Google+
Loading...
FLORA & FAUNA
Penulis: Dewasasri M Wardani 11:31 WIB | Rabu, 01 Mei 2019

Ibu Kota Mode New York Larang Penjualan Bulu Binatang

Seorang perempuan mengenakan jaket bulu binatang pada acara New York Fashion Week, 12 Februari 2013. (Foto: Voaindonesia.com)

NEW YORK, SATUHARAPAN.COM – New York, salah satu ibu kota mode dunia,  mempertimbangkan pelarangan penjualan bulu binatang.

Anggota parlemen Kota New York, mendorong langkah terkait pelarangan penjualan semua produk baru berbahan bulu binatang.

Tindakan serupa di Albany, ibu kota Negara Bagian New York, akan memberlakukan larangan terhadap penjualan barang-barang berbahan bulu hewan yang diternakkan dan pembuatan produk yang terbuat dari bulu hewan yang ditangkap.

Sejumlah anggota industri bahan berbulu hewan mengatakan larangan tersebut bisa mengakibatkan 1.100 orang kehilangan pekerjaan di kota itu sendiri.

Para pendukung menolak hal tersebut, seraya menekankan pemakaian bahan berbulu itu adalah biadab dan tidak manusiawi.

Anggota Majelis Negara Bagian New York, Linda Rosenthal, dari Demokrat di Manhattan, mensponsori pembuatan undang-undang tersebut.

Nasib rancangan perundangan itu akan diputuskan dalam beberapa bulan mendatang, meskipun para pendukung mengakui RUU tersebut lebih besar berpeluang untuk lolos di Kota New York daripada di tingkat negara bagian.

Bisnis bulu hewan memuncak dalam abad terakhir dimana New York City memproduksi 80 persen dari mantel bulu buatan Amerika, demikian menurut FUR NYC, sebuah kelompok mewakili 130 ritel dan produsen kota itu, seperti dilansir Voaindonesia.com pada Rabu (1/5).

Kelompok itu mengungkapkan, Kota New York tetap menjadi pasar terbesar produk berbahan bulu hewan, dengan bulu hewan asli yang masih sering digunakan sebagai hiasan pada mantel jas, jaket dan barang lainnya.

Jika disahkan, New York akan menjadi kota besar Amerika ketiga dengan larangan seperti itu, mengikuti San Francisco yang tahun ini memberlakukannya, juga Los Angeles meloloskan tahun ini dan akan berlaku pada 2021.

Pendukung larangan itu berpendapat para karyawan bisa mendapatkan pekerjaan yang tidak terkait dengan bulu binatang, juga memperhatikan sekarang semakin banyak perancang busana dan ritel menolak penjualan bulu hewan sekaligus meyakinkan bahan sintetis pengganti berkualitas sama seperti yang asli.

Mereka juga berpendapat, sejumlah ritel dan produsen bulu hewan itu hanya mewakili sebagian kecil dari sekitar 180.000 orang yang bekerja di industri mode kota itu, dan dapat dengan mudah mentransfer keterampilan mereka.

Warga New York bertanya tentang larangan itu, yang minggu ini menekankan dua sisi tersebut dimana beberapa orang mempertanyakan jika hukum benar-benar diperlukan.

"Saya pikir ini benar-benar masalah pilihan pribadi. Saya tidak berpikir itu adalah sesuatu yang perlu disahkan," kata Janet Thompson, 44 tahun.

 

Back to Home