya, Direktur Warisan dan Diplomasi Budaya Nadjamuddin Ramly mengatakan, Festival Budaya Saman 2018 merupakan festival yang bertujuan mengangkat dan mengenalkan Saman kepada dunia. “Seiring sudah ditetapkannya Saman sebagai Warisan Budaya Tak Benda Indonesia oleh UNESCO pada 2011 silam, maka melalui Festival Budaya Saman ini, kita bersama-sama akan mengangkat Saman kepada dunia,” katanya.

Saman sebagai Sumber Ekonomi Masyarakat

Bupati Gayo Lues, Muhammad Amru menuturkan, sudah saatnya menjadikan Saman bukan hanya sebagai pertunjukan, melainkan juga sebagai sumber ekonomi masyarakat. “Sekarang saatnya menjadikan Saman sebagai ekosistem kebudayaan yang memajukan perekonomian masyarakat Gayo Lues. Salah satu upayanya adalah dengan mendirikan Saman Center yang akan menjadi wadah perkembangan Saman, baik sebagai sebuah seni, falsafah hidup, dan juga sendi perekonomian masyarakat,” katanya.

Kerja sama Kemendikbud dengan Pemerintah Kabupaten Gayo Lues untuk menyelenggarakan Festival Budaya Saman dikukuhkan dalam sebuah nota kesepahaman. Direktorat Warisan dan Diplomasi Budaya mendukung pada acara pembukaan yang dilaksanakan serangkai dengan Seminar Nasional Festival Budaya Saman 2018 bertajuk “Saman dalam Spektrum: Menuju Saman Center” pada tanggal 2-3 Oktober 2018.

Kemudian, dilanjutkan dengan tradisi “Bejamu Saman Roa Lo Roa Ingi” sebagai puncak penyelenggaraan Festival Budaya Saman pada tanggal 13 Oktober – 19 November 2018, yang difasilitasi unit pelaksana teknis (UPT) Kemendikbud, yaitu Balai Pelestarian Nilai Budaya (BPNB) Aceh.

Serangkaian dengan itu, sejak 2 Oktober hingga 24 November 2018, Gayo Lues diwarnai berbagai aktivitas terkait Festival Budaya Saman antara lain: lokakarya (workshop) Saman, kompetisi Bines, kompetisi Kerawang Gayo, kompetisi kopi, dan kompetisi musik etnik yang diisi oleh para tokoh atau ahli yang telah dipersiapkan dengan baik oleh Pemerintah Kabupaten Gayo Lues.

 

Back to Home