Google+
Loading...
ANALISIS
Penulis: Evelyn Suleeman 00:00 WIB | Rabu, 09 Agustus 2017

Indeks Perilaku Peduli Lingkungan

Saat ini, Indonesia sedang menghadapi persoalan serius tentang pengelolaan sampah. Berbagai pihak melakukan kajian tentang perilaku ramah lingkungan, termasuk Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK). Apa isinya?

BARU-baru ini Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) mengembangkan Indeks Perilaku Peduli Lingkungan (IPPL)  sebagai alat ukur untuk mengetahui perilaku manusia dalam berelasi dengan lingkungan. Dalam kata pengantar laporan survei (2013) itu disebutkan bahwa indeks perilaku peduli lingkungan ini secara terus menerus masih perlu dikembangkan sehingga mereka menerima masukan dari berbagai pihak. Indeks ini dianggap penting karena parameter perilaku lingkungan yang sangat kompleks dapat dilihat dan diukur dengan cara sederhana.

Indeks tersebut merupakan gabungan dari 5 indeks yaitu (i) penggunaan listrik, (ii) perilaku membuang sampah, (iii) pemanfaatan air, (iv) konsumsi barang,  dan (v) perilaku terkait emisi karbon.  Untuk mengetahui indeks perilaku peduli lingkungan, pada tahun 2012 KLH membuat survei di seluruh Indonesia. Hasilnya, perilaku masyarakat terhadap lingkungan masih kurang baik, yaitu 0.57 dari total 1. Perilaku yang baik ditunjukkan oleh penduduk di Provinsi Bali, DKI Jakarta, dan Sumatera Utara. 

Beberapa perilaku yang kurang peduli lingkungan yang ada dalam laporan survei tersebut (2013) antara lain tidak menggunakan lampu hemat energi (15.5%), menyalakan lampu di siang hari (24.1%), tidak memilah sampah (76.1%), membakar sampah (38.2%), limbah air rumah tangga dibuang ke kumpulan air bersih seperti sungai, kolam, rawa, laut (15.8%), serta tidak memanfaatkan air bekas cucian sayur/ buah/ daging/wudhu (75.7%).

Di akhir laporan survei KLHK, disampaikan bahwa pengetahuan dan sikap terhadap lingkungan berpengaruh terhadap perilaku terhadap lingkungan. Penelitian yang dilakukan oleh Halimatussadiah, Muhammad, dan Indraswari (2017) di kalangan siswa SMA di juga menunjukkan bahwa pengetahuan siswa tentang sampah berpengaruh terhadap perilaku mereka.

Temuan tentang pengetahuan akan sampah, masih ada 12.4% siswa yang pengetahuan tentang sampahnya hanya 50% atau kurang. Hanya 9.7% yang mempunyai pengetahuan antara 90-100% tentang sampah. Pengetahuan siswa tentang cara mengurangi sampah lebih sedikit lagi. Masih ada 46.3% siswa yang nilainya untuk cara untuk mengurangi sampah paling tinggi 25 dari total 100.

Kepada siswa juga ditanyakan tentang kepeduliannya terhadap sampah dengan cara menyusun 8 masalah yang ada di Bekasi menurut yang paling penting, yaitu pengangguran, kemiskinan, ketidakadilan, degradasi lingkungan, sampah, kriminalitas, kepadatan penduduk, dan transportasi umum. Siswa juga boleh menyebutkan masalah lain di luar 8 masalah yang ditanyakan.  Hasilnya, ada 89.2% siswa yang menyebut degradasi lingkungan dan atau sampah adalah tiga masalah utama di Bekasi. Tetapi kepedulian siswa yang tinggi ini tidak ditunjukkan dalam perilaku ramah lingkungan.

Ada empat perilaku ramah lingkungan yang diteliti oleh Halimatussadiah dkk, yaitu seberapa sering membawa makanan dari rumah, seberapa sering membawa botol air (bukan botol kemasan) dari rumah, seberapa sering menaruh sampah di tempatnya, dan seberapa sering memisahkan sampah organik dan anorganik. Dari empat perilaku tersebut, menaruh sampah pada tempatnya mendapat nilai tertinggi, disusul dengan membawa botol air minum sendiri dari rumah, membawa makanan sendiri dari rumah, dan yang rendah adalah memilah sampah organik dan anorganik.

Bila dibandingkan dengan antar kelas, perilaku terhadap lingkungan lebih baik pada siswa IPA daripada siswa IPS.  Siswa perempuan juga lebih baik perilaku terhadap lingkungan daripada siswa laki-laki. Hal itu mungkin disebabkan karena perempuan lebih banyak mendapat tugas untuk membersihkan rumah dan atau kelas daripada laki-laki.

Halimatussadiah dkk juga menemukan bahwa pengeluaran siswa berhubungan negatif dengan perilaku ramah lingkungan. Artinya, siswa dengan pengeluaran yang lebih sedikit, berperilaku lebih ramah lingkungan dibandingkan dengan siswa dengan pengeluaran yang lebih besar. Dalam tulisannya, Halimatussadiah dkk menyatakan bahwa temuan ini mendukung temuan Murad et al., (2012) bahwa kelompok yang berpenghasilan rendah cenderung mempunyai pandangan yang lebih baik daripada kelompok yang berpenghasilan tinggi.

Di akhir tulisannya Halimatussadiah dkk menyatakan bahwa sekolah perlu memasukkan isu sampah dan lingkungan ke dalam kurikulum, mendorong siswa laki-laki dan siswa dengan pengeluaran yang lebih besar untuk lebih peduli lingkungan dan diwujudkan dalam perilaku mereka.

 

Penulis adalah Dosen di FISIP-UI dan penggerak Lantan Bentala, sebuah organisasi nirlaba untuk kampanye lingkungan.

Editor : Trisno S Sutanto

Back to Home