Google+
Loading...
INDONESIA
Penulis: Sabar Subekti 11:48 WIB | Selasa, 08 Agustus 2017

Indonesia Jalur Perlawanan Radikalisme Asia Tenggara

Indonesia Jalur Perlawanan Radikalisme  Asia Tenggara
Wasekjen PBNU, Imam Pituduh, ketika menyampaikan ceramah di depan para pendeta dan calon pendeta di GKI Sinwil Jabar, Jakarta, hari Senin (7/8). (Foto-foto: Sabar Subekti/satuharapan.,com)
Indonesia Jalur Perlawanan Radikalisme  Asia Tenggara
Pimam Pituduh berfoto dengan sebagian peserta seminar yang membahas ancaman kedaulatan dan kebhinekaan di Indonesia.

JAKARTA, SATUHARAPAN.COM – Wakil Sekjen PBNU (Pengurus Besar Nahdlatul Ulama), H. Imam Pituduh, SH, MH, mengingatkan bahwa Indonesia berada pada jalur penting perlawanan terhadap aksi terorisme dan radikalisme di Asia Tenggara.

Berbicara dalam pertemuan dengan pendeta dan calon pendeta dari GKI Sinwil Jawa Barat, di Jakarta, Senin (7/8) malam, Pituduh mengatakan bahwa revolusi musim Semi Arab (Arab Spring) telah berkembang menjadi gerakan yang sangat mungkin akan sampai Indonesia, bahkan ada yang mengagendakan di Indonesia.

Situasi itu harus direspons bukan hanya oleh pemerintah dan aparat pertahanan dan keamanan, tetapi juga oleh seluruh komponen warga bangsa. Sebab, situasi itu menjadi semakin serius ditengah kolonialisasi digital, di mana arus informasi, termasuk yang negatif sersebar luas secara masif.

Dalam situasi sepertyi itu, ‘’paham yang salah dan salah paham bertebaran di mana-maka,’’ katanya. Dan untuk menghadapi itu, Indonesia harus mengembangkan kedaulatan informasi.

Darussalam Bukan Darul Islam

Pituduh menyebutkan bahwa gerakan radikalisme dan terorisme di Indonesia telah mengancam kedaulatan dan kebhinekaan Indonesia yang sebenarnya telah menjadi watak bangsa sejak dulu. Sekarang ini pandangan dan perilaku intoleransi telah diindoktrinasikan hingga pada anak-anak, bahkan terjadi di lembaga pemerintah dan sekolah negeri.

Namun, Wasekjen PBNU itu mengingatkan bahwa Islam yang sebenarnya adalah mengamanatkan untuk membangun negara damai dan beradab (Darussalam), bukan Darul Islam (Negara berdasarkan sayriat Islam) dan dengan kekerasan.

Menurut Pituduh, isu yang biasanya diangkat adalah tentang anti pluralisme, anti pemerintah, krisis identitas, dan Anti Ahok dalam pengertian menolak pemimpin yang bukan seidentitas.

Untuk mengatasi hal itu yang tersebar melalui teknologi digitas, PBNU sendiri telah membentuk Cyber Army, dan menurut dia seluruh warga bangsa haruslah menjaga keutuhan Indonesia dengan juga tergabung dalam upaya pencegahan ini dengan menyebarkan informasi yang benar.

Editor : Sabar Subekti

Back to Home